Mohon tunggu...
Gigih Prayitno
Gigih Prayitno Mohon Tunggu... Penulis

Menjadi manusia bebas

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Pro dan Kontra Miniatur Landmark Ikonik di Indonesia, Haruskah?

29 Januari 2019   21:52 Diperbarui: 29 Januari 2019   22:01 716 0 0 Mohon Tunggu...
Pro dan Kontra Miniatur Landmark Ikonik di Indonesia, Haruskah?
(dok. pribadi)

Ada fenomena baru terkait penciptaan destinasi pariwisata di Indonesia, yakni terlihat Instagramable namun kehilangan 'nyawa' Indonesia.

Pemerintah Indonesia sedang gila-gilanya memaksimalkan sektor pariwisata agar menarik para wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2018 Kementrian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan 117 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 275 juta wisatawan nusantara (wisnus).

Tentunya ini adalah hal yang sangat baik, melihat Indonesia dengan negara yang sangat luas punya banyak potensi pariwisata yang luar biasa, baik destinasi alam seperti gunung, pantai, dataran tinggi, tempat snorkeling dan diving, dan juga kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti festival tradisional yang apik dan unik.

Sektor pariwisata juga bisa menggenjot roda perekonomian Indonesia serta perputaran uang di level yang paling bawah, yakni para masyarakat setempat yang sangat merasakan efek dari meingkatnya jumlah pengunjung.

Salah satu strategi yang dilakukan oleh kemenpar adalah dengan menciptakan destinasi digital, yakni destinasi yang memiliki konsep kreasi digital, sehingga destinasi ini memiliki spot-spot foto yang dilihat sangat 'Instagramable.'

Ketika suatu tempat disebut Instagramble dan terlihat indah ketika diunggah di media sosial dan berpotensi menjadi viral.

Ketika sudah viral akan menjadi daya tarik tersendiri, salah satunya terjadi pada taman 'Bunga Amarilis' di daerah Patuk, Gunungkidul Yogyakarta pada tahun 2015 lalu.

Kekuatan sosial media tidak hanya menyampaikan informasi, namun juga menarik minat untuk datang ketempat yang 'Instagramable' yang kadang tidak disertai dengan tanggungjawab yang baik, Taman buatan 'Amarilis' diketahui hancur karena diinjak dengan sengaja oleh banyak wisatawan demi mendapatkan foto yang 'instagramable'.

ig/norel08
ig/norel08
Destinasi digital yang menjadi salah satu strategi dari Kemenpar tentunya bisa menghasilkan input yang baik ketika hal tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan berpikir dan berkreasi menciptakan satu destinasi baru yang fotogenik nan instagramable yang menghasilkan jumlah pengunjung yang signifikan.

Kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung sudah berhasil menciptakan beberapa gallery art yang dikunjungi oleh masyarakat, yang baru ini hits adalah Museum Macan, sangking ramainya, pengunjung hanya diberi waktu 30 detik untuk berfoto di satu spot. Tidak hanya kota besar, daerah-daerah lain yang juga menciptakan destinasi baru dengan karakteristik daerah mereka, seperti umbul ponggok di Klaten yang sudah lama tersiar karena keindahan bawah airnya atau juga Taman Kincir di Magelang yang sebelumnya pernah menjadi Taman Bunga Matahari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x