Mohon tunggu...
Mayek Prayitno
Mayek Prayitno Mohon Tunggu... Seniman - Seniman dan penulis seni rupa

Suka science fiction

Selanjutnya

Tutup

Seni Pilihan

Krisis penghayatan

23 April 2024   00:28 Diperbarui: 23 April 2024   00:38 56
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seni. Sumber ilustrasi: Unsplash


Krisis penghayatan, peribahasa dan era kontemporer

Oleh : Mayek Prayitno

Ratusan tahun yang lalu kebudayaan Jawa dibentuk dan ditempa oleh berbagai dinamika pengaruh asing, ketika penetrasi jalur perdagangan kuno terbuka dan penyebaran aktifitas manusia yang semakin massif datang membawa berbagai kepentingan. Biasanya berniaga dan menyebarkan agama, sampai dimasa paling epik berubah menjadi "penjajahan" lalu muncul gejolak peperangan. Tak pelak, akulturasi dan difusi budaya tak bisa dielakkan sehingga menyebabkan hibridasi ajaran, ideologi dan kronik masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat atau orang - orang Jawa terbuka akan sesuatu diluar "diri"nya,  bahkan sesuatu yang asing itu "merusak" sekalipun. Tak heran orang Jawa memiliki ungkapan filosofis "ojo gumunan, ojo gampang kagetan", yang artinya tidak mudah terkesima atau tidak terheran - heran. Sikap ramah dan mudah menerima pada orang Jawa membentuk identitas yang khas dengan sendirinya.

Tidak hanya itu, identitas orang - orang Jawa lainnya juga dipengaruhi pandangan atas kehidupan dan eksistensi alam semesta. Gagasan ini berasal dari sinkretisme kepercayaan lokal, agama Hindu - Budha, Islam dan Kristen, yang mana disebut kepercayaan atau spiritualitas Kejawen. Sebagai filsafat Jawa ajaran ini memuat seperangkat nilai - nilai, etika, moral dan keyakinan mutlak atas Tuhan Yang Maha Esa. Melalui ajaran ini, falsafah "Sangkan Paraning Dumadi" adalah salah satu renungan yang memiliki esensi penghayatan akan hidup, bahwa awal mula, tujuan, penciptaan semesta atau kehidupan ini berawal dan berakhir hanya oleh Tuhan. Selain itu, penghayatan transenden ini juga tumbuh dalam diri manusia Jawa yang dikatakan sebagai "Manunggaling Kawula Gusti" yakni meleburnya manusia dengan Tuhan dalam pengertian yang paling filosofis dan mistis, berserahnya diri pada yang memiliki kehidupan atau sebuah kesempurnaan untuk mencapai entitas Tuhan.

Dalam menuju spiritualitas paripurna ini, laku kebatinan merupakan sikap dan tuntutan mutlak bagi mereka yang mau menjalankan, dengan mengontrol diri dan menghindari nafsu duniawi. Lebih dari pada itu, dunia makro dan mikro, batin manusia atau roh adalah hakikat puncak dari spritualitas Kejawen. Sebuah jalan yang mengupayakan keselarasan atau keseimbangan antara alam, manusia dan Tuhannya. Seperti ungkapan "mati sajroning urip, urip sajroning pati" (mati dalam hidup - hidup dalam mati). Sebuah kiasan yang mengutamakan jiwa diatas raga, rasa diatas logika. Menurut Frank Magnis Suseno, "paham Sangkan Paran merupakan inti spekulasi mistik Jawa, Sangkan Paran hanya dapat tercapai apabila dijadikan tujuan satu - satunya dan apabila manusia bersedia untuk melawan segala godaan alam luar, meski ia tetap harus melakukan kewajiban - kewajibannya dalam dunia yang ditentukan oleh nasib". Dengan wujud dunia lahir, subyektifitas batin atau emosi diartikulasi dan dikenali melalui tindakan, perilaku, pitutur dan sebagainya.

Pada laku becik, sikap dan tindakan kerapkali menjadi pusat perhatian dalam hidup keseharian orang Jawa. Untuk menghindari penyimpangan perilaku, ada upaya mengingatkan kembali kesadaran agar kembali kejalan yang lurus dan benar melalui peribahasa, pepatah atau sanepo. Peribahasa ini tertanam dalam ingatan kolektif orang Jawa sampai sekarang. Meskipun begitu, falsafah - falsafah yang penuh metafora dan kedalaman makna sebagai tuntunan dan renungan hidup ini sudah banyak ditinggalkan di dunia modern yang praktis - demokratis, karena modernisasi menawarkan godaan hasrat duniawi yang lebih kuat biusnya dan lebih rumit problemnya dibanding menajamkan batin. Ditengah kompleksitas itu, penerimaan kondisi hidup tak bisa dihindari. Kenyataan mau tidak mau harus diterima sebagaimana adanya dalam situasi dan kondisi apapun sesuai batas kemampuan manusia menjalani hidup. Cerminan itu dalam ungkapan Jawa berbunyi "Urip sak dermo nglakoni" atau hidup hanya sekedar menjalani oleh apa yang sudah ditentukan garis takdir.


Mungkin terkesan pesimis, namun ungkapan ini memiliki kandungan teleologis. "Urip sak dermo nglakoni" adalah garis hidup yang sudah ditentukan, bertujuan dan berserahnya diri kepada Tuhan. Konsep sederhana yang memiliki kedalaman dan relevansi jaman ini merupakan salah satu renungan gagasan yang ingin disampaikan oleh Syaiful Amin dalam pameran tunggalnya kali ini. Sebagai orang Jawa tulen, ia salah satu seorang pelukis yang menghayati ajaran - ajaran falsafah Jawa. Baginya, falsafah Jawa masih related dengan kondisi jaman sekarang yang dipenuhi silang sengkarut media sosial, samarnya tujuan hidup dan perilaku menyimpang akibat perubahan jaman. Sejauh pengalaman hidupnya, ia sering melakukan pengamatan - pengamatan perihal gejolak hidup sehari - hari. Dalam riset sederhana ini, ia banyak menemukan perilaku - perilaku yang tidak berkesesuaian dengan ajaran atau penghayatan falsafah Jawa yang sudah diwariskan secara genealogis.

Untuk sampai sedalam itu, penghayatannya terhadap hidup keseharian sangat mempengaruhi proses berkaryanya. Syaiful Amin telah mengadaptasi dan memparodikan ungkapan - ungkapan falsafah Jawa itu dengan segar, hingga memiliki implisitas kandungan makna yang berbeda dan baru. Makna berbelok, bias berubah menjadi sarkas. Ini bisa kita temui dalam karya berjudul "Tiwas edan ora keduman" plesetan dari ungkapan " Jaman edan, ora edan ora keduman" atau "Rame ing pamrih, sepi ing gawe" (sedikit bekerja, banyak maunya), berasal dari ungkapan "Sepi ing pamrih, rame ing gawe" (sedikit pamrih, banyak bekerja). Ia menangkap begitu banyak hal atas fenomena yang sedang terjadi, baik dari dunia politik, sosial dan ekonomi. Banyak orang melakukan "kegilaan - kegilaan" (edan) untuk mendapatkan sesuatu demi kepentingan pribadi yang biasa kita saksikan lewat media sosial ataupun televisi.

Plesetan ungkapan lainnya juga dilukiskan dalam karya bertitle "Kumpul gak kumpul makan" yang disimbolisasikan beberapa figur perempuan, ada yang berinteraksi, ada juga yang berjarak dan terpisah dengan posisi yang berbeda - beda satu sama lain, diimbangi komposisi simetris yang memenuhi bidang kanvas, tampilannya bernuansa warna biru segar. Karya ini merepresentasikan menguatnya gejala apatisme dan individualitas masyarakat. Dahulu masyarakat hidup dalam ikatan tradisi, bersikap egaliter, bergotong royong, bertegang rasa dan bersama - sama melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama. Unen - unen versi aslinya adalah "Makan gak makan asal kumpul". Hal berkumpul ini juga tervisualisasi dalam karya "Kebo kumpul" yang menyoal perilaku fetish dan seksualitas. Sindiran bagi pergaulan jaman sekarang yang hidup bersama tanpa menikah dan hanya sekedar terikat ilusi cinta.

Meski demikian, manusia yang didorong hasrat psikis dan fisiologis ditakdirkan untuk saling mencinta dan menyayangi. Mereka akan berpasangan, membuat komitmen sepanjang hidup mereka dan terkadang pula mengalami kegagalan ditengah jalan dalam menunaikan ikatan cinta. Gagasan hidup berpasangan ini disinggung dalam karya "Bidadariku" yang terinspirasi dari ungkapan "Suwargo nunot, neroko katut" (menumpang kesurga, ke neraka pun ikut juga). Unen - unen ini biasanya ditujukan bagi pasangan yang sudah berumah tangga, bahwa baik - buruknya pemimpin keluarga akan mempengaruhi anggota keluarga lainnya atau dalam pandangan patriarki, seorang istri mutlak patuh kepada suami yang memimpin arahnya rumah tangga. Seiring dinamika dan bergesernya pola pikir dengan kemunculan ide emansipasi pepatah ini juga ikut berubah arahnya. Ia juga bisa digunakan dalam konteks kepemimpinan berbangsa dan bernegara.

Sementara teguran lainnya juga disampaikan dalam karya berjudul "Tarian Jawa". Karya ini semacam alegori tentang orang tua yang sangat menjaga anak - anaknya agar tidak larut dalam pergaulan yang bebas waktu. Anak - anak adalah penerus, keberlangsungan spesies dan pengirim DNA di masa depan. Mereka berhak untuk dididik dengan disiplin yang baik dan mendapatkan gizi yang cukup, sehingga kelak dikemudian hari mereka menjadi orang - orang berkarakter dan bermanfaat bagi sesamanya. Namun, menjaga aset ini selalu menemukan tantangannya tersendiri, kala sihir tekhnologi informasi luber memenuhi setiap jengkal kehidupan mereka, mengubah sifat dan perilaku mereka. Konten inilah yang mencoba dibicarakan dalam karya berjudul "Dekat dimata, jauh dihati". Kisah dampak dari pemakaian media sosial yang terlampau berlebihan. Dimana tradisi komunikasi verbal, digantikan chat digital. Menjauhkan yang dekat, karena meraka tidak saling komunikasi secara langsung, sekaligus mendekatkan yang jauh melalui teks.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun