Mohon tunggu...
Fery. W
Fery. W Mohon Tunggu... Administrasi - Berharap memberi manfaat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penikmat Aksara, Musik dan Tontonan. Politik, Ekonomi dan Budaya Emailnya Ferywidiamoko24@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Impact Invesment ala Kemenkeu

10 September 2019   08:21 Diperbarui: 10 September 2019   09:51 215
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Socialimpacthub.org

Obligari Ritel Indonesia (ORI) merupakan Obligasi Negara yang diperdagangakan secara ritel. Tujuan diterbitkannya ORI adalah untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat atau investor individual untuk secara langsung memiliki dan memperdagangkan secara aktif dalam perdagangan Obligasi Negara. Sama seperti SUN, ORI memiliki jenis Syariah

Saving Bonds Ritel (SBR),SBR merupakan turunan dari  ORI yang memiliki sifat mirip tabungan(saving) atau deposito perbankan. Tidak dapat diperjual belikan di pasar sekunder, biasanya memiliki jangka waktu (tenor) 2 tahun. Dengan kupon yang diberikan, floating terbatas dengan acuan suku bunga 7-days Repo Bank Indonesia.

Yang berhak membeli SBR adalah mereka yang memiliki paspor Indonesia atau warga negara Indonesia saja. Dengan batas minimal pembelian sebesar Rp. 1 juta, dan maksimal untuk satu Identitas Rp. 3 milyar.

Menurut data DJPPR,  saat ini pemerintah telah menerbitkan delapan seri SBR, mulai dari 001-008 yang baru diterbitkan tanggal 5 September 2019 lalu.

Yang menarik dari SBR ini, pembeliannya bisa dilakukan secara online melalui 22 mitra distribusi yang sudah bekerja sama dengan DJPPR selaku prinsipal penerbitan mewakili pemerintah.

Walaupun platform transaksinya memang dirancang dan dibuat serta di miliki oleh direktorat dibawah Kemenkeu ini. Karena merekalah yang diberi kewenangan dan bertanggung jawab dalam setiap penerbitan surat utang negara.

Hal menarik lain dari SBR baik yang konvensional dan yang berbasis syariah atau biasa disebut sukuk ritel adalah cara memasarkan SBR tersebut.

Mereka terlihat fokus menggarap 2 generasi yamg dalam beberapa tahun kedepan akan menguasai struktur demografi penduduk Indonesia, Milenial dan GenZ.

DJPPR sepertinya mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik, untuk menjangkau pasar dua generasi tersebut. Kemudahan bertansaksi yang bisa dilakukan secara online merupakan nature nya dua generasi tersebut yang lebih menyukai segala sesuatu yang praktis berbasis digital. Dengan Smartphone mereka bisa melakukan pembelian SBR, jadi kesan membeli Obligasi Negara itu ribet pupus sudah.

Selain cara bertransaksi, Impact Investing menjadi cara DJPPR dalam mempersuasi dua generasi  ini, dan itu sangat tepat. 

Karena menurut hasil penelitian Credit Suisse, sebuah  bank investasi ternama dunia yang berbasis di Zurich, Swiss ini, menemukan kecenderungan pola investasi milenial dan Gen Z, 80% dari mereka menanamkan uangnya ke dalam impact investing, yakni investasi yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan pada saat yang sama memberikan keuntungan finansial secara teratur dan transparan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun