Mohon tunggu...
Hennie Triana Oberst
Hennie Triana Oberst Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penyuka traveling dan budaya

Kompasianer Jerman || Best in Citizen Journalism Kompasiana Awards 2023

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cemburu Bisa Menjadi Racun

6 Februari 2020   05:28 Diperbarui: 6 Februari 2020   05:27 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: geralt/pixabay.com

Sore itu, kami, beberapa wanita sedang berbincang sambil menikmati waktu bersama di sebuah Cafe. Udara musim gugur hari ini sangat cerah. Musim dengan pemandangan yang sangat romantis. Warna warni daun yang sedang berubah sebelum akhirnya luruh, dari hijau, merah, kuning, coklat keemasan hingga berubah coklat tua. Tampak di luar sesekali angin dingin berhembus meluruhkan daun-daun yang mulai kering, gugur satu persatu, berserakan di permukaan tanah.

Sampai ke satu topik tentang cemburu, saat salah satu dari kami mengutarakan perasaannya, tepatnya kegelisahannya. Rasa was-was jika suaminya diganggu wanita lain.

Lantas saya katakan, "bagaimana jika kamu di posisiku?"

"Itulah yang ada di pikiranku, kenapa kau baik-baik saja," jawabnya.

Kenapa saya kasih perumpamaan diri sendiri?

Dua tahun kemarin saya harus memutuskan kembali ke Jerman dengan putri kami. Hanya berdua saja, karena anak kami akan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah. Suami saya masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Shanghai, dan dia harus memperpanjang tinggal di sana selama setahun.

Saya berpikir, anak kami akan memasuki sekolah baru. Tidak mengenal teman-temannya. Mungkin lebih baik jika dia mengikutinya sejak tahun pertama, daripada pindah dan menjadi anak baru di tahun ajaran kedua.

Tetapi ternyata pekerjaan suami masih belum selesai dan harus diperpanjang setahun lagi. Ia meminta izin kepada saya, untuk tinggal di sana lebih lama. Tidak ada alasan saya untuk tidak menyetujuinya, itu adalah tugas yang harus selesai dikerjakan.

Memang ada seorang wanita Indonesia yang mengatakan bahwa saya terlalu nekad membiarkan suami tinggal di Cina sendirian. Banyak wanita penggoda di sana, begitu katanya.

Lantas, apa dia yakin, suaminya yang selalu didampinginya itu dijamin setia? 

Suami saya pernah mengatakan bahwa perselingkuhan itu bisa terjadi jika kedua belah pihak saling memiliki dan membalas ketertarikan mereka, serta menginginkan hubungan satu sama lain. Entah itu hubungan satu malam ataupun berkelanjutan, intinya sama saja. Ada aksi dan reaksi.

Kita tak mungkin bisa menghalangi rasa ketertarikan seseorang terhadap orang lain. Rasa suka itu datang begitu saja tanpa ada yang mampu menghalangi.

Jika kita tidak menginginkannya, maka hindari untuk masuk di situasi tersebut.

Cemburu menurut KBBI;

1. merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya; sirik

2. kurang percaya; curiga (karena iri hati)

Menurut C. Backhaus, seorang psikolog dari Frankfurt; rasa cemburu itu juga adalah ekspresi ketidakpercayaan diri, takut kehilangan pasangannya. Atau perasaan bahwa mereka tidak menarik dan tidak cukup untuk dicintai. Jika perasaan ini dibiarkan berlarut-larut bisa memperburuk hubungan.

Untuk mengatasi rasa cemburu ini adalah belajar menerima diri apa adanya dan mencintai diri sendiri. Sehingga rasa kepercayaan diri akan timbul. Saat seseorang menyadari kekurangan dan kelebihan diri sendiri, maka ia akan memiliki kepercayaan pada pasangannya dan tahu bahwa pasangannya tersebut mencintainya. (spiegel.de)

-------

Hennie Triana Oberst

DE 05022020

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun