Mohon tunggu...
Adrian Diarto
Adrian Diarto Mohon Tunggu... orang kebanyakan

orang biasa. sangat bahagia menjadi bagian dari lansekap merbabu-merapi, dan tinggal di sebuah perdikan yang subur.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Ketika Sore Tidak Kau Lintasi

15 April 2020   00:56 Diperbarui: 15 April 2020   18:46 236 19 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Ketika Sore Tidak Kau Lintasi
ilustrasi: Pixabay/josealbafotos

Sore begitu lengang
Hanya kendaraan-kendaraan yang tergesa berlalu ke arah jalan pulang

Ya, sore menjadi begitu lengang
Semenjak engkau tidak melintasinya lagi

"Aku juga akan ke selatan," katamu, dulu, ketika sore begitu riuh

Lampu merah terasa terlalu lama menyala
Dan jalan kembali macet sebelum lampu kuning mendapat giliran
Suara klakson menggantikan cicit burung menanti maghrib
Lalu lampu-lampu jalan benderang bersinar untuk menipu malam

"Benarkah kamu ke selatan?" tanyaku pada perjalanan yang semakin jauh ke arah utara
Melewati tugu melengkung dengan ruas lintasan di bawahnya yang terlihat penuh nyaris tanpa sisa

"Aku ke selatan," gelakmu tanpa suara, sambil menerka bahwa aku sudah semakin ke utara

Aku menengok ke luar jendela
Melihat sore yang segera berlalu

"Kapan sore kau lintasi lagi?" tanyaku

Sore yang riuh seperti sudah terlalu lama berlalu
Saat kendaraan terus saling berhimpit
Dan langkah kaki terus tergesa mengejar waktu

Ternyata kita tidak menyukai sore yang lengang
Kita mencintai sore yang tergesa dan malam yang cepat berlalu
Lalu pagi segera tiba

Pada irisan siang yang beruntung, kita akan dapat melewatkan sepotong waktu di bawah lonceng yang berdentang
Dan nyanyian merambati dinding-dinding tinggi di dekat altar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x