Mohon tunggu...
Ecik Wijaya
Ecik Wijaya Mohon Tunggu... Penulis - Seperti sehelai daun yang memilih rebah dengan rela

Pecinta puisi, penggiat hidup

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

"Nonik Itu Ibuku"

24 Juli 2021   10:20 Diperbarui: 24 Juli 2021   10:39 77 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Nonik Itu Ibuku"
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Pohon kersen. Daunnya berguguran diterpa angin. Ditengah terik pukul dua siang.air laut tepi-tepi daratan. Pantai sibuk lalu lalang. Kursi panjang bambu reyot. Peluh meleleh dari dahinya. Perempuan rambut ombak laut. Kulit putih susu. Mata kecil jeli sempit. Ibuku. Seorang nonik yang tak peduli tatapan tajam menikam. Saban hari bergumul asinnya peluh. Tunggu perahu-perahu bersauh. Berlari mengejar kesana kemari sepanjang bibir pantai.  Hitung receh diantara amis keranjang ikan. Berebut bersaing dengan tengkulak besar dan orang kecil lainnya. Sekeranjang dua keranjang cukup untuk satu siang. 

Kuyup dadaku. Membayang airmata di pelupuk mata. Bersandar disisi pohon kersen, menyaksi tiap siang. Saat terik di ubun-ubun dan asamnya keringat. Terlampau kecil dan sempit kepalaku menangkap. Dulu, saat baju putih biru baru saja kukenakan. Saban siang terik kuhampiri nonik itu. Ibuku yang berpeluh. Ada tawa dimatanya yang coklat mendanau. Siap menangkap gelisah dan sakitku. Aduhai pantai pesisir. Aduhai pohon kersen.

Aduhai kursi bambu reyot. Aduhai amis keranjang ikan. Aduhai ibuku. Aduhai nonikku. Ingatan semacam lautan yang selalu merindu pantai. Masih saja tercium aroma segala tentangmu. Meski ribuan hari sudah memutihkan rambutku. Ingatan pada seorang nonik yang berhati seluas lautan. Diam-diam waktu kian mendekatkan kita. Mungkin kita akan menyaksi lagi cinta yang berlabuh dengan debar yang sama. Rindu.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x