Mohon tunggu...
Getha Dianari
Getha Dianari Mohon Tunggu... Lainnya - Karyawan Swasta

Tunggu sesaat lagi, saya akan menulis lagi.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Menghadirkan Human Spirit dalam Pelayanan

30 Januari 2019   14:25 Diperbarui: 30 Januari 2019   14:37 91
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sesuai janji saya untuk melanjutkan artikel Pelayanan di Era Citizen 4.0, maka kini kita akan lihat bagaimana human spirit dapat dimaknai dalam pelayanan. Mengutip kembali kata kunci dalam artikel tersebut, menghadirkan human spirit dalam pelayanan berarti mendeskripsikan pelanggan sebagai 'seutuhnya manusia'.

"Memanusiakan manusia", ungkapan yang sering kita dengar dalam kamus fenomenologi atau konteks pelayanan publik. Jika sudah sampai tahap ini, artinya pelayanan sudah menyentuh aspek spiritual. Pelayanan haruslah memandang pelanggan sebagai manusia, manusia haruslah dipandang sebagai manusia.

Dalam ajaran Buddha, derajat tertinggi manusia disebut Manusa atau Manuso, berarti manusia memiliki hati mulia, punya rasa malu dan takut untuk melakukan kejahatan. Juga sama dalam ajaran Islam tentang Habluminannas. Bahwa hubungan horizontal adalah terpenting setelah hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia patut menempatkan manusia lain dalam kemuliaan.

Saya pernah menghadiri sebuah workshop yang dipimpin oleh seorang konsultan. Ia menceritakan pengalaman pertamanya menaiki busway saat berkunjung ke sebuah kota dan harus segera kembali ke kota asal. Saat harus memasuki gerbang halte, ia kebingungan karena ternyata harus menggunakan kartu akses. Kemudian, ada seorang kakek menghampiri dan membantu sang konsultan hingga ia bisa mendapatkan kartu akses yang dibutuhkan. 

Setelah itu, sang kakek mengajaknya mengobrol, menanyakan daerah tujuan, bahkan memberinya tips-tips untuk mengantisipasi kelalaian yang sering dialami orang-orang saat menaiki busway. 

Pengalaman tersebut berkesan bagi sang konsultan, menurutnya pelayanan human to human seperti ini sangat menyentuh dan akan dirindukan jikalau suatu hari dunia sudah didominasi mesin dan komputer.

Pernah menonton tayangan iklan yang mengisahkan seorang petugas layanan GraPARI Telkomsel membantu mengaktifkan fitur video call seorang pelanggan tuna rungu? Jika Anda seorang pelayan dan ingin tahu apa arti dari profesi Anda, maka tayangan ini wajib ditonton. 

Pada prinsipnya, nampak sekecil apapun pelayanan yang kita berikan, jangan sekali-kali meremehkan hal itu, yakinilah bahwa setiap bentuk pelayanan adalah sebuah manfaat, tak jarang malah membukakan pintu kehidupan baru bagi orang lain.

Wah, konsep ini jadi terdengar seperti sebuah visi, terlalu sempurna untuk dicapai bukan?

Nothing's perfect! Namun belajar dari ketidaksempurnaan dan kesalahan-kesalahan akan mendekatkan kita pada kesempurnaan. So, jadilah seseorang yang tidak takut salah dan jadilah seorang pembelajar!

Suatu hari saya memesan pizza, pasta, dan beberapa botol minuman dari PHD. Saya pesan langsung di tempat untuk dibawa pulang. Barangkali karena terlalu banyak menu makanan yang dipesan, saya dan customer service jadi tidak ingat bahwa ada beberapa botol minuman yang juga dipesan dan sudah dibayar di awal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun