Mohon tunggu...
Cipta Mahendra
Cipta Mahendra Mohon Tunggu... Dokter - Dokter yang suka membaca apapun yang bisa dibaca.

Kesehatan mungkin bukan segalanya, tapi segalanya itu tiada tanpa kesehatan.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Refleksi Covid-19: Bertahan Hidup

24 April 2021   00:58 Diperbarui: 24 April 2021   01:34 262
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jumlah penduduk dunia dan proyeksi untuk masa depan. Sumber: ourworldindata.org/world-population-growth 

Nyawa-nyawa masih terus melayang. Masyarakat masih banyak yang dirundung kesulitan ekonomi akibat hilang pekerjaan. Tidak jarang pula itu memunculkan situasi keterpaksaan orang yang terkena untuk menyimpang demi kelanjutan hidup; menjadi pengedar narkoba, merampok toko, menipu dalam bisnis, dan sebagainya. Virus baru muncul: virus kejahatan.

Tidak cukup dengan tekanan alam dan sosial, tekanan dalam diri bahkan juga ikut-ikutan menambah kompleksitas hidup. Isolasi berkepanjangan membuat perasaan kesepian dan depresi muncul, tidak terelakkan. Ini menyerang semua lapisan, tidak hanya di kalangan orang lanjut usia (lansia) saja tetapi juga termasuk generasi muda dan produktif. Manusia sebagai makhluk sosial tentu membutuhkan orang lain sebagai napas hidupnya. Keberadaan (presence) orang membuat diri merasa hidup, lepas sejenak dari kepenatan tuntutan hidup dan pekerjaan rutin yang dilakoni setiap hari. Di saat pekerjaan dan hidup memang sudah banyak bermasalah dan banyak persaingan - sikut kiri sikut kanan, pandemi semakin menambah beban, tidak hanya ancaman kesehatan diri tetapi juga mental. Sulitnya hidup jadi manusia.....

Jadilah Cerdas

Nasi sudah menjadi bubur. Pandemi sudah terjadi. Masalah baru bertambah. Mau tidak mau, kita harus jadi orang cerdas untuk bisa bertahan hidup. Virus Covid-19 sedang sibuk mencari mangsa di luar sana, memburu mereka yang tidak awas dan lemah untuk ditidurkan selamanya. 

Orang-orang yang menjaga protokol kesehatan dengan baik dan konsisten - pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, hindari kerumunan - serta menjalani gaya hidup sehat yang akan mampu bertahan dari ancaman pandemi ini. Mereka yang lengah - tidak peduli, tidak sadar, tidak banyak wawasan seputar Covid-19 - akan kalah dari virus ini, tersingkir dari kompetisi bertahan hidup. Mereka yang tidak banyak pengetahuan untuk menjaga kesehatan akan tersesat dan jatuh dalam gaya hidup yang berisiko, memperbesar peluang kesakitan dan memperpendek usia hidup mereka sendiri.

Hal serupa juga berlaku untuk virus kejahatan dan ancaman kesehatan mental. Orang-orang yang banyak membaca dan mendengar akan mendapat banyak ilmu dan menjadi senjata untuk menjaga diri dari upaya-upaya penipuan dan penghasutan yang memanfaatkan ketidaktahuan dan kelengahan mangsanya. 

Orang-orang yang menguasai ilmu strategi dan beladiri akan menjadi cerdik dan kuat untuk menjaga fisik diri dari upaya-upaya pergulatan fisik oleh orang-orang jahat (misal: perampok/maling) di luar sana yang mencoba menaklukan lawan-lawannya. 

Orang-orang yang berpikiran terbuka dan kritis akan mendapat insight dan mampu menilai secara objektif untuk segala permasalahan yang ada; orang-orang ini tidak akan mudah terhasut dan mudah menghakimi orang lain. 

Orang-orang yang berpikiran positif dan punya segudang cara untuk mengisi hidup akan lebih mampu bertahan dari badai kebosanan dan menghalau perasaan hampa dan depresi di tengah tempaan bertubi-tubi cobaan hidup.

Sebagai contoh kasus konkrit all-in-one-case yang berpotensial untuk penerapan prinsip-prinsip 'jadilah cerdas' ini, kasus kekerasan bersentimen rasisme yang terjadi di AS bisa menjadi bahan refleksi. Adanya pandemi membuat sebagian orang yang terdampak disana mengalami kesulitan hidup dan akhirnya merasa harus mencari sesuatu atau seseorang yang bisa menjadi kambing hitam untuk kesulitan yang dialaminya itu. Media-media massa setempat deras memberitakan China sebagai tempat pertama kemunculan Covid-19, termasuk pula hasutan-hasutan negatif dari mantan presiden AS itu, Donald Trump, bahwa China harus bertanggung jawab untuk pandemi ini. 

Bagi orang-orang berpikiran sempit/cetek, pemberitaan itu menjadi bensin yang menyalakan api dendam, api besar yang mencari mangsa untuk menunjukkan panas hebatnya. Jadilah orang-orang etnis Asia - yang dilihat mereka sebagai bentuk (badan) konkrit 'China' yang mereka benci itu - dibantai. Agak ironis sejatinya... karena etnis yang diserang bukan hanya China, tetapi juga 'menyiprat' ke etnis-etnis lain seperti Korea dan Vietnam. Mungkin karena corak wajah yang mirip... entahlah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun