Mohon tunggu...
Ibrohim Abdul Halim
Ibrohim Abdul Halim Mohon Tunggu... Konsultan - Mengamati Kebijakan Publik

personal blog: ibrohimhalim.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Investasi ala Buffet Untuk Jaga Stabilitas

29 Juni 2020   08:47 Diperbarui: 29 Juni 2020   08:45 137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di tengah pandemi, krisis seakan tak bisa dihindari. Ekonomi memang melambat karena perdagangan riil loyo sehingga pertumbuhan ekonomi terkoreksi, tapi setidaknya kita masih punya satu kabar baik: indeks saham masih relatif bisa bertahan.

Dikatakan bisa bertahan karena memang IHSG seperti sudah melewati tingkat terendahnya di bulan Maret. Indeks sempat menyentuh level tertinggi sepanjang tahun ini di bulan Januari pada level Rp 6.325, dan mencapai level terendah di bulan Maret pada level Rp 3.937. Tercatat penurunan dari perdagangan awal tahun sebesar 37%.

Penurunan tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan yang terjadi saat krisis 1997-1998 dan krisis 2008. Pada Desember 1997, IHSG mengalami penurunan 54,17%, menguat kembali awal tahun 1998, lalu terjun 53,6% kembali pada September 1998. Pada tahun 2008, IHSG mencapai level terendah dalam beberapa tahun, dengan penurunan hingga 60,73%.

Adapun tahun ini, sekalipun sempat turun 37% di masa awal Pandemi, proses transisi new normal telah berhasil mengembalikan perdagangan ke level yang wajar, berada di level terjaga 4.800-5.000. Akhir pekan kemarin (26/6), IHSG ditutup naik 0,15% ke level 4.904.

Meskipun berkinerja positif, ada satu hal yang mengkhawatirkan: aksi jual asing. Dari transaksi Rp 5,67 Triliun di hari itu, modal asing mengalir cukup deras hingga Rp 698,5 Miliar.

Secara total, capital outflow dari Januari hingga Maret 2020 telah mencapai Rp 145 Triliun. Aliran modal asing ini lebih besar dari periode krisis 2008 dan taper tantrum 2013, di mana pada tahun tersebut capital outflow hanya terjadi sebesar Rp 69,9 Triliun dan Rp 36 Triliun.

Penarikan modal asing yang masif bisa punya dua dampak besar, yakni pada kinerja nilai tukar dan pada kinerja perusahaan itu sendiri.

Aliran modal asing yang keluar tentu menciptakan pelemahan nilai tukar rupiah. Pada Februari 2020, rupiah masih kuat berada di area Rp 14.318 per dolar AS. Adanya capital outflow di bulan Maret menyebabkan Rupiah melemah dan mencapai titik terendah dalam 5 tahun terakhir pada 2 April 2020 hingga level Rp 16.741 per dolar AS.

Pelemahan kurs tentu berdampak langsung pada industri, karena kurs yang melemah menyebabkan biaya impor menjadi semakin mahal. Perusahaan akhirnya dihadapkan pada kondisi di mana permintaan turun dan mahalnya harga bahan baku. Dampaknya, mereka melambatkan produksi. Ini bisa dilihat dari hasil survei BPS Mei 2020, di mana impor bahan baku turun hingga 35%.

"Pelambatan produksi" adalah bahasa halus dari pengurangan bonus, pengurangan gaji, atau bahkan pemutusan hubungan kerja untuk sebagian karyawan.

Selain pengaruh terhadap kinerja nilai tukar, penarikan modal asing juga bisa mempengaruhi kinerja perusahaan itu sendiri. Memang harga saham secara umum tidak mempengaruhi operasional perusahaan, karena lebih dipengaruhi tarikan supply-demand di pasar. Namun, jika harga saham turun terlalu rendah akibat masifnya outflow, bisa terjadi setidaknya dua dampak.

Pertama, dalam situasi krisis, kebutuhan modal perusahaan mungkin meningkat. Sebagai perusahaan publik, yang bisa dilakukan adalah melepas saham. Apabila harga saham rendah, maka jumlah saham yang harus dilepas harus lebih tinggi. Ini menjadikan ongkos modal menjadi semakin mahal.

Kedua, jika saham turun sangat rendah, ada kemungkinan akuisisi oleh investor yang memang berpengalaman surfing di tengah gelombang pasang. Misal, pada 2019 lalu Multistrada (MASA), sebuah perusahaan ban lokal, diakuisisi oleh Michelin sebesar 80% "hanya" dengan harga Rp 6,23 Triliun. Padahal, penjualan bersih perusahaan itu saja hampir mencapai Rp 4 Triliun per tahun. Ini terjadi karena harga saham MASA pada waktu itu sedang anjlok.

Masalahnya, saham-saham yang dilepas asing kebanyakan adalah saham BUMN, terutama perbankan. Jika turun terlalu dalam, selain potensi akuisisi yang mungkin masih jauh, perusahaan mungkin mempertimbangkan untuk meningkatkan dividen, karena secara konvensional dividend payout ratio (dpr) masih dianggap mampu meningkatkan harga saham. Dampaknya kemampuan bank plat merah untuk menyalurkan uang ke masyarakat akan menurun.

Pada akhirnya, melalui dua jalur tadi, penarikan modal asing bisa sangat berdampak pada stabilitas sistem keuangan: nilai tukar melemah, kinerja perusahaan menjadi payah, kebutuhan modal meningkat, tapi biayanya mahal. Pemerintah akhirnya harus turun tangan dengan mengucurkan dana talangan BUMN sebesar Rp 143,63 Triliun, yang membuat defisit semakin lebar.

Oleh karena itu, investor domestik harus berperan. Penarikan modal asing menjadikan porsi saham investor domestik pada April 2020 naik mencapai 50,2%, artinya sudah menjadi mayoritas di negeri sendiri. Besarnya porsi investor domestik bisa menjadi peredam kejut ketika terjadi kepanikan investor global dalam suasana ketidakpastian. Dan inilah yang membuat dampak capital outflow tahun ini tidak sebesar pada 2008.

Investor domestik harus cerdas berperilaku di bursa. Mungkin kebijaksanaan konvensional Buffet penting untuk terus diingatkan dalam kondisi hari-hari ini: beli perusahaan sesuai kinerjanya. Tahan kepemilikan untuk mendukung perusahaan. Hindari irasionalitas pasar dan spekulasi, apalagi jika hembusannya datang dari luar.

Dalam periode 1960-an, Buffet mengalami kebingungan. Pasar berada dalam fase di mana harga tinggi untuk perusahaan yang dihargai terlalu mahal merupakan hal yang lumrah, dan setiap orang berlomba masuk pasar untuk ikut dalam permainan jangka pendek serta membeli perusahaan yang tidak mereka kenal kinerjanya. Padahal, filosofi Buffet yang sudah dia jalankan sejak awal karir adalah masuk pada bisnis yang kinerjanya baik dan menilainya setidaknya tiga tahun.

Lantas apa yang dilakukan? Dia dengan tegas menolak pendekatan investasi yang mengupayakan untuk membaca sentimen pasar ketimbang menilai sebuah bisnis. Ia fokus melihat kinerja perusahaan di jangka panjang, sekalipun dicemooh sebagai investor yang pasif. Hasilnya, di tahun 1967 di mana perdagangan jangka pendek menjadi marak, ia membukukan return 35,9%, jauh di atas Dow Jones yang hanya 19%.

Artinya, investor domestik selain harus cerdas menentukan portofolio, juga harus memberikan kepercayaan pada perusahaan, terutama perusahaan dalam negeri yang memegang sektor vital. Dengan kepercayaan tersebut, perusahaan akan berada dalam suasana yang lebih stabil, sehingga bisa berkinerja dengan baik. Pada akhirnya, kinerja baik tersebut juga akan kembali pada investor dalam bentuk kenaikan harga saham.

Dengan kebijakan makroprudensial yang aman terjaga dan investor domestik yang cerdas berperilaku, krisis ini pasti akan berlalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun