Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Iduladha dan Kesempatan Mengenalkan "Secuil Kebenaran" Pedoman KBBI

12 Agustus 2019   16:31 Diperbarui: 12 Agustus 2019   16:49 0 5 3 Mohon Tunggu...
Iduladha dan Kesempatan Mengenalkan "Secuil Kebenaran" Pedoman KBBI
Iduladha menjadi kesempatan untuk menyampaikan kata yang benar sesuai KBBI/Foto: Liputan6.com

Dengan cara bagaimana sampean (Anda) melewatkan Hari Raya Iduladha 1440 H pada Minggu (11/8/2019) kemarin? 

Apakah sibuk membantu penyembelihan hewan kurban hingga melakukan distribusi daging kurban ke warga di wilayah tempat tinggal sampean? Apakah bersemangat mengolah jatah daging kurban yang dikirim ke rumah untuk diolah menjadi masakan favorit keluarga?

Atau malah, karena Iduladha pada tahun ini bertepatan dengan hari Minggu, jadi sampean menganggap tidak ada bedanya dengan Minggu-minggu lainnya di mana merupakan hari beristirahat di rumah untuk 'men-charge batere tenaga' agar esok siap kembali bekerja dengan kondisi bugar?

Ya, memang ada banyak cara untuk memaknai Hari Raya Iduladha 1440 H kemarin. Setiap kita bisa punya kesibukan dan cerita berbeda dalam mengisi hari raya kurban tersebut. Setiap kita juga bisa memaknai dan menangkap pesan berbeda dari hari raya yang melanggengkan kisah Nabi Ibrahim dan putranya, (Nabi) Ismail tersebut.

Nah, salah satu pesan yang juga bisa kita pungut dari hari raya kurban ini adalah kesempatan untuk lebih mengenal bahasa Indonesia. Utamanya penggunaan beberapa kata Bahasa Indonesia yang selama ini sering kita gunakan.

Tentang penulisan "Iduladha"
Terlebih, dalam konteks Iduladha, ada beberapa kata yang seringkali kita ucapkan dalam percakapan maupun kita tuliskan dalam bentuk tulisan pesan obrolan di gawai, ternyata kata-kata tersebut keliru dan kurang tepat. Keliru baik ejaan penulisan maupun pengucapannnya. Keliru dalam artian tidak sesuai dengan pedoman Kamus Bahasa Besar Indonesia (KBBI).

Bahkan, untuk penulisan Iduladha sendiri, masih ada yang kurang tepat dalam menuliskannya. Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang tepat adalah "Iduladha" (digabung dan kata adha ditulis dengan huruf kecil). Maknanya, hari raya haji yang jatuh pada tanggal 10-13 yang disertai dengan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu.

Jadi bukan ditulis 'Idul Adha' yang katanya dipisah. Sebab, bila kita mencari (makna kata) dipisah, maka tidak ditemukan. Kesimpulannya, penulisan Iduladha itu digabung.

Kata mana yang tepat: kurban, korban atau qurban?
Kata lainnya yang juga memunculkan pertanyaan 'mana yang benar' adalah kata kurban. Selama Iduladha kemarin, atau bahkan beberapa hari sebelumnya, sampean pastinya cukup sering menemukan kata ini dalam berbagai bentuk ejaan kata berbeda. Ada yang penulisannya kurban. Ada yang menulis korban. Ada pula yang menulis qurban.

Pertanyaan yang muncul, bila sebuah kata memiliki makna yang sama, apa iya penulisannya perlu dituliskan dengan ejaan yang berbeda? Seharusnya, bila maknanya sama, penulisannya tidak perlu dibedakan. Penulisan sebuah kata hanya perlu dibedakan bila diantara dua kata maknanya berbeda.

Lalu, mana yang benar dari ketiga kata "yang mirip" tersebut?

Bila kita melakukan penelusuran ke laman kbbi.web.id, maka kata yang ditemukan adalah "kurban" yang bermakna persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari Lebaran Haji).

Kata dasar kurban ini meluas menjadi "berkurban" yang bermakna mempersembahkan kurban, serta "mengurbankan" yang artinya mempersembahkan sesuatu sebagai kurban.

Sementara bila kita menulis kata "korban", dimaknai sebagai "orang, binatang, dan sebagainya yang menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Contoh kalimatnya: Sepuluh orang korban tabrakan itu dirawat di rumah sakit.

Menurut penjelasan dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Kebudayaan di laman badanbahasa.kemdikbud.do.id,
kata kurban dan korban sebenarnya berasal dari kata yang sama dari bahasa Arab, yaitu qurban.

Dalam perkembangannya, qurban diserap ke dalam Bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan dan dengan perkembangan makna. Adapun pengertiannya seperti yang dijelaskan di laman kbbi.web.id (di paragraf sebelumnya).

Nah, berdasarkan uraian di laman badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/561 tersebut, dalam konteks Idul Adha, maka penulisan kata yang tepat adalah "kurban". Adapun contoh kalimatnya: "Daging kurban itu akan dibagikan kepada yang berhak menerima". "Daging kurban bisa diolah menjadi aneka masakan menggugah selera".
 
Ternyata yang benar "satai" bukan 'sate'
Kata lainnya yang juga cukup sering diucapkan ataupun dituliskan ketika momen Hari Raya Iduladha adalah 'sate'. Ya, sampean pastinya mengucapkan kata ini dalam beberapa hari terakhir.

Maklum, daging yang diiris kecil-kecil kemudian ditusuk lantas dibakar ini menjadi olahan favorit daging kurban bagi banyak orang. Padahal, di luar Idul Adha pun, kita bisa dengan mudah menikmatinya. Lha wong banyak penjual yang berjualan di dekat rumah atau bahkan kebetulan lewat di depan rumah. Namun, konon, bila membuat dan membakarnya sendiri, rasanya lebih memuaskan.

Ya, banyak orang membakar irisan daging yang (sekali lagi) disebut sate itu. Namun, belum banyak yang tahu bila penulisan sate itu ternyata juga kurang tepat.

Bila kita menuliskan kata "sate" di kolom pencarian di laman kbbi.web.id, tidak ada definisi yang muncul selain kata "satai'. Namun, bila kita menuliskan kata 'satai', maka muncul makna : irisan daging (ayam atau kambing) kecil-kecil yang ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap. Lalu ada kata menyatai yang maknanya membuat satai.

Jadi, dari penjelasan laman KBBI tersebut, kata yang tepat adalah satai, bukan sate. Meski, dalam keseharian, banyak dari kita yang terlanjur mengucapkan 'sate' bila merujuk irisan daging yang dibakar dan dibumbui kacang atau kecap itu.

Kalau yang ini sudah banyak yang paham: imbauan, bukan himbauan
Satu lagi kata yang juga cukup sering dituliskan dan diucapkan selama momen Hari Raya Iduladha adalah kata "himbauan" dan "imbauan" juga "imbau dan "himbau".

Terlebih, untuk Iduladha kali ini, di beberapa pemerintah daerah mencuat ajakan tidak menggunakan kresek plastik sekal pakai untuk pembagian daging kurban. Petugas pembagian daging kurban diimbau untuk menggunakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu, yakni besek.  
 
Tentu saja, imbauan itu bagus. Dengan menggunakan besek, materialnya ramah lingkungan dibandingkan kresek plastik yang tidak bisa terurai tanah. Selain juga dampak penguatan sektor ekonomi. Namun, yang juga tidak kalah bagus adalah agar imbauan itu disampaikan dengan kata yang tepat.

Sebenarnya, ada banyak orang yang memahami mana kata yang benar antara "imbau" atau "himbau". Namun, di beberapa tempat, saya acapkali masih menemukan spanduk kampanye/ajakan berbuat baik tetapi masih menggunakan kata "himbauan". Bila ajakannya sudah baik, seharusnya kata yang ditulis juga benar.

Sebenarnya, buat apa sih sekadar untuk urusan penulisan kata saja harus ribet sesuai 'aturan' KBBI. Toh, bentuk kata-katanya hampir sama semisal kurban ataupun qurban, imbau atau himbau. Tidak jauh beda. Toh, yang penting orang lain paham apa yang kita sampaikan atau kita tuliskan.

Benar. Memang, orang lain bisa paham dengan apa yang kita maksud, terlepas kata yang kita tulis/ucapkan itu sudah sesuai atau belum dengan anjuran KBBI. Namun, bila kita tahu mana yang benar, mengapa kita tidak membiasakan memakai yang benar.

Terlebih bila sampean seorang penulis. Bukankah seharusnya, kita patuh dengan 'aturan menulis' yang ada. Sebab, bila bukan sampean yang paham aturan yang menyampaikan kebenaran melalui tulisan, lalu siapa lagi yang akan mengenalkan bagian kebenaran dari Bahasa Indonesia ini. Salam literasi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x