Mohon tunggu...
Arief Firhanusa
Arief Firhanusa Mohon Tunggu...

Pria yang sangat gentar pada ular

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Minat Baca Siswa Sekolah di Semarang Rendah

15 April 2014   21:16 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:39 0 0 3 Mohon Tunggu...
Minat Baca Siswa Sekolah di Semarang Rendah
13975438931528230510

MINAT baca di kalangan pelajar di Semarang tergolong rendah. Sudah dikirimkan perpusatakaan keliling, dan disediakan ruang tulis dan baca di majalah dinding, tapi para pelajar lebih suka menyerbu kantin untuk jajan ketika bel istirahat berdentang. Siang ini saya menyambangi sebuah SMP negeri di Kota Semarang, untuk suatu keperluan. Lebih dari dua jam di sana, saya melewati dua masa istirahat para siswa. Sekali istirahat sekitar 15 menit. Di dua sesi istirahat tersebut saya melihat hal ganjil. Ada satu mobil perpustakaan keliling yang disediakan oleh pemerintah kota, parkir di tempat strategis, dan membuka display buku yang merangsang minat untuk mendatangi. Tapi, harapan saya melihat anak-anak berebutan buku dan kemudian membacanya di bawah pohon rindang pun sirna begitu melihat murid-murid SMP ini bergelombang keluar dari kelas masing-masing menuju lima kantin yang berderet di sebelah lapangan sepakbola. Hanya ada dua-tiga siswa tergoda mendatangi perpusatkaan keliling, kemudian menarik buku, dan membacanya di teras sekolah. Padahal, buku-buku itu boleh disimak secara gratis! [caption id="attachment_320049" align="aligncenter" width="420" caption="Minat baca yang minim. (Foto: Arief Firhanusa)"][/caption] Saya mencoba melihat-lihat judul buku di perpustakaan keliling itu. Adonan fiksi dan ilmiah. Banyak novel bernuansa SMP yang bagus bila dibaca anak-anak usia 14-16, sesuai umur mereka. Juga banyak judul tentang satwa langka, pengembangan kepercayaan diri, serta pengetahuan umum dan pengetahuan alam yang menarik, disertai foto-foto memikat. Sayangnya, Pemkot Semarang hanya punya tiga armada untuk berkeliling ke seluruh sekolah di kota ini. Masing-masing satu untuk SMA, SMP, dan SD. "Praktis kami hanya sebulan sekali menyambangi sekolah ini, sebagaimana kami mendatangi sekolah-sekolah lain yang juga durasinya sama," tutur seorang petugas perpustakaan keliling seraya menyebutkan, minat baca di sekolah-sekolah di Semarang cukup rendah. Barangkali faktor itulah salah satu hal yang menilep virus membaca di kalangan siswa. Bayangkan, "hanya sebulan sekali perpustakaan keliling yang berisi buku-buku terbaru mendatangi satu sekolah". Tak ada demam membaca yang ditularkan. Mungkin bahkan siswa di sana lupa bahwa ada perpustakaan keliling yang pernah menyinggahi sekolahnya. Demam membaca itulah yang mati-matian ditularkan oleh Suprapto, guru Bahasa Indonesia di sekolah yang tadi saya sambangi. Menyadari murid-muridnya tidak gemar membaca, tiap ada perpustakaan keliling hendak datang -- biasanya pihak pemkot menyurati sekolah bersangkutan perihal kehadiran armada penuh buku ini -- Prapto pun menggelar kiat. Ia menggiring siswanya menyerbu mobil perpustakaan keliling agar mereka mengambil masing-masing satu buku, membaca, kemudian menuliskan rangkuman. Prapto memanfaatkan seluruh jam mengajarnya untuk memberi tugas ini, bergantian kelas demi kelas. Dari pengamatan saya, tidak semua murid Prapto ini dengan takzim membaca buku. Mereka lebih banyak becanda ketimbang menyimak "jendela dunia" di tangannya. Untuk itu, Prapto tak henti-hentinya mengingatkan pada mereka untuk membaca, kemudian menulis rangkuman, sebab waktu mereka pendek. "Saya memang manfaatkan perpustakaan keliling untuk membangkitkan minat baca. Sekolah kami memang punya perpus sendiri, tapi buku-buku di sana tidak up date," katanya. Saya melongok perpustakaan sekolah tersebut. Menyimak dari satu rak ke rak yang lain. Alamak, sudah jadul, berdebu pula! Zaman saya sekolah, perpustakaan merupakan tempat favorit. Bukan hanya perpus sekolah, tapi juga perpustakaan milik pemerintah di gedung SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). Saya dan gerombolan teman berjumlah banyak begitu antusias mencari-cari buku baru. Sasaran perburuan biasanya buku-buku pengetahuan umum populer. Meleset-melesetnya novel Trio Detektif atau komik Trigan. Di samping itu kami juga dua kali seminggu mengirim puisi dan cerpen di majalah dinding yang dikelola guru Bahasa Indonesia. Saat istirahat tiba, kami ramai-ramai di depan majalah dinding itu untuk membanding-bandingkan karya. Beberapa di antara kawan tersebut, kini menjadi penulis novel dan beberapa di antaranya menjadi wartawan koran ternama. Degradasi minat baca ini kemungkinan besar didorong oleh beberapa hal:

1. Dorongan dari dalam diri mereka kurang untuk membaca sehingga mereka tidak ingin pergi ke perpustakaan. Dibutuhkan guru-guru yang memotivasi mereka untuk mencari referensi/literatur sehingga secara tak langsung minat baca mereka terus tumbuh. 2. Fasilitas di perpustakaan sangat terbatas. Kursi-meja cuma sedikit, ditambah pula jumlah komputer yang tidak banyak, sehingga menyulitkan mereka untuk mengakses data. 3. Letak perpustakaan jauh dari kelas-kelas, dan tidak strategis pula sehingga mereka malas untuk menyerbu tempat membaca itu. 4. Koleksi buku-buku di perpustakaan sudah tergolong jadul dan tidak ter-up date, sehingga siswa malas membaca. Apalagi bila buku-buku itu kusam dan berdebu. Mereka lebih memilih nongkrong di toko-toko buku bersama keluarganya kemudian membeli novel (bagi yang berduit) ketimbang memilih perpustakaan.

Ada beberapa sekolah di Semarang yang saya lihat pintar memanfaatkan sudut-sudut areanya untuk memicu siswa gemar membaca. Dibangun secara apik dan indah, disertai fasilitas terkini yang menunjang tren di kalangan remaja, "pojok baca" itu diminati. Apalagi pihak sekolah juga mendorong guru-guru kompeten memotivasi muridnya untuk gemar membaca. Tontonan di televisi -- langsung atau tidak -- menyurutkan minat baca di kalangan siswa. Para orangtua juga tidak memiliki kesadaran tentang pentingnya membaca bagi putra-putrinya. Maka, jangan salahkan anak bila sehari setelah pemilihan gubernur Jateng, Mei tahun lalu, banyak anak sekolah di Semarang menyebut nama Bibit Waluyo sebagai gubernur baru, padahal di pilgub itu Bibit kalah dari Ganjar Pranowo! -Arief Firhanusa-

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x