Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ken dan Pintu yang Hilang

3 Agustus 2020   16:42 Diperbarui: 3 Agustus 2020   17:40 134 31 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ken dan Pintu yang Hilang
Gambar diolah dari www.pexels.com

Braak!

Pintu itu tertutup dengan keras, beberapa kata umpatan masih terdengar jelas di telinganya.

Ken menatap rumah besar itu untuk terakhir kalinya. Rumah yang telah menaunginya selama 23 tahun terakhir.

Pemuda itu tahu bahwa keinginannya akan ditentang ayahnya. Tapi ia tetap mengatakannya juga. Ia tak tahan dengan semuanya, selama ini ia telah menuruti segala yang diperintahkan ayahnya bahkan mungkin sejak ia berada dalam kandungan ibunya.

Sang ayah telah menempatkan kepentingannya yang belum tercapai kepadanya. Sebentuk mimpi orang tua yang terkadang membuatnya merasa bahwa hidupnya bukanlah untuk dirinya sendiri.

Lima tahun sudah ia berkecipung dengan kuliahnya yang sama sekali tak ia minati. Beberapa bulan lagi ia akan menuntaskan segalanya. Gelar sarjana tehnik arsitektur akan segera ia sandang. Namun Ken tak menginginkan itu karena semua itu telah membuatnya gila.

"Pergi, dan jangan pernah kembali! Kamu bukan anak ayah lagi."

"Jalanan tak akan mengasihimu dan membuatmu menjadi orang sukses. Anak bodoh, jangan pernah berani menemui ibu dan kakakmu.  Rumah dan keluarga ini telah menutup pintunya buat anak tak berguna sepertimu."

Apa yang dikatakan ayahnya beberapa menit lalu masih memenuhi gendang telinganya. Ken menghela nafas panjang, ia tahu akan begini jadinya namun itu tak membuatnya gentar.  

***
Sinar temaram menghiasi kedai kopi yang menyambutnya dengan pintu terbuka. Ken menjejakkan kakinya mantap. Ia sudah membuat keputusan, dan ia tak akan mundur barang sejengkal pun.

Ken terhuyung, punggungnya lelah menahan beban berat dari back packnya yang menggembung. Sejenak ia meletakkan kotak yang berisi benda kesayangannya sementara matanya mencari seseorang.

Pemuda jangkung itu akhirnya menemukannya. Sekian lama tak bertemu dengannya tak membuatnya lupa akan wajah tirus teman masa kecilnya itu. Teman yang membuatnya berani mengambil keputusan penting dalam hidupnya walau hanya lewat panggilan telepon di tengah malam buta.

"Kamu sudah memikirkan semuanya?" Tanya Ryu untuk kedua kalinya.
Ken mengangguk.

"Aku tidak memaksamu Ken. Tapi bila situasinya menjadi seperti sekarang ini, aku jadi merasa bersalah."

"Jangan merasa bersalah Ryu, aku yang membuat keputusan. Ini hidupku."

"Kamu tidak harus meninggalkan kuliahmu, kita akan sesuaikan jadwalnya."
Ken tersenyum tipis.

"Aku meninggalkan semuanya karena aku tahu bahwa inilah hal yang paling aku inginkan dalam hidupku."

Ryu hanya bisa mengangguk mendengar semua ucapan Ken.

***
Ryu, Hiro, dan Yuki ternganga melihat buku yang terbuka lebar di hadapan mereka.

"Kamu yang menulis semua ini?" Yuki membuka lembar demi lembar buku berjilid kawat spiral itu.
Ken mengangguk.

Ryu tersenyum, "Aku tak menyangka kamu masih melakukannya."

"Jejak kehidupanku, semuanya ada di situ." Ken memetik gitar akustik milik Ryu.

"Terima kasih ya, kamu sudah mau terlibat. Di satu sisi aku merasa bahagia tapi di sisi lain aku merasa berdosa." Ucap Ryu sambil menerima gitar yang Ken ulurkan kepadanya.

"Sudahlah kawan, jangan pernah membicarakan ini lagi. Berjanjilah." Ken menatap temannya tajam yang membuat Ryu harus mengangguk berkali-kali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x