Mohon tunggu...
Fatmi Sunarya
Fatmi Sunarya Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pujangga

Penulis Sederhana - Kompasianer Teraktif 2020-2021 "DILARANG MEMUAT ULANG ARTIKEL UNTUK TUJUAN KOMERSIAL 😡"

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rintik Hujan yang Menangisi Dua Insan

22 Januari 2022   21:36 Diperbarui: 22 Januari 2022   21:43 203 41 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi https://www.piqsels.com/id/public-domain-photo-zpvme

Gereja tua 1998,
Gadis berkerudung duduk di sebuah taman, di depan gereja tua. Asyik memandangi kupu-kupu yang hinggap pada bunga-bunga silih berganti. Di hadapannya terbentang kebun teh yang hijau menyejukkan mata.

Sang gadis bernama Rayya, sedang menunggu sahabatnya, Niko. Niko sedang ibadah Minggu di gereja yang  berada di kebun teh itu. Gerimis mulai turun dan membasahi kerudungnya. Rayya berlari kecil menuju samping gereja.

Ibadah Minggu selesai sudah, Niko bergegas mencari Rayya.
"Hei aku di sini," teriak Rayya.
Niko segera menghampiri.
"Maafkan dirimu lama menunggu," bisik Niko.
Ah, kerudungmu sedikit basah karena gerimis," ujar Niko dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa," jawab Rayya.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalan kecil di sela kebun teh. Bercanda, tertawa, bercerita tak henti.


"Niko, sudah berapa lama kita bersahabat?" Tanya Rayya.
"Sudah lama, semenjak kelas 3 SD, saat aku pindah dari Medan dan papa bekerja di perkebunan ini," ujar Niko.
"Wah hampir 9 tahun," Rayya membatin.

Mereka berhenti di sebuah telaga. "Rayya, terima kasih dirimu setiap hari Minggu selalu menemaniku ke gereja. Sebenarnya ini hari Minggu terakhirku di sini. Aku akan ke Medan untuk kuliah.
"Wah, senangnya bisa kuliah di Medan," seru Rayya.
Dalam suaranya terdengar sumbang dengan nada bimbang.

Itu adalah hari Minggu terakhir mereka bersua. Selanjutnya hari demi hari terasa sunyi, rindu menyelusup memenuhi rongga hati. Setiap hari Minggu, Rayya bersepeda, duduk di taman dan menatap gereja yang menua bersamanya.

Gereja tua, 2018,
Rayya kembali duduk di taman depan gereja tua. Sudah 20 tahun berlalu, Niko hilang ditelan bumi. Keluarga Niko juga ikut pindah waktu itu. Entah di mana Niko, tak ada kontak sama sekali. Kabarnya Niko sudah bekerja di Jakarta dan sudah menikah.

Rayya hanya mengenang cerita, canda lucu yang saban hari Minggu mereka bertemu.
"Ada apa dengan hatiku?"
"Kenapa aku selalu mengingatnya?"
Suara berkejaran dengan debar. "Dia mungkin sudah berbahagia sekarang, sedangkan aku menikmati sendiriku," hibur Rayya.

Gelap mulai membayang, mendung akan berganti hujan. Benar saja, gerimis mulai menetes. Rayya bersiap akan berlari kecil mencari tempat berteduh.
"Kali ini aku tak akan membiarkan kerudungmu basah," ujar seseorang.
Sebuah payung sigap memayungi Rayya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan