Mohon tunggu...
Eko Irawan
Eko Irawan Mohon Tunggu... Penulis - Menulis itu Hidup
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pantang mundur seperti Ikan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Stri Nareswari #4: Pra Tumapel

29 November 2021   20:40 Diperbarui: 29 November 2021   20:45 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kisah sebelumnya baca di link berikut :

Stri Nareswari #3: Enigna Ruang Waktu

Suatu hari yang telah lalu. Saat mawar mulai layu. Bekas memelukmu masih berdarah. Masih sakit. Kau bilang tak ada apa apa. Itu dulu. Tapi sekarang sudah tidak. Tidak mau mikir itu itu lagi. Sedih ini membinasakan. Mulianya janji. Romantisnya cinta. Semua musnah.

Terhipnotis ide gila. Relief Jajaghu memotret. Mulianya Drupadi. Sebagai Stri Nareswari. Saat kainmu ditelanjangi. Tak seperti dirimu. Malah menjual gratis kehormatanmu. Atas nama nyaman dan cinta palsu. Untuk orang lain. Lelaki lain. Cara halal kau campakkan. Cara haram kau tempuh. Demi nafsu cara binatang. Membunuh cinta suci, demi cinta palsu pangeran pengecut. Selingkuhanmu.

Kembali ku menepi. Dalam sunyi menemui ruang waktu Jajaghu. Sisa peradaban. Yang mulai ditumbuhi lumut. Sungguh kusudah lelah. Saat stri nareswariku sudah direbut paksa dan aku hidup, tapi di tikam dari belakang.

Kukembali datang ke candi pendarmaan Wisnuwardhana ini. Belajar pertarungan hidup. Dari relief relief tua. Yang mungkin hanya secuil sejarah. Yang dilupakan.

"Jangan Gundah ananda" tepuk sang Panji Seminingrat. 

"Yang pergi biarlah pergi. Kau sudah rumit. Tak perlu mempersulit hidupmu, Nak." Aku tertunduk. Mencoba meresapi gundahku hingga datang menepi dalam sepi. Mimpi bahagia ternyata tak kutemukan. Stri nareswariku sudah dirampok orang. Dan aura itu tak bisa kembali. Hilang. Dinikmati lelaki lain dalam permainan durjana. Penuh intrik dan dusta dusta para penipu yang ingin dibenarkan.

"Nak, kau bisa pegang amanat ibumu. Jangan kau ragukan." Kata Panji Seminingrat seraya duduk di depanku.

"Apa pesan ibumu, laksanakan. Kapan lagi kau mau mendengar pesan ibumu, anakku."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun