Mohon tunggu...
Christine Gloriani
Christine Gloriani Mohon Tunggu... Tenaga Kesehatan - Pembaca yang belajar menulis

Pembaca yang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Eksperimen Cinta 4, Taruhan

31 Desember 2018   09:10 Diperbarui: 1 Januari 2019   07:23 234
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Lang, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong." Elang membelok dengan cepat sampai aku memejamkan mata karena takut jatuh. Nggak pernah lihat Elang mengendarai motor dengan kecepatan gila-gilaan seperti saat ini.

Elang membelokkan motor di warung bakso. Aku turun dan segera mengikuti langkah cepat Elang. Buset, ketinggalan mulu. Ini anak ingat nggak kalau ke sini ngajak seseorang.

"Lang, mau cerita nggak?"

Elang mengembuskan napas dengan kasar. Aku menggenggam tangannya sambil berkata, "Sekuat-kuatnya orang pasti butuh orang lain untuk bersandar. Kamu bisa percaya sama aku."

"Kamu sudah tahu ceritanya kan?" Elang menerawang menatap penjual bakso yang sedang sibuk membuat pesanan. Warung bakso ini ramai sekali tapi kami masih dapat tempat kosong di pojokan.

"Tapi aku tidak tahu gimana perasaanmu yang sebenarnya. Selama ini kamu pintar sekali menutupinya dengan topeng sedingin es." Elang masih tidak mau menatapku. Aku menarik tangan dengan putus asa.

"Ayah sangat menyayangiku meski aku bukan anak kandungnya. Aku merasa tidak enak padanya. Pasti dia melihat wajah orang yang menghamili ibu saat melihatku, membuatku merasa terhina. Aku tidak habis pikir mengapa ibu tega mengkhianati ayah."

"Itu bukan salahmu. Ayahmu sangat menyayangimu, mungkin dia masih mencintai ibumu sampai sekarang dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengobati kerinduannya. Matamu hitam seperti ibumu. Ekspresi wajahmu saat berpikir sangat mirip dengan beliau. Kalau kamu tidak yakin dengan perkataanku, tanyakan langsung pada ayahmu. Berdamailah dengan masa lalu. Ini bukan salahmu."

Elang diam, tidak mau berbicara lagi dan malah sibuk dengan hpnya. Aku juga nggak mau kalah, dari pada dicuekin mending main  Hay Day saja. Permainan ini sangat mengasikkan hingga aku tidak sadar kalau baksonya sudah datang.

Iseng-iseng aku memutar tubuh hingga duduk membelakangi Elang. Aku mengatur kamera dan mulai memotret dengan latar belakang Elang. Aku tersenyum puas melihat hasil jepretanku. Wajah Elang tidak begitu jelas tapi aku yakin kalau foto ini terpampang di instagram pasti banyak yang mengenali.

"Kok belum dibagikan di Ig atau Fb?" Elang mendongak untuk menatapku dengan pandangan menantang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun