Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Menjaga Silaturahmi pada Situasi Pandemi

14 Mei 2021   05:56 Diperbarui: 14 Mei 2021   05:54 578 43 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjaga Silaturahmi pada Situasi Pandemi
Petugas Kepolisian menghalau pemudik motor yang melawan arus untuk menghindari posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (9/5/2021). Pada H-3 jelang Hari Raya Idul Fitri 1422 H petugas gabungan dari TNI,Polri, Dishub dan Satpol PP memperketat penjagaan pemudik di perbatasan Kabupaten Bekasi dan Karawang.(ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH) [Melalui kompas.com]

Masa pandemi telah melahirkan kebijakan pembatasan-pembatasan ruang gerak. Paling terakhir adalah larangan mudik dan pengetatan perjalanan. Sementara, lazim pada momen lebaran kita berkumpul bersama keluarga. Atau juga saling berkunjung di antara para tetangga.

Bagaimana menjaga silaturahmi dalam pembatasan tersebut?

Tradisi berkunjung kepada keluarga yang dianggap lebih tua merupakan hal lumrah. Maka menjadi kewajiban, ketika anak mengunjungi orang tua, jika masih ada. Atau adik mengunjungi kakak kandung. Apabila semua tidak ada, maka kakak sepupu menjadi tujuan kunjungan. Dan seterusnya.

Tertua itu tidak melulu diukur dari umur, namun struktur di dalam silsilah keluarga juga mesti diperhatikan. Saya akan menganggap anak dari kakak Ibu memiliki derajat "lebih tua," kendati usia sepupu saya itu lebih muda daripada saya.

Pada kenyataannya, para tetua itu masih berada di kampung halaman, sehingga tradisi mudik berkembang. Pada perkembangan berikutnya, lokasi bermukimnya saudara tua sudah memencar jauh dari daerah asal.

Masih melekat dalam ingatan, Ayah saya mengajak keluarga mudik untuk sungkeman dengan orang tua atau para tetua setiap lebaran. Pada saat tetua di kampung halaman sudah tiada, Ayah saya mengajak berkunjung ke saudara-saudara dituakan. Jangan sampai kepaten obor (menjaga api silaturahmi dengan saudara-saudara) begitu kata Ayah.

Sampai suatu ketika, Ayah saya menjadi yang paling dituakan oleh keluarga besar. Jadi tidak mengherankan, sejak saat itu rumah orang tua ramai dikunjungi kerabat ketika lebaran.

Setelah generasi orang tua saya tiada, giliran saya berkunjung ke kakak dan kakak sepupu yang dituakan. Kebetulan lokasi rumahnya tidak jauh, yaitu berada di Jakarta dan wilayah Jawa Barat. Dengan itu saya tidak perlu jauh-jauh untuk melakukan "mudik."

Paling penting adalah menjaga silaturahmi dengan saudara-saudara. Mudah-mudahan tradisi demikian bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang.

Namun dua kali lebaran, pandemi Covid-19 telah meruntuhkan kebiasaan tahunan tersebut. Ditambah adanya penerapan kebijakan yang melarang mudik. Maka kian tertutup untuk kesempatan bersilaturahmi dengan saling berkunjung ke sanak saudara.

Apa boleh buat. Menghadapi pembatasan sebab pandemi itu, solusi logis untuk menjaga tali silaturahmi agar tidak putus adalah dengan memanfaatkan teknologi terkini. Belakangan, keluarga besar memanfaatkan media, seperti:

  1. WhatsApp dengan fasilitas perpesanan dan video call. Lumayan, walaupun tidak bisa bersentuhan, apalagi menikmati hidangannya, namun melalui sarana ini bisa dilakukan "tatap muka" secara virtual.
  2. Zoom. Melalui aplikasi ini, dapat dilakukan pertemuan dengan banyak keluarga di berbagai daerah. Visualisasi saudara-saudara yang ceria lumayan dapat mengobati rasa kangen.
  3. Dan lain sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN