Mohon tunggu...
Ikwan Setiawan
Ikwan Setiawan Mohon Tunggu... Dosen - Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Dosen dan Peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Biola Tak Berdawai", Perempuan yang Terus Memperjuangkan Kehidupan

17 Januari 2022   16:19 Diperbarui: 18 Januari 2022   17:51 1223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Wacana-wacana tersebut menjadi aturan-aturan yang mengendalikan pola pikir dan tindakan subjek perempuan dan laki-laki dalam masyarakat mengenai peran ke-ibu-an perempuan. 

Kedua tokoh perempuan dalam BTB menjadi subjek bagi pengetahuan ke-ibu-an yang tetap berlangsung dalam masyarakat hingga saat ini dan menjadi kuasa untuk ‘mengkotak’ perempuan dalam pemahaman awal domestikisasi. 

Namun demikian, dalam konteks Indonesia, menjadi ibu adalah sebuah tanggung jawab yang memang diemban perempuan karena posisi tersebut dianggap sebagai pilihan dan kehormatan untuk melanjutkan kehidupan di muka bumi.

Tidak mengherankan, kalau Mbak Wid marah ketika mendengar pernah menggugurkan kandungannya, Mbak Wid marah, sampai harus menghamburkan kartu tarot dan mengumpat. Mbak Wid berhak mengumpat bahkan menganggap Renjani “sinting” karena telah membunuh anak yang seharunya berhak menikmati kehidupan. 

Sampai di situ, Mbak Wid dikesankan telah masuk dalam jejaring relasi kuasa patriarki yang memosisikan perempuan sebagai sekedar ibu yang harus menghidupi anak-anaknya. Kondisi itulah yang menjadikan Renjani menyesal dan harus ketakutan, "menutup telinga", ketika Mbak Wid ‘memarahinya’ karena ia telah menjadi liyan yang melawan peran biologisnya. 

Renjani memang bersalah karena berani melawan peran ibu bagi perempuan yang secara turun-temurun disosialisasikan dan diyakini sebagai rezim kebenaran. Penggambaran rasa takut dan penyesalan yang dialami Renjani serta kemarahan Mbak Wid mewacanakan Renjani benar-benar telah salah dengan tindakannya di masa lampau; membunuh calon anaknya sendiri. 

Dengan bentuk narasi tekstual tersebut, makna tentang ibu dan ke-ibu-an yang diemban perempuan hadir dan mewacanakan hakekat perempuan yang memang sudah selayaknya menjadi ibu yang mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan anaknya.

Alasan Renjani melakukan dan membiarkan aborsi berlangsung, meskipun akhirnya berakibat tragis bagi kehidupannya, merupakan persoalan tersendiri yang menarik untuk didiskusikan. Ketika menjadi balerina, Renjani hanya “memikirkan tarian balet” sehingga ia “tidak pernah memikirkan laki-laki apalagi cinta”. 

Pilihan untuk tidak memikirkan cinta, apalagi melahirkan seorang anak, merupakan wujud kontestasinya sebagai perempuan yang semestinya bisa dan berhak menggeluti profesi yang dikehendaki serta tidak semata-mata menjadi ibu yang harus mengurusi anak. 

Tindakan aborsi menjadi hak dia untuk mempertahankan dirinya sebagai makhluk yang mempunyai kehendak otonom untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. 

Menggugurkan janin dalam kandungannya merupakan satu upaya resisten yang dilakukan Renjani demi ‘menghilangkan’ sesuatu yang menjadi paksaan dan beban dalam menjalani kehidupan, meskipun, pada akhirnya, ia harus mengekspresikan penyesalannya setelah mengetahui kehadiran Dewa dan teman-temannya dalam kehidupannya di Yogya. Dengan demikian, sampai dengan peristiwa tersebut, film ini masih berusaha menghadirkan wacana ideologis tentang peran ke-ibu-an. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun