Mohon tunggu...
Dwi Klarasari
Dwi Klarasari Mohon Tunggu... Administrasi - Write from the heart, edit from the head ~ Stuart Aken

IG: @dwiklara_project | twitter: @dwiklarasari

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Resensi Novel: Belis Imamat

22 November 2020   13:18 Diperbarui: 22 November 2020   13:31 450
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kisah masa lalu yang menyimpan duka pun terungkap! Rupanya kepada keluarga nenek Johny itulah, Pit-ayah si Aku-telah berhutang belis. Di sini tersirat betapa Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memilih jalan-siapa sebenarnya yang ingin dituju.    

Hutang belis menjadi kisah biasa dalam masyarakat di wilayah timur Indonesia. Di sisi lain, perjalanan hidup serta pergulatan batin calon imam kadang kala kurang dipahami oleh orang awam. Kedua topik tersebut disuguhkan menjadi tali-temali alur cerita menarik yang memberi banyak pengetahuan iman sekaligus pelajaran hidup.

Di luar kisah 'cinta terlarang' Pit-Ros, hutang belis yang tak terbayar menjadi benang merah perangkai masa lalu dan perjalanan si Aku menuju imamatnya.

Janji sosok Aku untuk menyerahkan kaul sucinya sebagai belis kehidupan dapat ditangkap sebagai kritik halus bagi tradisi belis. Betapa pun tinggi nilai filosofisnya, ada kalanya terkesan kurang manusiawi. 

Ya, imamat tak lain tak bukan adalah belis kehidupan. Belisku untuk nilai kehidupan yang terlampau luhur. Demi Tuhan, demi nilai-nilai kemanusiaan, dan demi orang-orang yang terpinggirkan. Demi sesuatu yang lebih berharga, aku harus mengorbankan diri dan kepentinganku. Belisku adalah pengorbananku untuk membawakan keselamatan bagi orang-orang yang merindunya (hlm. 246).    

Penulis yang sempat mengenyam studi di STFK Ledalero, Maumere dengan cerdas menggambarkan kehidupan membiara tanpa lepas dari pergulatan hidup masyarakat. Bagaimanapun di tengah masyarakatlah kelak para imam mengabdi.

Di tengah kesuntukan menekuni diktat kuliah para frater tak segan merancang demo yang elegan dan artistik untuk menolak pertambangan. Ada pula frater yang diam-diam mendirikan koperasi usaha bagi masyarakat miskin.

Lewat berbagai karakter unik para frater pembaca dapat menangkap kehidupan religius yang tetap manusiawi. Kebosanan pada sayur kacang ijo dan ikan asin bisa merebak jadi diskusi yang menarik. Frater juga manusia biasa, memiliki rasa curiga, kesal, lelah, marah, juga jatuh cinta. Kesemuanya diceritakan dengan gaya jenaka serta lugas mengalir.

Selain nilai-nilai filosofis-teologis, kisah ini juga dipenuhi metafora menarik berbalut nilai-nilai tradisi serta budaya masyarakat setempat. Local genius menjadi salah satu kekuatannya. Pembaca diajak menelusuri kisah perjalanan calon imam dalam senyuman sekaligus keharuan. Dalam waktu bersamaan juga diajak untuk merefleksikannya dalam kehidupan pribadi.

Depok, 22 November 2020

Salam Literasi, Dwi Klarasari

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun