Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya - Lainnya

Penyuka musik, buku, kuliner, dan film.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerpen] Garis Tuhan

29 Juli 2016   15:18 Diperbarui: 30 Juli 2016   03:47 246
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi : www.icr.org

Buket bunga krisan putih dalam vas tanah liat itu, masih terlihat segar ketika diganti dengan yang berwarna ungu oleh seorang gadis muda yang kini tengah memanjatkan doa di samping gundukan tanah merah yang masih basah. Basah oleh air yang kemarin jatuh dari banyak mata dan masih menggenang dalam relung relung hati yang kehilangan.

Anna, gadis berusia 17 tahun itu menundukkan kepalanya dalam. Air mata tak henti nya mengalir dari kedua matanya. Sebuah penyesalan menggumpal dalam dadanya.

"Maafkan aku." Gadis itu berkata lirih diantara isakannya lalu melangkah pergi, berjalan di antara guguran bunga kamboja yang masih mewangi.

Langkah Anna terhenti ketika kaki nya yang terlindung flat shoes merasakan sesuatu yang ganjil. Perlahan ia angkat kaki kanan nya, ada sebuah benda yang tergeletak di sana. Anna membungkuk lalu mengamati benda itu. Sebuah kacamata bergaya klasik berbingkai kayu dengan ukiran yang sangat elok seakan melambai ingin di raih.

Dengan hati hati Anna memungut benda itu. Tak ada retakan atau goresan yang ditemukan, sekalipun benda itu terinjak olehnya. Anna tertegun, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang tengah mencari benda itu. Namun Anna tidak melihat seorang pun di sana. Akhirnya dengan hati hati, gadis nan semampai itu memasukkan kacamata tersebut ke dalam tas nya.

***

Malam itu langit terlihat cerah, bintang bintang berkerlip bagaikan taburan berlian yang menyelimuti mahkota seorang putri raja. Anna menatap sebuah bintang yang berpendar di ufuk timur dari jendela kamarnya yang ia biarkan terbuka lebar.

Andai saja waktu bisa di putar kembali. Saat ini, aku pasti ada di sisi mu, menemani mu menatap bintang yang sama. Bintang favorit kita.

Air mata kembali mengalir dari kedua mata gadis yang kini tengah memeluk sebuah buku harian itu. Sebuah ketukan di pintu membuatnya bergegas menghapus air matanya. Dengan terburu buru pula, ia menjejalkan buku harian itu ke dalam tas yang tergeletak di atas meja belajar. Seorang wanita paruh baya tersenyum dari balik pintu lalu menghampirinya.

"Mama kira kamu sudah tidur. Ini ada titipan buku dari Gege."

Anna menerima buku latihan soal yang di pinjam temannya itu dari tangan mama nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun