Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

"Ampiang Dadiah" nan Menggoyang Lidah

8 Maret 2018   17:16 Diperbarui: 8 Maret 2018   19:52 2645
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
DADIAH. Ruas bambu ini berisi dadiah, fermentasi susu kerbau, sebagai bahan membuat ampiang dadiah. (Foto: Gapey Sandy)

Okelah, jadi kalau begitu kita sebut saja nama penjaja ampiang dadiah ini Uda Al. hehehehee ... alias "Abang Al".

Susu kerbau yang difermentasikan selama 2 hari 2 malam di ruas bambu. (Foto: Gapey Sandy)
Susu kerbau yang difermentasikan selama 2 hari 2 malam di ruas bambu. (Foto: Gapey Sandy)

Menurut Uda Al, dadiah berasal dari susu kerbau (kabau). Tetapi bukan sembarang kerbau lantas diperah susunya. "Hanya kerbau yang baru melahirkan. Itu pun, masih harus menunggu anak kerbaunya berusia 2 bulan terlebih dahulu, baru kemudian susu induknya diperah, dan disimpan untuk dijadikan dadiah. Kalau tidak begitu, ya tidak bisa dijadikan dadiah," ujar Uda Al.

Dadiah ini, untuk mudahnya, bolehlah disebut sebagai yogurt. Tapi, bukan yogurt yang dihasilkan dari susu sapi, melainkan susu kerbau!!!

Untuk membuat seporsi ampiang dadiah, jelas Uda Al, gampang saja (tonton: videonya).

"Mulanya, kita ambil ampiang yang berasal dari beras ketan yang sudah ditumbuk sehingga bulirnya berubah menjadi pipih. Bolehlah ini kemudian kita anggap sebagai 'sereal'-nya. Untuk ukuran seporsi ampiang dadiah, perlu sekitar 3 sendok ampiang yang dituang di atas piring. Lalu, ampiang di piring tadi disiram air panas secukupnya. Ampiang kemudian agak ditekan-tekan sehingga cukup melembut. Selanjutnya, ampiang ditiriskan dari sisa air panas tadi," tutur Uda Al.

AMPIANG. Beras ketan yang sudah ditumbuk. (Foto: Gapey Sandy)
AMPIANG. Beras ketan yang sudah ditumbuk. (Foto: Gapey Sandy)
Seporsi ampiang (dadiah) dengan wadah piring. (Foto: Gapey Sandy)
Seporsi ampiang (dadiah) dengan wadah piring. (Foto: Gapey Sandy)
Proses berikutnya, mengambil sekitar 2 sendok dadiah yang sudah jadi. Taruh di atas ampiang, dan buat agak merata. "Kemudian, taburkan parutan kelapa sekitar 3 sendok. Lalu, ratakan lagi, sesudah itu siram dengan gula aren cair. Maka selesailah seporsi ampiang dadiah untuk disajikan ke pelanggan," urai Uda Al lagi.

Seporsi ampiang dadiah harganya Rp 20.000.

Rasanya? Jangan tanya nikmatnya. Ada sensasi kriuk "sereal" atau ampiang beras ketan yang hambar, dengan kelembutan tekstur dadiah yang cukup agak terasa asam di lidah. (Ya gimana sih rasa yogurt yang asam, ya begitu juga sama dengan rasa dadiah). Tetapi, ini masih bercampur dengan parutan kasar kelapa yang gurih, dan mencecap manisnya gula aren.

Cukuplah "ampiah dadiah" ini membuat lidah bergoyang. Enak sih ....

"Saya baru menjual ampiang dadiah ini sejak tahun 2000. Sebelumnya, orang tua saya sudah lebih dahulu menjajakannya. Banyak orang dari Kota Padang, Muara Labuh dan lainnya yang datang ke sini, hanya untuk menyantap ampiang dadiah. Pulangnya, mereka bawa dadiah yang masih ada di dalam bambu. Kalau mereka yang membawa sepeda motor, biasanya ruas bambu isi dadiah ini diikat di samping belakang sepeda motornya," jelas Uda Al.

Ooohhh ... makanya jangan heran, kalau ketemu pengendara sepeda motor melintas di sekitar Jalan Raya Padang-Solok, maupun Jalan Raya Padang-Surian serta Jalan Raya Muara Labuh mengikatkan bambu hijau dan ditutup plastik pada pangkal ruas atasnya, ya itu pasti bawa dadiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun