Mohon tunggu...
El Sanoebari
El Sanoebari Mohon Tunggu... Penulis - Salah satu penulis antologi buku "Dari Pegunungan Karmel Hingga Lautan Hindia".

Menyukai pekerjaan literasi & kopi | Suka buku filsafat, konseling dan Novel | Jika harus memilih 2 hal saat jenuh saya akan makan banyak dan traveling | Suka belajar hal yang baru | Saya suka berpikir random, demikian dalam menulis | Imajinatif | Saya suka menulis Puisi dan cerpen sejak SD, yang terkubur di dalam laptop | Bergabung menjadi kompasianer merupakan tantangan yang menyenangkan | Saya suka segala hal yang menantang | Cukup ya, terlalu banyak

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Jadilah Pahlawan Saat Kematianku

10 November 2022   18:10 Diperbarui: 12 November 2022   09:35 289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Gadis cantik seperti kamu tak bisa berbohong.

“Aku tidak berbohong”

“Aku tahu bagaimana pria-pria itu mengejarmu, ingin mendapatkan cintamu. Aku salah satunya”. Akunya.

Meskipun kenangan pahit itu menjadi mimpi burukku, aku tidak mau menjadikan itu alasan aku benci kepada ayah. Walau sakit saat mengingat ketika tidak pernah menikmati masa remajaku seindah aku dibawah naungan bulan purnama, namun aku akui ayahku baik. Ia mengasihiku, menyekolahkanku, dan menyediakan makanan saat ibu sedang sakit.  Sekarang aku merindukannya, aku merindukan pelukan ibuku juga.

Aku telah memiliki keluarga baru, suamiku dan tiga anak kami. Yanna, Naldo, Imna. Bukan nama yang kumau. Nenekku yang memberi nama-nama itu. Nama-nama impiannya dulu. Aku tidak dapat menolaknya.

Sembilan tahun menikah. Bukanlah usia yang muda. Memasuki tahun ke-sepuluh seiring dengan lahirnya anak ketiga kami, Imna, suamiku diserang penyakit yang memedihkan. Kau pasti bisa membayangkan, tubuhnya yang kurus itu terserang virus Tuberculoses (TBC) tulang, virus yang kejam menembus tulang-tulangnya yang pipih, akupun menangis karenanya. Tetapi ia pria yang kuat tidak sebanding dengan tubuhnya.

“Hampir sepuluh tahun bersamamu adalah kebahagiaan yang takkan terlupakan bahkan sampai di akhirat”

“Akh, bagaimana mungkin kau bahagia sementara di usia pernikahan kita, kau malah terserang virus” kataku mengeluh.

“Kau wanita yang kuat, tulangku akan kuat saat melihat senyummu”.

“Tapi...

“Jangan kau risaukan aku” kata suamiku menguatkanku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun