Mohon tunggu...
Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Mohon Tunggu... Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Misteri Tetangga Baru

4 Juni 2020   06:36 Diperbarui: 4 Juni 2020   19:18 303 37 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Misteri Tetangga Baru
Sumber: Pixabay.com

Kutuliskan kisah ini. Tentang kami. Aku dan Lidia.

Baiklah, kuperkenalkan diri dulu. Namaku Fatimah. Usiaku setengah baya. Bertubuh kurus. Berambut lurus. Dan baru saja memutuskan pindah rumah dari sebuah kota kecil ke pedesaan terpencil yang terletak di lereng bukit.

Sementara Lidia, usianya lebih muda dariku. Wajahnya manis. Rambutnya keriting. Berkacamata minus.

Kami dipertemukan oleh senja. Suatu hari. Ketika langit sedang murung.

Akulah yang pertama kali melihat dia. Perempuan itu, ia sedang mengejar seekor kucing yang berlari kencang di halaman rumahku dengan hanya mengenakan daster.

Tentu saja pertemuan tidak sengaja itu membuatku senang. Sebab sudah hampir satu minggu, terhitung sejak menempati rumah baru belum satu pun tetangga yang kukenali atau sempat kukunjungi.

"Saya Lidia. Maaf, kucing ini agak bandel. Ia suka berkeliaran di sekitar sini."

"Tidak masalah. Kucingmu bebas bermain di halaman rumahku ini."

"Oh, terima kasih. Anda baik sekali. Tadi aku sempat khawatir. Penghuni rumah yang lama---sebelum Anda, mereka tidak suka kucing. Setiap ada kucing berkeliaran di sekitar rumah ini pasti akan mengalami cedera karena diusir dengan kasar."

"Wah, masa iya? Kasihan benar kucing-kucing itu."

Perbincangan kami hanya sebatas itu. Lidia tampak terburu-buru. Setelah berhasil menangkap kucingnya yang lucu ia pamit pergi. 

Ia menghilang di sebuah tikungan, yang mungkin saja tikungan itu adalah jalan menuju ke arah rumahnya.

Suatu hari kami bertemu lagi. Kali ini diperantarai oleh matahari. Aku sedang duduk terpekur di halaman samping rumah ketika---lagi-lagi, kulihat Lidia sedang mengejar seekor kucing.

"Ayolah, Momo. Jangan bermain jauh-jauh! Nanti kamu hilang!"

"Kucingmu tidak akan hilang. Ia pasti kembali. Seperti halnya dia, kekasihku. Aku yakin suatu hari ia akan kembali menemuiku."

Begitulah. Kami lantas berbincang-bincang akrab. Lidia tampak antusias menceritakan tentang kucing-kucingnya. Dan aku, gembira menceritakan tentang kekasihku.

Sejak saat itu kami jadi sering bertemu. Duduk berdua di atas lincak bambu yang terletak di samping rumah. Menikmati langit senja yang kadangkala suka sekali berubah-ubah warna.

***
Suatu pagi. Hujan turun sangat deras. Bagai tercurah dari langit. Dan udara dingin yang menggigit membuatku malas beranjak. Aku hanya duduk diam memeluk lutut menatap butiran air yang jatuh di halaman, yang sesekali tertiup angin lalu memercik pada kaca jendela membentuk butiran embun.

Jarum jam belum menunjukkan angka enam dengan sempurna ketika terdengar suara erangan kecil dari balik pintu.

Itu Momo. Kucing kesayangan Lidia. Aku hafal betul suaranya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x