Mohon tunggu...
Farianty Gunawan
Farianty Gunawan Mohon Tunggu... Lainnya - Smart Traveller, Travel Consultant, Christian-Holyland Expert, Happy Baking Learner,

A wife for best husband and a mother of wonderful best two grown up daugther and son. Being in Travel Industry since 1992. Love to learn the new right things. Pray first and do the best

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Termashyur Sejak Dahulu Kala, Neira

3 Maret 2021   20:00 Diperbarui: 7 Maret 2021   13:52 1340
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perjalanan ke Pulau Banda Neira adalah impian saya sejak kecil.

Dimulai dari tulisan alm. Bapak Des Alwi mengenai Pulau Banda Neira yang saya baca di Harian Kompas dan Majalah Intisari (Mama saya, Tjia Fung Ing, menyisihkan gaji nya yang pas-pas an, untuk berlangganan bacaan yang berkualitas agar anak2 nya mendapatkan pengetahuan yang luas, terima kasih Mama). Thank you LORD JESUS for this trip. My dreams come true.

Bagi yang belum tahu... alm. Bapak Des Alwi Abubakar, adalah tokoh nasional Indonesia, pahlawan, sejarawan, penulis, pengusaha, diplomat juga klektor film dokumenter. Cucu Raja Mutiara Said Badilla ini dilahirkan di Banda Neira, pada tanggal 17 November 1927 dan meninggal di Jakarta tanggal 12 November 2010 dan dimakamkan secara militer di Banda Neira.

Ketika berusia 8 tahun dan duduk di kelas dua ELS (Europeesche Lagere School), Des Alwi kecil yang sedang bermain di Pelabuhan, bertemu pertama kali dengan Bapak Moh. Hatta dan Bapak Sutan Sjahrir (yang diasingkan oleh Belanda di Banda Neira) yang kemudian mengangkat nya menjadi anak.

Bapak Des Alwi Abubakar yang akhirnya membangun kembali kemasyuran Pulau Banda Neira yang sejak dahulu kala terkenal dengan tanaman pala yang menjadi salah satu magnet menarik pihak asing datang ke Indonesia, selain keindahan alamnya yang memukau. Lebih jauh tentang Bapak Des Alwi dapat dibaca internet, seperti di tautan antaranews.com atau tulisan-tulisan beliau (salah satunya berjudul: Sejarah Maluku).

Bapak alm. Des Alwi. Sumber : Intisari Online
Bapak alm. Des Alwi. Sumber : Intisari Online

Sekarang kita tengok perjalanan kami ke Banda Neira ya.

Di tanggal 6 Agustus 2017, karena keadaan cuaca peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, kapal cepat Express Bahari belum dapat beroperasi (biasanya 4-6 jam) dan pesawat Dimonim Airline (satu-satunya maskapai kecil yang melayani penerbangan untuk rute ini) masih dalam perawatan dan juga cuaca yang tidak memungkinkan untuk dioperasikan. Diperkirakan tanggal 9 August 2017 baru ada jadwal lagi dan seminggu hanya satu kali saja.

Kami yang hanya memiliki waktu berlibur satu minggu, cukup membingungkan, mau dilanjutkan atau batal ke Banda Neira. Akhirnya keluarga kenalan kami di Ambon, Bung Bey yang saat itu bertugas di SAR Banda Neira menyarankan untuk menumpang kapal Pelni.

 Siang itu, kami langsung membeli tiket di agent penjualan tiket kapal laut di Pelabuhan Ambon. Lalu pulang ke hotel untuk bersiap-siap berangkat dan karena tidak tersedia kamar / tempat duduk, maka kami harus mengantri untuk masuk ke dalam kapal untuk mendapatkan posisi/tempat terbaik selama berlayar semalaman. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun