Mohon tunggu...
Henri Satria Anugrah
Henri Satria Anugrah Mohon Tunggu... Blogger di pikirulang.id

Mahasiswa psikologi. Menulis tentang pengembangan diri, kesehatan, agama, dan isu-isu sosial | Kontak = IG: @henrisatria, Twitter: @henrisar, E-mail: henrisatria@pikirulang.id

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Ingin Selalu Sehat Mental? Jangan Pernah Melampiaskan Marah!

9 Oktober 2019   17:54 Diperbarui: 9 Oktober 2019   19:39 0 1 0 Mohon Tunggu...
Ingin Selalu Sehat Mental? Jangan Pernah Melampiaskan Marah!
Ilustrasi orang marah, sumber: pixabay.com

Dalam menjalani kehidupan, seluruh manusia pasti pernah merasakan marah. Ada saja hal-hal yang membuat seseorang menjadi marah, misalnya yang paling sederhana, yaitu lupa di mana menaruh HP ketika ingin menghubungi orang tua untuk suatu keperluan atau menanyakan sesuatu; atau yang paling buruk seperti mendapat hasil buruk dalam suatu ujian sekolah. 

Hal ini membuat manusia cenderung melampiaskan kemarahannya, seperti berkata kasar atau memukul suatu benda, yang biasanya berujung pada rasa sakit, rusaknya suatu benda, dan penyesalan lainnya.

Marah merupakan emosi alamiah yang membuat seseorang merespons ancaman mental dan mencegah depresi (Puff, 1999). Marah dapat terjadi pada siapapun, kapanpun, dan di manapun terlepas dari ras, suku, agama, usia, budaya, dan tingkat pendidikan dari seseorang. 

Jika tidak tidak dikendalikan, marah dapat membuat seseorang merusak benda-benda dan menyakiti orang-orang yang ada di sekitarnya, yang bahkan tidak tahu apapun mengenai kemarahan yang sedang diderita orang yang sedang marah.

Dewasa ini, telah tersebar di masyarakat ajaran yang mengajarkan bahwa marah harus dilampiaskan agar individu merasa lega. 

Padahal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Bushman (2002), melampiaskan kemarahan seperti memukul suatu benda dan berteriak sama sekali tidak menurunkan kemarahan, tetapi malah meningkatkan kemarahan itu sendiri dan membuat seseorang menjadi lebih agresif. 

Dari sisi sosial, melampiaskan kemarahan akan membuat individu dianggap sebagai orang yang negatif, yang membuat orang lain takut dan enggan untuk dekat individu tersebut.

Di samping itu, melampiaskan kemarahan dapat membahayakan pikiran (mental), di antaranya: gangguan tidur (Hisler & Krizan, 2017); konsentrasi berkurang, kurang kontrol dalam berkendara, meningkatkan kemungkinan kecelakaan ketika berkendara (Sullman dkk, 2017); depresi (Tel, 2013); dan tidak menghargai segala sesuatu yang dipersepsikan (dilihat, didengar, dirasa, dihirup, disentuh), sehingga cenderung berpikir dan merespons sesuatu dengan cara negatif (Heesink dkk, 2017). 

Melampiaskan kemarahan pun terbukti dapat membahayakan tubuh (fisik), di antaranya: gangguan kardiovaskular (jantung), gastrointestinal (terkait pencernaan; lambung dan usus) (Park dkk, 2015); diabetes (Santos dkk, 2012); gagal jantung (Kucharska-Newton dkk, 2014); dan hipertensi (Tel, 2013).

Lantas bagaimana cara terbaik untuk mengatasi marah yang melekat dalam dada? Dalam agama Islam, dari Abu Dzar RA, Rasulullah SAW bersabda: 

"Apabila seseorang dari kalian marah saat sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk. Hal itu dapat membuat amarah hilang, namun jika belum hilang juga, maka berbaringlah" (HR. Abu Dawud no. 4783). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x