Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Biola Tak Berdawai", Perempuan yang Terus Memperjuangkan Kehidupan

17 Januari 2022   16:19 Diperbarui: 18 Januari 2022   17:51 1223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam perbincangan dan interaksi sosial, pelacur adalah sosok liyan yang sudah selayaknya dieksklusi dan dimarjinalkan dari kehidupan sosial karena kehadirannya hanya menjadi cacat moral serta mengganggu ketertiban umum.

Ketegasan dan kekuatan pilihan untuk tidak menyalahkan atau menghakimi dosa-dosa yang sudah diperbuat ibunya menunjukan hadirnya makna yang sengaja dikontestasikan oleh sineas terhadap rezim kebenaran tentang pelacur dan dosanya. 

Melacur dan membunuh janin memang dosa yang memalukan dalam relasi sosio-kultural, tetapi masalahnya masyarakat seringkali berkacamata kuda dalam menilai persoalan tersebut. 

Selalu ada alasan-alasan yang melatarbelakanginya dan mereka tidak berdiri sebagai entitas otonom tetapi selalu lahir dari konstruksi sosio-kultural masyarakat. Perbandingan yang dilakukan Mbak Wid dengan kisah Drupadi yang ditelanjangi oleh Kurawa demi menyelamatkan Pandawa menjadi penegas bagi pilihan yang dilakukan sang ibu. 

Drupadi adalah ‘ibu’ bagi ‘anak-anaknya’, Pandawa, karena ia ‘rela’ tubuhnya ditelanjangi sebagai taruhan Pandawa dan Kurawa di meja judi, demi menyelamatkan mereka. Drupadi dan ibu Mbak Wid, dengan demikian, berada dalam posisi yang sama untuk menyelamatkan sebuah masa depan. Untuk mendukung wacana tersebut, sineas BTB menghadirkan adegan flash back. 

Ruang tamu di rumah Mbak Wid remaja. Dinding bambu berlubang sehingga cahaya matahari menembusnya. Tampak meja kayu kecil di samping dinding itu. Sebuah kendi (wadah air putih dari tanah, pen) di atasnya. Ruang tamu itu dekat dengan kamar tidur ibunya. Cahaya remang abu-abu tampak dari kamar itu. 

Siluet ibunya bersama lelaki tampak separuh. Mbak Wid remaja membaca sebuah komik, mengenakan kaos putih. Komik Mahabarata yang menceritakan Durupadi dikerubuti kesatria Kurawa. Mbak Wid remaja tetap memegang komik, matanya menatap kamar ibunya. Ia murung, tapi tidak menangis. Kamar ibunya, masih tampak remang abu-abu. Ibunya dipeluk salah satu pelanggannya.

Pemunculan adegan flash back sebagai pengiring cerita masa lampau Mbak Wid merupakan pelogikaan naratif tentang ketepatan keputusannya untuk tidak menyalahkan sang ibu atas perbuatannya. Kemiskinanlah, sebagaimana  ditandakan oleh dinding bambu berlubang, yang  menjadikan sang ibu melacur demi untuk membesarkan anak yang dicintainya. 

Mbak Wid remaja sudah biasa dengan aktivitas si ibu dan ia lebih memilih untuk “serius” membaca Mahabarata yang dari dalamnya ia mendapatkan perbandingan dari apa yang dilakukan oleh ibunya dengan apa yang dialami Drupadi. Penggambaran wajah Mbak Wid remaja ingin memberikan suasana batin yang dilingkupi “kesedihan”, tapi tidak ada tangisan. 

Dalam masa pertumbuhan, sangat wajar ketika ia mempunyai perasaan tersebut, meskipun ia tetap tidak bisa menolak atau menyalahkan ibunya atas semua yang ia lihat karena itu semua dilakukan demi untuk membesarkan dan menyekolahkannya. 

Pemilihan adegan yang cenderung menggunakan pencahayaan temaram abu-abu, merupakan penandaan visual untuk mendukung dan memperkuat kewajaran dari tindakan sang ibu dan respon memaklumi dari Mbak Wid remaja. 

Secara konotatif, pemberian cahaya abu-abu ketika sang ibu sedang melayani tamu di kamar tidur menandakan keberadaannya dalam “ruang abu-abu” yang mana batas antara “hitam” dan “putih”, antara “dosa” dan “pahala” menjadi kabur. 

Tidak ada justifikasi salah dan benar yang bisa diberikan kepada sang ibu ketika berada dalam ruang itu karena ia mempunyai alasan kuat untuk lebih mengedepankan masa depan dan kebahagiaan anaknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun