Mohon tunggu...
DiMei
DiMei Mohon Tunggu... Lainnya - Seorang murid di sekolah kehidupan

Seorang manusia dan murid yang biasa-biasa saja. Ingin berbagi cerita kepada semua yang mau sama-sama belajar tentang apa saja. Berharap tulisan saya dapat menjadi sebuah titik kecil di dunia yang kadangkala terlalu sibuk untuk sekadar berhenti sejenak.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kawan Sejati

19 Februari 2024   23:14 Diperbarui: 19 Februari 2024   23:18 62
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sudah puas?
Apa sekarang sudah nampak jelas?
Atau masih kurang?
Kamu mau sakit hingga meradang?

Sudah kubilang
Jangan begadang
Pasti sia-sia
Karena pikiran juga punya masa

Kamu tak tidur karena masih punya rasa?
Biarkan aku nanti yang bicara dengan dia
Kamu sakit menjadi-jadi
Enak saja dia tak tahu kamu berperang urat nadi

Katanya demi kebaikan kamu
Kebaikan kalian
Keterpurukan para setan
Apa sajalah, aku cukup paham maksud dia berlagu

Tikam, gurat, sobek dan darah
Aku memang belum terasah
Belum pernah merasakan luka bernanah
Kali ini kuterima, baiklah

Tiba-tiba sepi tak semengerikan itu
Keheningan ini ternyata aku rindu
Kalau kamu?

Apa karena aku juga marah?
Bukan
Aku hanya menemani kamu mencari arah
Yang dulunya tak pernah hilang
Karena kamu selalu pantang

Padahal Ibu sudah peringatkan kamu
Jangan begini; jangan begitu
Tetapi kamu, si bocah lugu
Tidak percaya bahwa dunia adalah sarang penipu

Ingat aku pernah bilang padamu
"Aku tunggu sampai dia bosan"
Kamu bilang
"Silakan"

Kamu bicara tentang "cinta"
Aku terpingkal seperti digelitik gigi buaya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun