Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Hujan yang Masih Terlalu Bahagia di Bulan Juni

4 Juli 2022   14:12 Diperbarui: 5 Juli 2022   22:23 145 22 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Hujan di Kalibaru Cottages, Banyuwangi. Dok. penulis

Kalau memang hujan masih terlalu bahagia di bulan Juni, kita siapkan saja cangkir demi cangkir kopi untuk menyokong barisan yang mengawal kata, paragraf, dan laku dengan riang gembira. Tak perlu takut kepada mereka yang bersekutu mengendalikan imajinasi dengan seruan-seruan indah, terbang bersama debu ke arah gunung. 

Tak usah risau kalau hujan masih belum beranjak dari bulan Juni. Meskipun tanah basah melumpur bersama daun dan ranting menyuguhkan alur kehidupan, kita masih bahagia, bergerak menuju catatan rindu dibimbing orkestra air sungai. Masih ada harapan yang perlu terus dirawat bersama impian-impian kecil ditemani tembang merdu semesta. 

Hujan yang masih menikmati tarian tubuh di bulan Juni adalah kita yang sama-sama memimpikan sebuah perjumpaan atas nama rindu, melangit dalam lantunan doa tak pernah memaksa. Ketika suara bising menangkap langit dari tombol-tombol digital semakin berkuasa, orang-orang bersekutu menentukan keinginan masa depan. 

Kita di sini saja, memeluk hasrat sederhana yang direkam seduhan kopi di batas malam. Karena hujan yang masih betah di bulan Juni adalah ledakan kecil tentang hasrat jujur yang tak perlu dimusnahkan hanya karena nasehat-nasehat bijak yang berujung dalam perjamuan dan persekongkolan.

Banyuwangi, 14 Juni 2022

Senja di sebuah muara sungai di Lamongan. Dok. Penulis
Senja di sebuah muara sungai di Lamongan. Dok. Penulis
DI MUARA MENCUMBU SENJA

Ada yang berusaha, melabuhkan doa-doa tak pernah mengeluarkan suara, tak pula dalam bisik-bisik tanah rentah. Ada yang berharap, melesatkan hasrat tak pernah menggetarkan lidah, menyuburkan diam dipahat pada kerikil sungai. Kemarau memang mulai mengheningkan laku bersama panas membakar waktu. Namun, masih ada senyum semestinya disimpan bersama debu mulai berfatwa.

Tentu orang-orang dusun masih menyisipkan bahagia ketika sungai-sungai masih gempita mengalir ditemani hujan masih bertandang, meskipun kegelisahan juga mulai mengada dalam tembang panas sudah semestinya hadir. Di muara, semua bertemu dalam hukum percumbuan yang terus merawat dan memperjuangkan harapan. 

Senja di muara mengabadikan cerita terus beranjak dari waktu ke waktu: orang-orang dusun menancapkan masa depan di tanah tegalan dibentengi hutan jati. Ada lelah, memang. Ada luka, pasti. Namun, senja mengabarkan perjalanan yang selalu mengikhlaskan dirinya direngkuh malam. Bukan tentang kekalahan dan kelemahan, tetapi sebentuk kehidupan terus mengada. 

Lamongan, 1 Mei 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan