Mohon tunggu...
Ahmad Syaihu
Ahmad Syaihu Mohon Tunggu... Guru - Guru di MTsN 4 Kota Surabaya sejak tahun 2001
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Suka membaca dan menulis apa saja untuk dibagikan kepada orang lain dengan harapan bisa memahami dan mengerti kalau mau menerapkan apa yang ditulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kujemput Jodoh Saat Hujan Reda

5 Oktober 2022   06:59 Diperbarui: 5 Oktober 2022   07:08 97 10 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dok. pribadi/media guru

Sedari pagi aku duduk di bangku taman kota menunggu seseorang yang baru kukenal lewat grup WA. Tampak daun-daun gugur berderai menutupi bangku-bangku taman. Aku selalu menatap ke jalan yang dipinggirnya ditumbuhi pohon-pohon cemara dengan hijau daunnya. Sambil menunggun Nadia sosok yang misterius yang kukenal lewat WA semestinya sudah tiba di lokasi sepuluh menit lalu sesuai dengan janjinya di WA.

Suasana siang itu sudah mulai redup matahari tak mau menampakkan wajahnya sejak pagi. Sementara di langit gugusan awan tebal beriringan membentuk gumpalan-gumpalan hitam, seolah sudah tak kuat lagi bertahan dan mau dicuahkan ke bumi. Tak lama hujanpun turun dengan derasnya. Akupun bergegas menuju kedai kopi di seberang taman kota sambil berteduh aku pesan secangkir kopi susu untuk penghangat badan.

Dari kejauhan nampak sesosok wanita dengan tergesa-gesa masuk ke kedai kopi dan menuju ke arahku seolah sudah mengenalku, kuamati wajahnya mirip dengan Nadia, gadis cantik yang kukenal lewat WA.

"Angga"? sapa wanita di hadapnku. "Nadia, Nadia Asmara?" sambil kuulurkan tanganku disambut dengan genggaman erat tangan Nadia yang terasa dingin karena habis kehujanan.

"Benar, maaf sudah lama menunggu?" jawab Nadia. Kamipun duduk berhadapan di kedai kopi, Nadiapun memesan Kopi hitam kesukaannya. tak lupa memesan beberapa snak yang tersedia di kedai kopi, sambil melanjutkan obrolan siang itu ditemani hujan yang terus mengguyur kotaku siang itu.

"Nadia,kamu pernah bercerita tentang surat yang kau kirimkan dan tak pernah berbalas, memangnya kami kirim surat pada siapa?" tanyaku pada Nadia yang sibuk membersihkan rambutnya dari tetesan air hujan saat di luar kedai tadi.

"Iya Angga, aku rutin berkirim surat bahkan setiap pekan dua bulan terakhir, tapi tak pernah ada balasan", jawab Nadia sambil minum kopi hitam pesanannya, nampak cantik wajah Nadia.

"Pada siapa dan apa isi suratmu Nadia, kalau aku boleh tahu?", tanyaku lagi.

"Aku berkirim surat pada langit, aku minta dipertemukan jodohku Angga", jawab Nadia sambil menatapku tajam, jantungku seolah copot sorot matanya yang syahdu menembus lubuk hatiku.

"Tapi mengapa kami kirim suratnya ke langit?" tanyaku penasaran. "Karena Tuhan bersemayam di langit dan Tuhan yang menentukan jodoh manusia", jawab Nadia sambil menikmati kentang goreng.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan