Mohon tunggu...
Hikmat Gumelar
Hikmat Gumelar Mohon Tunggu... Freelancer - Esais

Direktur Institut Nalar Jatinangor, esais. Kini berdomisili di Kabupaten Bandung.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tulisan Beracun

18 Desember 2020   08:58 Diperbarui: 18 Desember 2020   09:03 380
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dari situ, teranglah bahwa tugas jurnalis tulis adalah "meracuni pembaca". Meracuninya "dengan kredibilitas dan dengan irama", dengan "cerita lengkap, rekontruksi utuh sebuah peristiwa" yang setiap detilnya punya makna.

Dengan tulisan demikian pembaca terhipnotis. Dan sehabisnya, cakrawala pembaca meluas. Pengetahuan dan daya analisanya bertambah. Langkahnya pun tegap menempuh jalur temuan penalarannya yang menginsyafi konpleksitas.

Syarat untuk menulis sebagai aksi menghipnotis pun terang sudah. Untuk dapat merangkai cerita lengkap, untuk dapat merekontruksi secara utuh peristiwa, untuk mendapatkan setiap detil yang bermakna, jurnalis tak bisa hanya dengan mengangkat telepon dari kantor redaksi. Ia harus turun ke lapangan yang kotor. Melakukan pengamatan yang terarah dan cermat. Mewawancara sumber pertama dengan plastis dan jeli. Dan mengupayakan untuk melakukan riset dokumentasi dengan teliti. Menempuh proses demikian memungkinkan jurnalis juga tidak hanya sampai di peristiwa atau kejadian dalam kehidupan sosial, melainkan dapat mengendus gejala sosial.

Kesanggupan mengendus gejala sosial tersebut memungkinkan si jurnalis dapat mengidentifikasi dan memilih fakta secara jernih dan kritis. Juga dapat menjadikan pancaindra jurnalis menjadi lebih peka, hal yang penting baik untuk mengakses ke dalam kompleksitas  realitas atau untuk merekontruksi peristiwa dengan setiap detil yang bermakna.

Namun, semua temuan tersebut barulah bermakna jika si jurnalis kemudian berhasil menuliskannya dengan menulis sebagai aksi menghipnotis. Di atas, Gabo mengucap bahwa untuk menghipnotis pembaca, selain "dengan kredibilitas", adalah juga "dengan irama". Yang dimaksudkannya tentulah bukan dengan rangkaian kata yang mendayu-dayu. Yang dimaksudkannya lebih sebagai tuntutan agar jurnalis menulis dengan mengerahkan pelbagai daya bahasa, termasuk daya musikalnya.

Pengerahan pelbagai daya bahasa memungkinkan bahasa menyelami dan mendedahkan lapisan dalam realitas bukan saja dengan dayanya menciptakan pengertian yang menyasar nalar, tapi juga dengan menerbitkan berbagai asosiasi yang membangkitkan pancaindra. Penerbitan berbagai asosiasi ini pun bukan gaya-gayaan belaka, tapi justru demi akurasi. Rekontruksi peristiwa dengan begitu bisa menjadi lebih setia, meyakinkan, dan menggerakkan pembaca ke arah kebaikan bersama.

Pemungkin mewujudnya tulisan jurnalis seperti itu bukan saja kompetensi teknis yang merupakan hasil latihan yang sistematis dan disiplin dari hari ke hari selama bertahun-tahun, tapi pun praktik etis, pengamalan etika. Terkait bahasa misalnya. Kita tahu bahasa adalah lembaga sosial. Keberadaannya menentukan kehidupan seseorang, menentukan kehidupan sekelompok orang, menentukan kehidupan sebuah bangsa, menentukan kehidupan seluruh umat manusia. Maka ketika jurnalis meningkatkan daya bahasa dalam menerangi lapisan-lapisan realitas, teranglah ia memenuhi tanggung-jawabnya selaku manusia terhadap kemanusiaan.

Dan pemenuhan tanggung-jawab itu dicapainya pula dengan membikin pembaca terhipnotis. Inilah yang, maaf beribu maaf, baru sampai di harapan ketika saya membaca tulisan demi tulisan para peserta lomba menulis jurnalistik Kabupaten Karo. Kita agaknya mau tidak mau harus bekerja keras dan disiplin untuk memungkinkan para jurnalis masing-masing punya antena.

Keharusan tersebut bisa jadi berat. Namun, dari Shimmen Takezo ke Miyamoto Musashi, dicapai Musashi dengan sedikitnya tiga tahun tidak melihat matahari. Selama tiga tahun, di sebuah kamar yang lembab dan nyaris gelap di menara Puri Himeji, Musashi tidak pernah pula bicara dengan siapa pun. Setiap hari ia melulu membaca buku-buku dan merenung. Inilah yang membuatnya lahir sebagai manusia baru.

Manusia yang memilih setia menempuh Jalan Pedang, sebuah jalan yang bukan saja "tidak makan dengan pedang, tapi dengan sumpit", melainkan terutama sebuah jalan, seperti dikatakan samurai tak bertuan yang sampai akhir hayatnya selalu memenangkan pertempuran itu, "untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bijaksana." Perubahan personal ini tampak remeh memang. Namun Yoko Ono mengucap,

"Mengubah diri sendiri adalah mengubah dunia."

Yoko Ono di pameran Double Fantasy di Liverpool. Foto oleh Mark McNulty.
Yoko Ono di pameran Double Fantasy di Liverpool. Foto oleh Mark McNulty.
Betul bahwa jurnalis bukan samurai. Namun Subcomandante Marcos berkata, "Kata adalah senjata." Dan terutama dengan senjata itulah, senjata kata itu, Marcos, yang sarjana filsafat, diakui dunia berhasil memimpin gerakan petani adat di negara bagian Chiapas, Mexico tenggara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun