Mohon tunggu...
Elvidayanty Darkasih
Elvidayanty Darkasih Mohon Tunggu... Pekerja lepas

Kontributor radio, membuat konten untuk radio.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Suka Duka Tinggal di Rumah Orang Lain: Jadi Upik Abu, Tukang Ojeg, hingga Diperlakukan seperti Anak Sendiri (2)

6 Agustus 2020   15:06 Diperbarui: 6 Agustus 2020   16:54 82 11 4 Mohon Tunggu...

Suatu hari, salah satu koran harian lokal di Jambi mengumumkan lowongan pekerjaan untuk stasiun radio yang baru beroperasi. Kebetulan saya punya pengalaman pernah bekerja di radio swasta, punya kemampuan tehnik editing audio, dan beberapa kali menang fellowship untuk liputan feature radio. Saya mencoba melamar untuk posisi tim kreatif. Radio baru, belum ada apa-apa selain izin siar, frekuensi, studio dan perangkat siaran. Belum punya program siaran dan belum ada penyiarnya. 

Saya diterima di radio tersebut. Dalam waktu 2 bulan, saya dibebankan pekerjaan tambahan sebagai penanggung jawab penuh untuk operasional harian radio. Saya bertanggung jawab untuk program, menjadi penyiar, sekaligus soal teknis perangkat siaran. Untuk perangkat teknis, saya baru belajar saat 2 bulan pertama saya bekerja di radio tersebut.

Saya bersyukur bisa mendapat ilmu tambahan tentang radio. Pemilik radio sering memotivasi saya saat mengajarkan berbagai perangkat pemancar siaran. Untungnya, saya cukup familiar dengan peralatan servis elektronik karena almarhum orangtua pernah punya bengkel servis elektronik. Mungkin, karena melihat kesungguhan saya juga, pemilik radio semangat mengajarkan saya segala hal yang berkaitan dengan peralatan studio.  Dan setelah yakin saya mampu mengurus operasional harian, pemilik radio menyerahkan radio tersebut untuk saya kelola dengan baik. 

Sebenarnya, ada 2 orang yang diterima bekerja di radio tersebut selain saya. Keduanya mengundurkan diri karena merasa tidak sesuai beban kerja dengan honor yang diterima. Sementara saya, setelah mendapat beban tambahan pekerjaan, tanpa saya minta, pemilik radio menaikkan gaji saya 30 persen. Padahal, masa kerja saya baru 2 bulan. 

Karena jarak studio dari rumah saya lumayan jauh, pemilik radio menawarkan saya untuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan studio. Jika terjadi sesuatu dengan peralatan di studio, saya bisa lebih cepat tiba di studio. Biaya sewa tempat tinggal tersebut, akan ditanggung oleh kantor. 

Setelah beberapa hari mencari, saya akhirnya mendapatkan kost yang tidak jauh dari studio. Jaraknya hanya 5 menit dengan kendaran sepeda motor. Uang sewa kost ditambahkan pemilik radio ke gaji yang saya terima. 

Awalnya, saya meminta kamar kost di luar rumah induk. Tapi pemilik kost beralasan kamar kost yang di luar sudah penuh dan meminta saya tinggal di kamar yang tersedia di rumah induk. Itu artinya, saya akan bergabung dengan keluarga pemilik kost. Menggunakan kamar mandi bersama dengan pemilik kost. Tapi, karena kamarnya cukup luas dan perabotannya masih baru, saya akhirnya menerima tawaran tersebut. Belakangan saya tahu, itu hanya akal-akalan pemilik kost. Karena kamar yang di luar rumah induk lebih laris. Padahal, saat saya datang mencari kost, ada dua kamar kost di luar rumah induk yang kosong.

Setiap hari, saya pergi ke studio sebelum pukul 8 pagi. Karena masih uji coba siaran, saya hanya menyusun playlist lagu. Memastikan peralatan dalam kondisi baik. Saat lapar, saya bisa tinggalkan studio sebentar untuk pulang ke kost dan makan siang. Saya bisa menitipkan studio pada office boy yang tinggal di studio. Jika lelah, saya bisa tidur siang di kost.

Kadang, saya tidur siang di studio. Saya menikmati pekerjaan tersebut meskipun banyak hal yang harus saya urus sendiri. Pemilik radio sudah jarang datang ke studio sejak radio tersebut diserahkan ke saya untuk dikelola. Saya membuka lowongan kerja kembali untuk membantu saya di radio. Dan menjelang pelamar yang cocok datang, saya benar-benar sendirian mengelola radio tersebut. Dari pagi sampai malam hari. 

Hari itu, saya baru bisa tertidur setelah sholat subuh. Saya menyetel alarm pukul 07.30 pagi, karena masih siaran percobaan, radio baru on air di pukul 08.00 pagi. Saya juga berpesan sama ibu kost untuk dibangunkan pukul 07.30 pagi karena harus ke studio. Saat saya mendengar pintu kamar saya diketok, saya mengira sudah pukul 07.30 pagi. Saya hanya menyahut pendek memberi tanda kalo saya sudah bangun. Tapi, suara anak ibu kost di luar terus memanggil saya sambil mengetok pintu kamar. Saya melihat jam, baru pukul 06.45 pagi. Saya membuka pintu kamar, dan anak perempuan ibu kost sudah berdiri di depan kamar saya dengan seragam sekolahnya. "Kak, mama minta tolong Kakak antarin aku ke sekolah pake motor." 

"Sekolahnya kan dekat, Dek. Jalan kaki paling 10-15 menit. Kakak masih capek dan ngantuk berat." Jawab saya. "Kakak baru pulang kerja jam 11 malam, dan baru bisa tidur subuh tadi." Saya meminta pengertiannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN