Mohon tunggu...
M. ERIK IBRAHIM
M. ERIK IBRAHIM Mohon Tunggu... Freelancer - 🐇🦢🌱Berakit Rakit Ke hulu, Berenang renang ketepian, aku bersungguh sungguh untuk kamu, TAPI, kamu malah demikian🌴🌿
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

🐇🦢 Terbentur----TeRBENTUR----TerbENTUR----TERBENTUK🐇🦢

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Mainan yang Tergantikan

19 Agustus 2022   21:54 Diperbarui: 19 Agustus 2022   22:00 326
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak-anak sedang bermain kelereng dilapangan dengan penuh keseriusan | tribunnews.com

Sayup sayup mata mulai menghiasi retina mata ini dengan segenap penuh lelah dan letih. Memandangi Gadget tak berkesudahan. 

Terkesima sejenak antara permainan zaman dahulu, bersorak sorai bergembira menikmati masa kanak kanak dengan rukun mengitari nya. 

Anak-anak bermain ular naga bersama sama | dictio.id
Anak-anak bermain ular naga bersama sama | dictio.id

Ular Naga. Aku ingat dahulu... "Ayo rik, main keluar yuk, main bareng bareng ya nanti sehabis sarapan pagi"... 

Namun kini, riuh gemuruh alunan suara itu nampak lengang entah terdengar. Merengek di depan pintu. Nelangsa penuh rindu. 

Anak-anak bermain gobak sodor | harianpijar.com
Anak-anak bermain gobak sodor | harianpijar.com

Gobak sodor. " Nanti kamu jaga garis itu ya, jangan bergeming saja,. Nanti kalau kalah, kita gantian ya mainnya... ".... 

Suara itu semerbak menggema menghiasi rumah ini dikala kesunyian menerka nerka isi hati. Penuh terjangan kegundahan. 

Anak-anak sedang bermain kelereng dilapangan dengan penuh keseriusan | tribunnews.com
Anak-anak sedang bermain kelereng dilapangan dengan penuh keseriusan | tribunnews.com

Kelereng. Masyarakat Jawa menyebutnya " Setinan". Kelereng kecil, maupun besar, semuanya ikut andil, mempertaruhkan, berlomba lomba menghimpun kelereng. Hingga tiada kata cukup. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun