Mohon tunggu...
El Sanoebari
El Sanoebari Mohon Tunggu... Penulis - Salah satu penulis antologi buku "Dari Pegunungan Karmel Hingga Lautan Hindia".

Menyukai pekerjaan literasi & kopi | Suka buku filsafat, konseling dan Novel | Jika harus memilih 2 hal saat jenuh saya akan makan banyak dan traveling | Suka belajar hal yang baru | Saya suka berpikir random, demikian dalam menulis | Imajinatif | Saya suka menulis Puisi dan cerpen sejak SD, yang terkubur di dalam laptop | Bergabung menjadi kompasianer merupakan tantangan yang menyenangkan | Saya suka segala hal yang menantang | Cukup ya, terlalu banyak

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Jadilah Pahlawan Saat Kematianku

10 November 2022   18:10 Diperbarui: 12 November 2022   09:35 289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Benar. Bukannya dia yang kukuatkan, malah aku yang diberi penguatan. Tapi itulah istimewa suami pilihan ayahku. Tak seoranpun tahu hari dimana nyawanya akan diambil Sang Pencipta. Seberapa hebat dirimu, seberapa kuat tulang-tulangmu, seberapa besar otot-ototmu, kau pada akhirnya akan kembali menjadi debu. Aku tidak bercanda. Kau akan tahu waktu kau mati nanti.

“Jangan pernah menyesali ini. Aku mencintaimu. Cinta itu telah tumbuh seiring aku melihat dirimu. Meskipun aku tak ada lagi, cinta tak pernah mati”

“Apakah kau akan pergi? Sungguh?”

“Cinta itu kian tumbuh dan kian bersemi saat kita memiliki tiga pahlawan

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Bukan hanya karena itu, tapi kaulah segalanya bagiku. Aku telah  melihatnya hampir sepuluh tahun ini, kau telah menguatkan tulang-tulangku”.

“Maksudmu apa? Kau tidak akan meninggal ‘kan?” tanyaku penasaran.

“Kau tahu” katanya tanpa menghiraukan pertanyaanku. “Virus ini sudah menggerogotiku sejak aku masih duduk di bangku SMA. Itulah sebabnya pamanku menjodohkan aku dengan engkau. Kau tahu? Ia bilang padaku bahwa engkau bisa menerimaku apa adanya, dan aku telah merasakan selama tahun-tahun pernikahan kita”

Airmataku tak dapat kubendung lagi. Aku terdiam menatap wajahnya yang masih lugu seperti dulu, parasnya yang manis namun tulang-tulangnya telah keropos dimakan oleh virus-virus jahat. Pikiranku tak bisa diajak kompromi. Sementara ia terus melanjutkan ceritanya.

“Andaikan kau tahu itu, kau takkan memilih aku menjadi suamimu. Bagaimana mungkin seorang gadis cantik sepertimu akan bersuamikan pria keropos. Tapi aku telah belajar selama ini, bahwa andaikan kaupun tahu sejak awal, tak ada dalam pikiranmu tentang lemahnya aku”.

“Jandakah sebutanku setelah ayah memilihkan kau untukku? Seharusnya kau menikah dengan ayahku dan aku menikah dengan pamanmu” keluh kesahku tak terbendung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun