Mohon tunggu...
Esther Dwi Magfirah channel
Esther Dwi Magfirah channel Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas, Pegiat Sastra.

Konten favorit : seni, sastra dan humaniora.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Menunggu Pagi

30 November 2022   06:37 Diperbarui: 30 November 2022   07:08 60
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

MENUNGGU PAGI

Bulan dan bintang tak pernah ada.
Angin malam selalu dingin.
Membuat semua orang bergidik.
Tak pernah ada sapa gelombang lautan.
Hanya semilir tanya.
Kapankah pagi kan segera tiba ?

Malam, 17 September 2022.

MALAM TAK BERBINTANG.

Malam selalu mengganggu.
Ingatku yang tak ingin.
Pagi bisa berganti.
Tapi cuaca toh tak perlu bersahabat.
Dengan rinai hujan.
Atau riaknya gelombang.
Mungkin musim belum saatnya berganti.
Hingga asa tak perlu dinanti.
Yang penting tak lagi merasa.
Bukanlah aral melintang.
Untuk menuju pagi.
Karena tak ada sebab akibat untuk itu.
Hanya arah tak sama.
Untuk waktu lalu.
Kini dan nanti.
Bismillah !

Malam, 17 September 2022

HENING YANG MENCEKAM

Badai pun tak pernah sekencang ini.
Dingin pun tak pernah separah ini.
Tapi apalah.
Hujan atau badai sekalipun.
Cuma sekedar bayangan.
Dari sapa malam pada angin.
Pada rembulan.
Atau hanya sekedar.
Berpantun yang tak bernada.
Silau dengan meriahnya.
Subuh menjelang pagi.
Resah dengan penantian.
Tak bertepi.
Malam, 17 September 2022.
WAKTUMU BUKAN AKU

Aku menunggu diriku.
Bukan engkau.
Aku tak menunggu waktumu.
Tapi daku.

Bisa ?

Malam, 17 September  2022.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun