Mohon tunggu...
Farhan Fakhriza Tsani
Farhan Fakhriza Tsani Mohon Tunggu... Akuntan - Seorang Pelajar

Tertarik pada sastra, isu sosial, politik, dan ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Depresi, Wabah di Milenium Baru

24 Agustus 2019   09:00 Diperbarui: 24 Agustus 2019   11:13 640
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya hidup zaman modern yang cenderung terisolasi secara sosial menjadi salah satu pemicu depresi. Sumber gambar: pixabay.com/skitterphoto

Sampai sini kita sudah sepakat tentang definisi depresi dan apa gejala yang timbul pada penderita. Selanjutnya tentu akan timbul pertanyaan, mengapa depresi bisa terjadi? Bagaimana kesedihan dapat membuat seseorang ingin mengakhiri hidup? Bukankah itu sebuah tindakan tidak bersyukur?

Sederet pertanyaan di atas adalah pertanyaan arus utama yang sering muncul di benak publik ketika mendengar kasus depresi. Ilardi menjelaskan penyebab depresi dengan penjelasan mudah yang tidak banyak didapat dari peneliti lainnya. 

Setelah 21 tahun penelitiannya dalam bidang depresi, Ilardi menyimpulkan bahwa terdapat sebuah penyebab utama, sebuah pemicu primer dari berbagai kompleksitas penyebab lainnya. Ilardi menyebutnya dengan istilah Runaway Stress Response.

Karena saya kesulitan menerjemahkan istilah tersebut, maka dalam tulisan ini saya akan sebut dengan istilah aslinya dan saya singkat dengan singkatan RSR. RSR atau dalam bahasa yang lebih sederhana disebut flight-or-fight response, adalah sebuah respon tubuh ketika menghadapi bahaya. 

Respons ini membantu manusia dalam menghadapi bahaya fisik. Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah ancaman, katakan berhadapan dengan seekor harimau yang ingin memangsa, manusia membutuhkan aktivitas fisik yang intens. 

RSR inilah yang bekerja membantu kita dalam melampaui batas kemampuan fisik kita untuk melakukan suatu hal yang sebelumnya sulit kita lakukan.

RSR inilah juga yang bertanggungjawab ketika kita berhasil melompati pagar tinggi ketika dikejar oleh anjing tetangga namun ketika kita mencoba keesokan harinya terasa sangat sulit. 

RSR melibatkan hormon dalam tubuh dan biasanya berlangsung dalam waktu singkat. Manusia tidak mungkin berada setiap hari dalam bahaya, kan?

Ilardi melanjutkan, RSR dalam waktu singkat adalah hal yang wajar. Ia sudah menjadi mekanisme alami bagi tubuh untuk menghadapi ancaman. Namun masalah terjadi ketika RSR itu terjadi dalam waktu yang lama secara terus menerus. RSR dalam waktu yang lama bersifat toxic bagi tubuh. 

Ia akan memicu berbagai hormon dalam otak secara tak terkendali dan mengakibatkan kerusakan otak. Lebih lanjut kerusakan itu akan mengakibatkan peradangan dalam otak. Dan otak yang radang adalah otak yang menderita depresi. 

Kita sudah terbiasa mendengar radang tenggorokan atau radang paru-paru. Mungkin mulai sekarang kita harus mulai menambahkan kosa kata baru yang tidak terlalu nyaman didengar: radang otak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun