Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... Lainnya - an ordinary people

ordinary people

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Asrama Putri: [End]

17 September 2019   08:08 Diperbarui: 17 September 2019   08:16 289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: pixabay.com

"Bapak, bagaimana kondisi Ibu?"

"Baik. Kondisinya stabil. Itu mengapa aku lebih memilih untuk pulang. Aku minta Runi telepon ke rumah kalau ada yang penting. Kamu ingin bertemu Ibumu? Besok pagi, kita pergi ke sana.

"Ada yang perlu kamu tahu, ini bacalah. Surat ini ditulis nenekmu saat kamu datang ke sini,"Pak Maman segera memberi waktu Ndari untuk membaca, bahkan menitikkan air matanya

"Jadi...Bu Jannah itu...,"

"Ibumu. Iya. Dan kamu itu anakku. Aku tak perduli masa lalu ibumu. Aku menikahinya. Bukan menikahi masa lalunya. Aku Bapakmu dan dia Ibumu. Aku tak perduli darah siapa yang mengalir dalam dirimu. Anak ibumu adalah anakku.

"Ibumu wanita yang mulia. Ia lebih dahulu menerimaku seutuhnya. Ia tahu aku mandul. Tidak bisa memberinya keturunan. Tapi ia tetap mau mencintai aku. Ia mau menikahi aku. Padahal kalau dia mau, dia masih bisa memilih pria yang lebih menarik dan punya posisi lebih tinggi dari aku. 

"Aku bisa menerima ibumu yang bukan lagi perawan saat ia menikah denganku. Aku tahu itu. Tapi bukan karena aku putus asa gara-gara aku mandul, atau karena rasa bersalahku, aku tak bisa menjaga ibumu, hingga ia bisa diperkosa orang bejat itu. Bukan karena itu.

"Aku menyukai ibumu. Wanita yang sempurna bagiku. Ketangguhannya, keluguannya, kesederhanaanya, dan semua yang ada padanya aku menyukainya."

Sundari diam meski dadanya sesak menahan haru. Ingin rasanya ia sujud di bawah kaki orang tua yang masih terlihat gagah ini. Seorang Bapak yang sejak kecil hanya ada dalam angan-angannya. Seorang Bapak yang ternyata lebih dari yang pernah ia impikan selama ini.

"Kamu mewarisi darah ibumu. Pertama kali aku bertemu, aku tahu betul bahwa memang kamu adalah anak Ibumu. Aku merasa lengkap. Seorang istri dan seorang anak gadis yang manis sepertimu.

"Tentu saja ada empat anak lagi yang harus aku urusi. Mereka pun anak-anakku. Sebagai bapak, aku pun harus mau maju bahkan saat anakku berbuat salah, aku juga ikut bersalah, karena aku tak bisa mendidik mereka dengan benar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun