Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Berburu Seru di Gurun Telaga Biru Bintan

10 November 2018   19:26 Diperbarui: 10 November 2018   19:54 413 4 3
Berburu Seru di Gurun Telaga Biru Bintan
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi

Siang itu, saat saya berkunjung ke Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau bersama keluarga dan kerabat, mentari berpendar terik, sinarnya putih berkilauan, memantul-mantul dari "pasir" yang menghampar luas. Selintas seperti serpihan-serpihan mutiara kecil yang tercecer.

Suhu yang begitu panas membuat beberapa kerabat urung berkeliling "gurun". Mereka lebih memilih untuk tetap diam di dalam kendaraan, sebagian memutuskan untuk duduk manis di kedai-kedai kecil yang berjejer rapi di sepanjang pintu masuk sambil menyesap segarnya air kelapa muda.

Kedai-kedai di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Kedai-kedai di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Sementara saya dan si buah hati tetap memutuskan menyusuri "pasir-pasir" itu. Panas menyengat kami kesampingkan. Saya pikir, rugi banget sudah jauh-jauh dari Batam, Kepulauan Riau, menempuh perjalanan dengan kapal RoRo selama hampir 60 menit, dan kendaraan roda empat sekitar 20 menit, setelah sampai malah hanya menonton orang berjalan-jalan.

Matahari yang bersinar terik di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau, membuat muka saya semakin hitam hehe. | Dokumentasi Pribadi
Matahari yang bersinar terik di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau, membuat muka saya semakin hitam hehe. | Dokumentasi Pribadi
Akhirnya setelah mengoleskan sun block dan membawa sebuah payung berukuran lebar, saya mengajak anak untuk berkeliling Gurun Telaga Biru. Namun ternyata, payung tidak dapat diandalkan untuk menghalau silau. Angin bertiup kencang, sehingga payung tersebut beberapa kali terbawa angin dan terbalik. Dengan berat hati akhirnya payung saya tutup.

Mirip Gurun Sahara

Namun, sinar matahari yang begitu terik ternyata membawa berkah tersendiri. Suhu panas tersebut justru membuat objek wisata Gurun Telaga Biru berada di titik paling bagus untuk dijadikan sebagai latar belakang foto untuk diunggah di sosial media. Langit begitu biru, pasirnya berkilauan.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Selintas, kami seperti sedang berada di Gurun Sahara, padahal hanya di bekas galian pasir di Desa Busung. FYI, hamparan pasir seluas 6.000 hektar tersebut memang bekas galian pasir bauksit yang dulunya dijual ke Singapura. Namun, setelah dilarang pemerintah untuk mengekspor pasir, lahan tersebut menjadi terbengkalai. Setelah berlalu puluhan tahun, bekas galian tersebut mengeras menyerupai gurun di Timur Tengah.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Warga setempat akhirnya berinisiatif memanfaatkan tempat tersebut untuk objek wisata, Terlebih, ditengah "gurun" tersebut juga ada genangan air cukup luas yang berwarna biru kehijauan. Sehingga, terlihat sangat kontras dengan gumpalan pasir yang berwarna putih kecoklatan.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Untuk menarik lebih banyak pengunjung, pengelola tak hanya mengandalkan panorama gurun dan telaga biru, mereka juga secara bertahap bahu-membahu menyediakan beberapa properti instagramable, mulai dari ayunan, panahan, pelantar, kartun Upin Ipin, spot romantis, "unta", hingga jasa penyewaan perahu dan sepeda kayuh bebek.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Untuk berfoto di spot-spot instagenic, pengunjung dikenakan biaya Rp5.000/properti, sementara untuk perahu dan bebek kayuh biaya sewanya mulai dari Rp15.000/orang. Biaya tersebut dibayarkan langsung ke petugas yang berjaga. Saat saya berkunjung ada anak kecil yang berjaga di setiap titik untuk berfoto ria. Sementara di bagian penyewaan perahu, dijaga beberapa ibu-ibu.

Upin Ipin di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Upin Ipin di Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Biaya tersebut menurut saya cukup terjangkau. Apalagi tidak ada biaya masuk ke objek wisata tersebut. Pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir Rp2.000 untuk sepeda motor, dan Rp5.000 untuk mobil. Bila enggan membayar biaya tambahan, cukup jalan-jalan saja melihat-lihat, atau berfoto di tempat yang tidak dikenakan biaya. Apalagi spot berbayar hanya sebagian kecil dari objek wisata tersebut.

Bawa Topi, Kacamata Hitam, Sepatu Nyaman

Panas yang menyengat tanpa membawa amunisi yang memadai membuat saya hanya sanggup berkeliling di sebagian objek wisata. Saya hanya berkeliling di bagian depan saja, tidak sampai ke bagian yang ada dua bukit kecil yang mirip miniatur Piramida Mesir --tanpa Sphinx.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Lain waktu, bila saya berkesempatan ke sana lagi saya akan membawa topi lebar yang dapat diikatkan dileher. Gunanya tentu saja untuk menghalau silau. Selain itu, tentu saja membawa kacamata hitam dan mengenakan sepatu tertutup lengkap dengan kaos kaki yang menyerap keringat. Selain muka, kaki juga lumayan panas lho kena terik matahari.

Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Apalagi biasanya ber-swa foto itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Setelah mengambil satu foto, pasti tidak puas dan ingin mengambil foto selanjutnya, baik untuk mengulang foto sebelumnya, maupun mengambil gambar dengan pose dan latar belakang foto yang berbeda.

Plang Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Plang Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Apalagi bila kita dan anggota keluarga atau kerabat/sahabat yang lain saling foto. Bila satu orang saja memerlukan waktu foto sekitar 30 menit, berarti kalau dua orang sudah satu jam. Bila tidak mengenakan topi, sunblock, kacamata hitam, yakin deh tidak akan kuat berdiri selama itu di titik yang sama.

Bagaimana Menuju ke Sana?

Bila berasal dari Jakarta atau kota lain di luar Kepulauan Riau, akses yang paling mudah adalah dengan menggunakan pesawat terbang. Kita bisa membeli tiket pesawat yang menuju Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Setelah sampai di Tanjungpinng, kita tinggal menempuh perjalanan darat sekitar 45 menit menuju Bintan.

Jembatan menjadi patokan menuju Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Jembatan menjadi patokan menuju Gurun Telaga Biru, Bintan, Kepulauan Riau. | Dokumentasi Pribadi
Bila tidak memungkinkan mengambil jalur melalui Tanjungpinang, bisa juga mengambil jalur melalui Batam. Setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, kita tinggal melanjutkan dengan speedboat menuju Tanjunguban --sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 20 menit.

Saya dan keluarga karena berangkat dari Batam dan membawa kendaraan sendiri, berangkat dengan menggunakan kapal RoRo yang memerlukan waktu tempuh ke Tanjunguban sekitar 60 menit. Kemudian dilanjutkan dengan jalur darat sekitar 20 menit. FYI, di Bintan akses angkutan umum masal masih sangat terbatas. Sehingga, ada baiknya membawa kendaraan sendiri. Namun jangan khawatir, ada banyak penyewaan mobil kok di sekitaran Tanjunguban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2