Mohon tunggu...
Bimsa
Bimsa Mohon Tunggu... Pengarang Novel

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Time For Us : Ep.4 Dua Jam dengan Kimia

5 Januari 2020   12:00 Diperbarui: 21 Januari 2020   10:39 83 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Time For Us : Ep.4 Dua Jam dengan Kimia
seragam-rabu-5e116bf1097f3634f667d9c4.jpg

Meja belajarku berada di sebelah jendela kamar dengan tirai berwarna putih. Dia terbuat dari kayu berwarna coklat dan cukup muat untuk meletakkan buku-buku gambarku yang tebal dan beberapa sketsa  yang belum sempat kuwarnai. Disebelahnya ada dua wadah dari plastik tempat dimana aku menaruh spidol dan brushpen warna-warni yang sudah tidak muat lagi saat ini, sepertinya aku membutuhkan wadah baru. 

Tepat di depan meja terlihat banyak stick note yang kutempel dan  semakin bertambah banyak beberapa hari ini. Stick note itu seperti memaksaku untuk melihat list tugas yang bahkan  aku tulis sendiri tapi aku sering cuek untuk hanya melihatnya sebentar dan malah beralih ke sketchbooku. Tentu saja aku punya buku pelajaran, kuletakkan mereka di pojokan rak sebelah meja belajar, menumpuknya dengan rapi dari yang besar hingga kecil.

Aku memutar posisi dudukku di kursi meja belajar. Ini benar-benar membuatku terus memikirkan tentang les nanti malam. Bagaimana bisa ibu menentukan waktu dengan tiba-tiba tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Kubangkit dari kursi dan melempar tuburku ke atas kasur sambil melihat gambar-gambar yang kutempel di dinding kamar. Kurasa aku mulai mengantuk karena terlalu banyak mengambil makan siang tadi, belum lagi terkena angin dari kipas yang kupasang di meja belajar. Meja menggambar maksudku. Melelahkan. Kuambil ponsel yang berbunyi dari meja kecil sebelah kasur, ada yang menelpon. Tasya.


"Kenapa?" Kataku malas sambil rebahan

"Hei, kau nanti selo jam berapa?" Tasya berkata seperti berada di jalanan

"Ha? Mau ngapain?"

"Tugas matematikamu anjir!, mau kubantu,nggak?"

"Oh itu, tapi jangan malam ini lah, nanti malam aku mulai les di rumah"

"Ha? Sungguh??"

"Iya,bawel. Besok aja deh buatnya"

"Oh..ok, tapi nanti aku mampir kerumahmu deh habis dari toko buku sama Salsa"

"Terserah deh, Sya" Jawabku singkat sebelum menutup telpon

..........

Sepertinya sudah hampir setengah jam  aku duduk di bangku ruang tamu depan dengan Pak Edi, guru privatku. Penampilannya cukup sederhana, dia memakai baju seperti orang kantoran yang kuno berwarna putih dan berkerah, memakai kacamata dengan bingkai berwarna coklat, dan aroma parfumnya tercium sangat mirip dengan milik ayahku. Selera orang tua memang cukup rendah dalam hal wewangian. 

Pak Edi mengajar kimia, matematika, dan fisika, tapi untuk malam ini dia akan mengajarkanku kimia selama dua jam penuh. Astaga, dua jam dengan mata pelajaran yang benar-benar aku tidak sukai. Saat menjelaskan materi, beliau menggunakan papan tulis berwarna putih kecil dan spidol merek snowmin miliknya, biar lebih jelas menerangkan materi katanya. Dan satu lagi, dia membawa satu map plastik berisi kumpulan soal yang pastinya nanti akan diberikan padaku, soal-soal yang susah-susah itu.

Hampir satu jam dan aku benar-benar belum memahami betul materi apa yang disampaikan Pak Edi, terutama penggunaan rumus pada soal. Entah aku yang salah atau memang beliau yang kurang baik dalam menyampaikan materi. Padahal aku mendengarkan setiap penjelasan dari ucapannya yang pelan-pelan, sepertinya Pak Edi mengimbangi otakku yang berjalan seperti kukang. 

Tapi kurasa Pak Edi cukup baik dan sabar menghadapi aku yang cukup rewel dan bertanya berulang-ulang karena tidak paham sama sekali, bahkan beliau sampai membahas ulang materi kimia kelas satu SMA. Astaga, aku sungguh parah. Kadang aku masih tidak paham namun berlaga mengerti dan mencoba untuk tidak bertanya, aku tau akan jadi panjang nanti waktunya.


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN