Mohon tunggu...
eddy lana
eddy lana Mohon Tunggu... Freelancer - Eddylana

Belajar menjadi tukang pada bidang yg dinamis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mungkinkah Bunga Itu Bersemi Kembali?

17 Juli 2021   23:00 Diperbarui: 17 Juli 2021   23:28 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Glance - Diolah dari sumber ilustrasi facebook.com/RuthPearsonUK

Rumah itu cukup besar, dua orangtuanya tinggal satu atap bersama keluarga kecil mereka. Suaminya Johan adalah seorang konsultan yang mempunyai klien tak sedikit dan sangat dikenal reputasinya. 

Jadi, secara materi mereka tak punya masalah dengan melemahnya ekonomi akibat pandemi. Tetapi wabah itu sangat membuat mereka khawatir. 

 Berita mengganasnya pandemi makin menyita seluruh perhatian masyarakat. Menciptakan kengerian tersendiri. Akhirnya, mereka sekeluarga memutuskan untuk mengisolasi diri secara mandiri. 

Bukan hanya itu, bahkan prokes super ketat, telah dilakukan mereka sejak bulan pertama ditahun wabah ini mulai merebak. 

Merekapun menabukan keluar rumah tanpa hal yang sangat penting. Apalagi halaman rumah cukup luas untuk sekadar berolah raga ringan. 

Teknologi informasi demikian pesat. Sejak lama keluarga mereka pun telah terbiasa memesan apa saja secara on line, berbelanja kebutuhan dapur, cemilan, bahkan sayur mayur dan lainnya. Jadi ketika isolasi ini dipraktekan, tak lagi membuat mereka kikuk. 

Suaminya juga menerima usulannya untuk work from home. Lagi-lagi tekhnologi membantu hal itu. Secara visual Johan bisa berbincang melayani keperluan konsultasi para kliennya ataupun untuk hal lain. 

Rangga, anak lelakinya yang berumur 13 tahun. Sepertinya juga tak memprotes dengan prokes ketat keluarga mereka. Cuma ada sekali, Rangga pernah melontar tanya. 

" Apakah hidup di dalam penjara seperti ini juga Bunda? " Astrid tersenyum mendengarnya. 

" Bunda terlalu sayang pada keluarga kita, dan Bunda tak mau kebahagiaan kita direngut oleh wabah tak kasat mata itu " seperti kaset yang yang diputar berulang, dia kerap mengatakan kalimat itu pada anaknya, tiap kali Rangga menunjukkan rasa bosannya. 

Sampai pada suatu kenyataan, terkadang harapan bisa bertolak belakang dari apa yang diinginkan. Tiba-saja Astrid merasa harus memutuskan sesuatu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun