Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Biola Tak Berdawai", Perempuan yang Terus Memperjuangkan Kehidupan

17 Januari 2022   16:19 Diperbarui: 18 Januari 2022   17:51 1223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ketiga, opresi terhadap perempuan menyebabkan penderitaan paling buruk bagi korban, meskipun penderitaan yang ditimbulkan muncul dengan tidak disadari karena adanya prasangka seksis, baik dari pihak opresor maupun dari pihak korban. Keempat, opresi terhadap perempuan memberikan model konseptual untuk memahami bentuk opresi lainnya.

Menurut pandangan feminis radikal-libertarian, pilihan menjadi ibu dengan fungsi reproduksi alamiahnya dianggap kembali menyuburkan akar opresi jender yang terjadi pada diri perempuan akibat dari sistem seks/jender yang sudah terkonstruksi dan menyatu dalam kehidupan kultural danreligius yang dihegemoni oleh kelas patriarki (Tong, 2006: 69).  

Sementara, dalam pandangan feminis radikal-kultural, perempuan tidak harus membebaskan dirinya dari peran ibu biologis dan lari ke reproduksi buatan dan lebih memposisikan reproduksi alamiah sebagai sebuah kekuatan bagi perempuan yang membedakan mereka dengan laki-laki (Tong, 2006: 111). 

Perdebatan di atas memunculkan pemikiran kritis untuk mempersoalkan kembali konsep ibu dan ke-ibu-an, terutama terkait dengan inferioritas perempuan dan superioritas laki-laki.

Bagi feminis radikal-libertarian, peran ke-ibu-an secara biologis hanyalah mitos yang dikonstruksi secara sosio-kultural berdasarkan beberapa pertimbangan, yakni: (1) semua perempuan perlu menjadi ibu; (2) semua ibu memerlukan anak-anaknya; dan, (3) semua anak memerlukan ibunya (Tong, 2006: 113). 

Mitos-mitos seputar ibu dan ke-ibu-an itulah yang kemudian melahirkan inferioritas perempuan terhadap laki-laki, tidak hanya dalam ranah domestik, tetapi lebih jauh lagi, dalam ranah publik (masyarakat dan negara), baik dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat kapitalis kontemporer: sebuah transformasi ideologi patriarki, tentu saja dengan partikularitas konteksnya masing-masing (Keller, 2005: 100; Cyba, 2005). 

Adapun pemikir feminis radikal-kultural, meskipun tidak menyalahkan sepenuhnya analisis libertarian tentang peran ibu yang menjebak perempuan dalam rutinitas domestik selama hampir 24 jam, tetap berpandangan bahwa kesadaran perempuan untuk memahami fungsi tubuh dan peran ke-ibu-an yang bisa dimainkan dalam mengasuh anak, di mana mereka mendapat porsi yang lebih besar, akan menjadi sumber bagi kuasanya untuk berbuat lebih banyak bagi kehidupan (Tong, 2006: 119-122). 

Pemahaman para pemikir feminis radikal-kultural menemukan kontekstualisasinya, misalnya, dalam beberapa kajian seputar ibu dan ke-ibu-an serta peran strategisnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara yang menghasilkan konsep “kesamaan jender” dalam konteks lokalitas masing-masing. 

Atkinson & Errington (dikutip dalam Ong & Peletz, 1995) menjelaskan bahwa di negara-negara Asia Tenggara yang mempunyai budaya insular (melihat ke dalam) lebih menekankan kesamaan jender dan usaha untuk saling melengkapi. Perempuan juga memiliki hak prerogatif, kekuatan dan potensi spiritual, dan sebagian besar keistimewaan yang dinikmati oleh laki-laki. 

Peletz (1996) dalam kajiannya tentang jender di masyarakat Melayu menjelaskan bahwa pada masa awal periode 1450-1680 perempuan sangat aktif dalam ritual komunal sepertihalnya yang terjadi wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara. Perempuan dengan kapasitas reproduktif dan regeneratifnya memperoleh kekuatan magis dan ritual yang sulit ditandingi laki-laki. 

Kondisi itu berubah pada masa-masa akhir periode tersebut, ketika Islam dan juga “agama-agama besar lainnya” (terutama Budha dan Kritianitas) yang tidak menyediakan basis tekstual bagi partisipasi perempuan berkembang di Asia Tenggara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun