Mohon tunggu...
Bhayu MH
Bhayu MH Mohon Tunggu...

Rakyat biasa pecinta Indonesia. \r\n\r\nUsahawan (Entrepreneur), LifeCoach, Trainer & Consultant. \r\n\r\nWebsite: http://bhayumahendra.com\r\n\r\nFanPage: http://facebook.com/BhayuMahendraH

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Ada Asa dalam Cinta - Bagian 11

4 Desember 2014   23:35 Diperbarui: 17 Juni 2015   16:02 100 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ada Asa dalam Cinta - Bagian 11
14174301761325464123

Kisah sebelumnya: (Bagian 10)

(Bagian 11)

Cinta melihat ke layar smartphone-nya, tertera nama Carmen di sana. Ia pun permisi kepada Basuki untuk mengangkat telepon. Dan begitu tombol answer ditekan, terdengar sapaan ceria dari ujung telepon, “Halooo…. Cinta……”

“Hai Men, gimana kita jadi ketemuan?”

“Ya jadi dong, lha gue udah di sini ini…”

“Di sini mana?”

“Di kantor lu. Gue udah di lobby bawah nih…”

“Ha? Kok nggak bilang-bilang?”

“Iya… ini bilang kan? Gimana?”

“Eh, maksudnya tadi sebelum nyampe. Tapi ya udah gak papa. Gue turun deh… bentar ya…”

Cinta pun mengakhiri percakapan dan menekan tombol merah reject. Ia lalu memandang ke arah Basuki dengan mata menyesal.

“Mas Bas… sori ya… ini temen-temenku udah pada dateng… Aku turun dulu ya…”

Basuki tersenyum maklum. Ia menjawab ringan, “Oh, ya udah. Santai aja. Have a nice weekend ya.”

“Siiip lah. Mas Bas juga ya… bubay…” Cinta berdiri membawa cangkir kopinya yang masih berisi setengah dan melambaikan tangan dengan keempat jari seperti memanggil. Basuki membalas dengan tangan kanan terangkat dan telapak membuka tanpa dilambaikan.

Cinta lantas tergesa keluar dari ruangan Basuki, menuju meja kerjanya dan meletakkan cangkir kopinya di sana. Ia mematikan komputer dan berjalan cepat menuju lift. Beberapa menit menunggu, lift rupanya masih tertahan di lantai teratas, sehingga Cinta pun berbalik dan menuju ke tangga. Ia berjalan cepat menuruni tangga dari lantai 3 ke lantai dasar.

Dengan agak terengah, ia sampai di bawah dan melihat Carmen dan Alya sudah duduk di kursi tunggu tamu. Mereka berdua tengah memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Beberapa pegawai yang hendak pulang masih tertahan hujan sehingga ngeriung di lobby dan teras gedung. Ada yang malah memilih kembali lagi ke tempat kerjanya karena tak mau kehujanan.

“Hai…,” sapa Cinta setengah berteriak. Ia berlari kecil dengan tangan terbuka lebar menuju kedua sahabatnya. Mengenali suaranya, Carmen pun berdiri untuk menyambut. Mereka berpelukan dan cipika-cipiki dengan heboh. Alya pun ikut bangkit dari duduknya dengan kalem, juga memeluk Cinta dan cipika-cipiki, hanya saja tidak seheboh Carmen.

“Adududuh…. Kok udah pada dateng sih? Masih jam berapa ini?” Cinta melihat jam tangannya dan terkejut melihat jarum pendek jamnya bertengger di angka 5 dan jarum panjang di angka 30. “Eh, udah jam setengah enam ya? Gak kerasa…”

“Eaaa ini tante, udah mau maghrib keleus… keasikan kerja aja sih…,” timpal Carmen.

“Engg… sebenernya udah nggak ada kerjaan sih…,” Cinta meralat, tapi ia tidak jadi meneruskan perkataannya dan malah mengalihkan pembicaraan. “Eh, Maura sama Milly mana?”

“Yaaahh… lu tahu sendiri, kantor mereka kan jauh…,” Carmen berkata sambil mengangkat bahunya.

Tiba-tiba, terdengar nada suara telepon masuk. Rupanya telepon Alya yang berdering. Gadis manis itu segera merogoh tas tangannya dan melihat ke layar, sambil menekan tombol answer, mulutnya melafalkan nama “Maura” tanpa suara ke arah Cinta dan Carmen yang tengah menatapnya.

“Haloooo Maura…”

“Hai Alya… jadi kan ketemuan?”

“Ya jadi dong, ini gue udah di kantor Cinta sama Carmen.”

“Ha? Udah sampe?”

“Iya…. Kan tadi jam lima teng Carmen udah sampe di kantor gue.”

“Eh, pada tungguin gue ya… Ini si Milly masih belum bisa keluar pula. Dia masih ditahan sama bossnya.”

“Oh, ya udah. Tenang aja, kita-kita tungguin kok…”

“Ya udah… bilangin sama yang lain ya… sori gitu…. telat…”

“Sip, tenang aja…”

Hubungan telepon pun terputus. Alya lalu mengatakan pesan yang dititipkan Maura kepada Cinta dan Carmen. Keduanya mengangguk-angguk maklum.

“Ke atas yuk, gue belum beres-beres. Sekalian nunggu yang lain kan?” ajak Cinta. Kedua sahabatnya menyetujui dan mereka bertiga lantas ikut naik tangga bersama Cinta.

Sesampai di meja kerjanya, Cinta menarik dua kursi beroda milik teman kerja sebelahnya yang sudah pulang ke dekat cubicle-nya. Carmen dan Alya lalu duduk di sana. Sambil membereskan barang-barangnya, Cinta mengobrol asik dengan kedua sahabatnya.

“Cinta, makasih ya kopinya…,” tiba-tiba terdengar suara Basuki sambil mengacungkan cangkir bekas kopinya. Cinta pun menoleh.

“Oh ya, sama-sama Mas Bas… inget lho janji gantian nraktir…,” Cinta membalas sapaan Basuki.

“Beressss…,” Basuki tertawa. Carmen dan Alya ikut menoleh ke arah sumber suara. Melihat ada kedua teman Cinta, Basuki mengangguk takzim. Carmen dan Alya pun melakukan hal yang sama. Mata Basuki menatap bergantian Carmen dan Alya. Dan refleks, Alya merasa kikuk saat matanya bersirobok dengan Basuki. Ia langsung menunduk. Basuki pun tidak mendekat karena tidak ingin mengganggu privasi Cinta. Di kantor mereka, memang sudah biasa mengajak tamu atau teman ikut ke tempat kerja. Sementara saat itu pun sudah di luar jam kerja. Jadi Basuki pun meneruskan langkah menuju pantry.

Seorang OB yang masih berjarak beberapa langkah tampak melihat Basuki yang memasuki pantry dengan membawa cangkir. Ia pun setengah berlari menyusul Basuki. Ketika Basuki membuka pintu, OB itu pun sudah berada di belakangnya dan menahan pintu itu tetap terbuka.

“Mas Bas… nggak usah dicuci… saya saja…,” OB itu berkata. Tapi tampak kalau Basuki tetap menuju wastafel cuci piring dan mencuci cangkir bekas kopi jahe yang dibuatkan Cinta tadi.

“Ah, nggak papa, kan biar Mas Udin nggak capek…”

“Adduuhh… capek gimana sih? Kan udah tugas saya…”

“Nggak papa Mas. Santai aja. Cuma satu kok…”

“Ih, Mas Bas ini kayak Mbak Cinta aja, senengnya nyuci gelas sama piring sendiri. Padahal kan Boss…”

Saat itu, Basuki sudah selesai mencuci cangkir dan mengelapnya, lalu menaruhnya di rak. Ia lalu melangkah keluar, OB bernama Udin itu pun memberi jalan. Sepintas, Basuki menepuk bahunya dan berkata ringan, “Boss apa? Semua sama aja kok Mas… kita manusia kan harus saling bantu… Yuk, duluan ya…”

“Ati-ati di jalan ya Mas…,” OB itu menunduk takzim.

Karena percakapan itu terjadi hanya beberapa meter dari tempat Cinta dan kedua sahabatnya duduk, ditambah pintu pantry yang terbuka, maka jelas terdengar oleh mereka bertiga. Saat Basuki lewat, kembali ia melambaikan tangannya dan dibalas oleh Cinta. Carmen pun latah ikut melambai, sementara Alya cuma tersenyum dikulum.

“Eh, siapa tuh Ta? Keren!” tanya Carmen.

“Dia? Pemred majalah sebelah…,” Cinta menjawab santai.

“Pemred? Oh, pantesan si OB bilang boss…,” Carmen menanggapi bernada maklum. Tapi ia masih penasaran, “Eh, kok dia bilang itu kopi dari lu?”

Cinta melihat ke arah Carmen yang tengah menatapnya dengan pandangan menyelidik. Sambil memasukkan beberapa benda terakhir ke tas tangannya, Cinta mengedikkan bahu dan menjawab bernada acuh tak acuh, “Yah… emang kenapa?”

“Lu buatin kopi buat dia, gitu?” Carmen mendesak. Cinta tampak gemas dengan desakan itu.

“Hhhhh… ini orang kalo nanya… Iya, terus kenapa?”

Carmen menyenggol siku Alya, yang saat itu tengah memainkan pad-nya. Alya pun spontan menengok dengan dagu terangkat, menunjukkan gesture bertanya, “Apa?” tanpa suara.

“Ini… Cinta keknya ada apa-apa nih sama si Boss…,” goda Carmen. Cinta sudah kebal dengan gaya Carmen. Ia bereaksi sewajarnya, malah menantang balik.

“Ada apa?”

“Iya… ada apa dengan Cinta?” Carmen mencubiti pipi Cinta dengan gemas. Tentu saja Cinta menepis tangan sahabatnya itu.

“Iihhh… apaan sih… Emang gue boneka dicubitin?” Cinta sewot.

“Emang lu kayak boneka sih…,” dalih Carmen.

“Itu tuh… dia lebih kayak boneka. Imutan dia daripada gue kan?” kata Cinta sambil menunjuk Alya. Tentu saja Alya jadi bingung.

“Lho, kok gue dibawa-bawa? Ini masalah Cinta sama si Boss tadi kan? Siapa namanya Ta?” Alya dengan cerdik mengembalikan bola smash dari Cinta.

“Iya nih Cinta… namanya siapa? Mas Bass... siapa?” Carmen kembali mengarahkan tembakannya kepada Cinta. Gadis itu pun menggelengkan kepala, menyadari “bully” kepadanya belum selesai.

“Basuki.”

“Ha? Basuki?”Carmen tampak mengernyitkan dahi dengan mulut menganga. Sengaja air mukanya dibuat sedramatis mungkin.

“Iya. Kenapa emangnya?” Cinta bertanya cuek.

“Kok… namanya jadul banget…?” komentarnya dengan nada tak suka.

Alih-alih Cinta, ternyata malah Alya yang membuka mulut, “Ih, kenapa emangnya. Suka-suka ortunya dong kasih nama? Kok lu yang sewot?”

Merasa mendapatkan bala-bantuan, Cinta pun mengeroyok Carmen, “Iya nih anak. Comel banget ngomentarin nama orang…”

Carmen merasa terpojok tiba-tiba kedua sahabatnya malah membela orang lain. Sehingga dengan defensif ia berkilah, “Yaa… kasihan aja gitu… Masa’ orangnya keren namanya kayak pelawak…”

“Ya biarin, yey!” Alya menjulurkan lidahnya sambil melotot.

“Tauk nih anak. Daripada namanya keren tapi orangnya nggak… Hayo, mending mana?” Cinta pun masih terus membela Basuki.

“Adddduuuuh… kok kalian berdua jadi kompak gini sih? Udah ah, aku nyerah!” Carmen mengangkat tangannya dan beranjak dari tempat duduk.

“Hei! Mau ke mana?” Cinta menyergah.

“Toilet,” jawab Carmen tanpa menoleh. Cinta dan Alya berpandangan, geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sahabatnya. Setelah beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Carmen berhenti, menoleh, dan berteriak, “Cinta, di mana toiletnya?”

Cinta memandang ke arah Carmen dan tanpa suara menunjuk ke satu arah yang berbeda dengan arah tujuan Carmen semula berjalan. Sambil berkata “ooo”, Carmen pun berbelok.

“Huh! Makanya jangan sok tau di kantor orang!” teriak Cinta meledek. Carmen membalas dengan mengepalkan tangan kirinya dan mengangkatnya ke udara, terus berjalan tanpa menoleh dan berkata sepatah kata pun.

(Bersambung besok)

Cerita bersambung ini dimuat setiap hari di laman penulis http://kompasiana.com/bhayu

Untuk membaca kisah di bagian lain, daftar lengkapnya dapat mengklik tautan:

Ada Asa Dalam Cinta (Sinopsis & Tautan Kisah Lengkap)

———————————————————————

Foto: Antono Purnomo / Reader’s Digest Indonesia (Femina Group)

Grafis: Bhayu MH

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x