Mohon tunggu...
Erusnadi
Erusnadi Mohon Tunggu... Freelancer - Time Wait For No One

"Sepanjang sungai/kali masih coklat atau hitam warnanya maka selama itu pula eksistensi pungli, korupsi dan manipulasi tetap bergairah "

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Makan Siang

19 Desember 2022   17:28 Diperbarui: 19 Desember 2022   17:45 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Namun ia tidak kapok dan selalu memohon bantuan pada sipir atau kepala penjara agar ia diusahakan untuk mendapatkan pengurangan hukuman.

Jawabnya pun selalu sama. "Tidak ada remisi lagi untuk koruptor."

Bathinnya jika tidak ada remisi maka tabungannya yang disimpan oleh anak dan istrinya akan habis untuk menghidupi dirinya di penjara ini.

Padahal tabungan itu hasil usaha kerasnya bekerja selama ini, bukan dari hasil korupsi. Hasil korupsi separuhnya ia amalkan untuk pembangunan mushola, panti asuhan, bantuan alat olahraga, klinik kesehatan, juga pembangunan lapangan olahraga.

Ia ingin bantuan darinya untuk kampung kelahirannya itu juga maju seperti kampung di daerah lainnya.

Uang korupsi ia simpan sebagian bukan di tabungan, tapi di rekening keluarga dan kerabat untuk bekal hari tua. Ia punya keinginan untuk insaf dan pergi ke tanah suci kelak.

Tengah membayangkan sembari berbaring itu, pesanan makan siang yang dipesan pun datang. Ia kupas bungkusan itu, dan sama persis sebagaimana keinginannya.

Kata koleganya itu,"kepala penjara akan pensiun satu tahun lagi, Pak."

"Kata siapa?"

"Sipir memberitahu tadi."

Koleganya meninggalkan bilik tahanan, dan ia makan tidak dengan tenang. Ia berhitung tiga tahun selama di ruang ini sudah ia habiskan hampir mencekik lehernya untuk biaya hidup di sini. Bagaimana dengan kepala penjara yang baru nanti?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun