Mohon tunggu...
Didi Junaedi
Didi Junaedi Mohon Tunggu... -

Dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon Penulis Buku-buku Motivasi Islami: Qur'anic Inspiration, DREAM, Berbahagialah, 5 Langkah Menuju Sukses Dunia-Akhirat, Agar Allah Selalu Menolongmu, Raup Berkah Saat Umur Bertambah, dan sejumlah buku lainnya...

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Gairah Menulis Kaum Akademis

30 Oktober 2015   23:10 Diperbarui: 31 Oktober 2015   00:24 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Alasan klise berupa rutinitas kantor yang menyita waktu, seolah menjadi apologi yang dapat dibenarkan. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, alasan tersebut tidak bisa diterima. Mengapa demikian? Ya, karena tugas utama para akademisi (baca: Dosen dan Guru Besar) adalah mengajar, meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Mengajar dan meneliti tentu berkait kelindan dengan budaya membaca dan menulis. Dengan demikian, maka rutinitas kantor yang dijadikan alasan tidak tepat. Karena aktivitas rutin yang dilakukan para akademisi itu, ya mengajar, membaca dan menulis.

Hemat saya, rendahnya budaya menulis di kalangan akademisi perguruan tinggi lebih disebabkan oleh budaya oral yang selama ini dominan di masyarakat kita. Sejak kita sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, tradisi menulis tidak menjadi fokus utama. Para guru dan dosen lebih banyak berbicara di depan kelas dengan merujuk kepada karya-karya orang lain.

Alangkah baiknya, jika para guru dan dosen, disamping menjelaskan materi, juga memberikan contoh konkret dengan menunjukkan karya-karyanya berupa buku yang bisa menjadi rujukan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Nilai tambah (added value) sebagai insan akademis akan semakin terlihat jelas, ketika mereka berhasil membuktikan kepada masyarakat akademis dengan lahirnya sejumlah karya dari tangannya. Eksistensi serta reputasi keilmuan sebagai seorang ilmuwan, seorang intelektual akan semakin nyata dengan bukti berupa karya.

Karya inilah yang akan lebih ‘berbicara’. Karya ini yang akan menjadikan seorang ilmuwan diakui kepakarannya. Sekarang bukan zamannya ilmuwan hanya pandai berkoar-koar. Saat ini, kualitas seorang ilmuwan bisa dilihat dari berapa banyak dia menghasilkan karya, baik berupa artikel di jurnal-jurnal ilmiah ataupun buku.

Masih Ada Harapan

Every cloud has a silver lining. Dalam kondisi seburuk apa pun, selalu ada titik terang yang menyiratkan sebuah harapan. Di tengah keprihatinan atas lesunya gairah menulis kaum akademis seperti saya ungkapkan di atas, saya melihat masih ada harapan yang cukup menjanjikan untuk masa depan dunia literasi di perguruan tinggi.

Terbitnya jurnal-jurnal ilmiah dari tingkat Universitas/Institut, Fakultas, Jurusan, hingga Program Studi menjadi angin segar untuk perkembangan dunia tulis menulis di perguruan tinggi. Ditambah lagi, bermunculannya lembaga penerbitan di setiap perguruan tinggi, yang akan mewadahi ide-ide insan akademis untuk kemudian dituangkan dalam bentuk buku yang selanjutnya diterbitkan, menjadi harapan baru untuk semakin menyemarakkan geliat penulisan di perguruan tinggi.

Kondisi ini tentu patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat akademis di setiap perguruan tinggi. Dukungan moral perlu terus diberikan. Peran aktif para dosen untuk meningkatkan kualitas jurnal ilmiah dan lembaga penerbitan adalah suatu yang niscaya.

Melakukan riset secara serius yang kemudian dituangkan dalam bentuk jurnal ilmiah, serta menyusun buku secara utuh dengan ragam tema sesuai keahlian masing-masing, setelah sebelumnya membaca, mengkaji, serta mengkritisi beragam referensi yang ada, merupakan bentuk dukungan secara nyata para kaum akademis dalam memajukan serta meningkatkan kualitas dunia literasi di perguruan tinggi.

Apresiasi dari institusi perguruan tinggi atas karya para dosen juga perlu dipertimbangkan. Sebuah karya intelektual yang tertuang dalam jurnal ilmiah dan juga buku, tentu tidak lahir begitu saja tanpa kerja keras. Untuk itu, penghargaan atas karya-karya intelektual tersebut adalah suatu yang niscaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun