Mohon tunggu...
Frederikus Suni
Frederikus Suni Mohon Tunggu... Pengais Aksara dan Penikmat Imajinasi

Manusia hidup dalam dua dimensi, yaitu dimensi terang dan dimensi gelap. Dimensi kelahiran dan kematian. Manusia tak pernah memilih keluarga, tempat dan negara di mana ia dilahirkan. Yang terpenting bagi manusia adalah menghargai arti dan makna kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Psikologis Seorang Kompasiner di Tengah Banjir Tawaran

16 Oktober 2020   00:53 Diperbarui: 16 Oktober 2020   00:57 207 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Psikologis Seorang Kompasiner di Tengah Banjir Tawaran
Pixabay;

Menulis adalah kegiatan bersenang-senang bagi seorang kompasianer. Setelah menonton video (A to Z Kompasiana) "MEWARTAKAN MANCANEGARA BERSAMA DIASPORA KOMPASIANA," Kamis, 15 Oktober 2020. Kisah inspiratif datang dari Senior Gaganawati Stegmann, kompasianer di Jerman dan Senior Weedy Koshino, kompasiner di Jepang. 

Saya sangat terinspirasi dari kisah yang mereka bagikan tentang cikal bakal mereka mengenal platform Kompasiana. Khususnya menyangkut motivasi mereka menulis di kompasiana.

 Menulis di kompasiana adalah impian setiap orang. Karena kompasiana adalah blog warga yang sangat mengedukasi. Karena kompasianer berbeda latar belakang pendidikan, budaya, karakter, gaya kepenulisan. Tapi, perbedaan itu disatukan dalam semangat berbagi dan mencari kenalan.

Saya pribadi merasa senang menulis di kompasiana. Ketimbang saya menulis di blog pribadi. Karena di kompasiana saya langsung berinteraksi dengan para pembaca dan segera mendapat feed back/komentar dari pembaca. 

Sementara di blog pribadi saya harus menunggu dan terus menunggu untuk berinteraksi dengan para pembaca. Inilah salah satu kelebihan dan manfaat yang saya dapatkan dari platform Kompasiana. Walau pun saya baru 2 bulan menulis di Kompasiana

Menulis adalah kecerdasan bersenang-senang di tengah malam. Sebagai pendatang baru di Kompasinana saya merasa dihargai dan diapresiasi. 

Apresiasi telah membawa saya pada semangat untuk berbagi. Berbagi perasaan seputar keseharian hidup saya bersama orang lain. Di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang karyawan swasta dan penulis novel, saya selalu menempatkan porsi tersendiri untuk merangkai kata di Kompasiana. Sehari tanpa menulis di Kompasiana, rasanya hambar dan gelisah. Karena separuh hidup saya sudah berada di Kompasiana. 

Menulis adalah bagian dari terapi perasaan dan pikiran. Karena perasaan yang dipendam serasa sakit, bila tak diungkapkan. Ungkapan rasa kecewa, marah atas segala ketidakadilan di lingkunganku, saya sampaikan melalui setiap tulisan. Perasaan saya telah mewakili paripurna pikiranku. Karena menulis adalah bentuk kemerdekaan bagiku.

Kebebasan untuk mengejar paripurna waktu adalah melalui tulisan. Setiap tulisan yang saya bagikan kepada pembaca telah mewakili keadaan psikologis saya sebagai seorang kompasianer yang labil. Labil dalam perasaan dan pikiran. Karena perasaan dan pikiran saya tak hanya fokus di satu tema. 

Melainkan saya menulis serabutan. Yang terpenting rasa dan rasio saya menyatu dengan pembaca. Inilah manfaat psikologis yang saya alami di tengah banyaknya tawaran untuk berpindah ke platform lain yang sangat menjanjikan dari sisi penghasilan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN