Mohon tunggu...
Bhayu MH
Bhayu MH Mohon Tunggu...

Rakyat biasa pecinta Indonesia. \r\n\r\nUsahawan (Entrepreneur), LifeCoach, Trainer & Consultant. \r\n\r\nWebsite: http://bhayumahendra.com\r\n\r\nFanPage: http://facebook.com/BhayuMahendraH

Selanjutnya

Tutup

Novel

Ada Asa Dalam Cinta - Bagian 65

2 Februari 2015   05:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:58 145 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ada Asa Dalam Cinta - Bagian 65
14217582741237221344

Kisah sebelumnya: (Bagian 64)

(Bagian 65)

Sepeninggal Basuki dan Alya, Borne dan Cinta melanjutkan langkah mereka mencari tempat makan malam. Cinta sudah merasa agak lega sekarang. Ia bertemu Alya yang tampak ceria. Kabar gembira juga didapatnya dari tangan pertama, bahwa sahabatnya itu sudah menjadi kekasih dari teman kantor yang juga atasan tidak langsungnya. Tentu saja Cinta senang mendapati kenyataan menggembirakan itu.

Setelah melewati beberapa restoran dan café yang tidak sesuai selera, Borne dan Cinta kemudian memutuskan memilih sebuah restoran dengan hidangan ala Amerika. Namun, bukan resto cepat saji. Mereka pun duduk dan memesan hidangan. Baru kemudian melanjutkan perbincangan yang sejak tadi mengemuka di benak. Begitu ingin bicaranya, sampai-sampaiBorne dan Cinta bicara bersamaan hingga bertabrakan suaranya.

“Asik ya…,” Cinta segera menghentikan ucapannya begitu mendengar Borne juga bicara, “Gak nyangka….” Dan mereka berdua lantas tertawa mendapati kejadian kebetulan itu. Borne lalu mempersilahkan Cinta bicara.

“Oke, gue cuma mau ngomong. Asik banget kita jadi seru ada cowoknya. Kan geng gue cewek semua gitu… Udah, segitu dulu… lu mau ngomong apa?” Cinta balik mempersilahkan Borne.

“Mmmmm… lupa,” ujar Borne singkat.

“Ah, nggak boleh gitu dong! Lu tadi ngomong…nnnggg…. gak nyangka… ayo, terusannya apa? Gak nyangka apa?” desak Cinta.

Borne menghela nafas. Kebawelan Cinta sedari dulu memang tak hilang-hilang. Ia lalu berkata santai, “Nggak… gue itu cuma mau bilang, mmmm…. Gak nyangka kalo Alya jadian sama Mas Basuki… Padahal, baru ketemu minggu lalu kan?”

Cinta mengernyitkan dahi, lalu dengan jari telunjuknya ia menekan dahi Borne. Kalau istilah anak muda “noyer jidat”.

“Ah, belagu lu! Coba liat kita. Jangankan Alya, satu SMA juga bakal kaget kali liat kita jadian gini…,” komentar Alya sambil tertawa kecil.

Borne ikut tertawa, “Ah ya… apalagi kalo inget dulu… Bakalan marah tuh si Rangga kalo tau gue akhirnya jadian sama lu… Hehehe…”

Suasana hati Cinta mendadak berubah begitu Borne menyebutkan nama itu. Agar tidak memburuk, Cinta pun menukas, “Ah, jangan sebut-sebut nama itu lagi deh…”

Menyadari perubahan di air muka Cinta, Borne pun meminta maaf dan mencoba mengalihkan pembicaraan, “Oooh.. .sorri… kembali ke laptop, tadi Alya kayaknya cocok banget ya sama Mas Bas?”

Cinta tahu, Borne tidak sepenuhnya salah. Tetapi sebagai seorang yang moody, memang sulit kalau ia sudah mood swing seperti itu. Maka, untuk mengembalikan suasana hatinya, ia permisi kepada Borne pergi ke kamar kecil.

Di sana, Cinta sebenarnya hanya butuh sedikit air untuk menyegarkan wajahnya. Karena ia tidak ingin make-up-nya rusak, maka ia hanya menggunakan tisu untuk mengelap sedikit matanya. Ia memang tidak memakai eye shadow atau pun bulu mata, sehingga tidak masalah. Ia hanya terbiasa memakai bedak yang dialasi foundation, selain lipstick tentunya. Sekeluarnya dari kamar mandi, Cinta merasa ingin menelepon Carmen. Ia hendak memberikan kabar gembira tentang Alya. Tetapi beberapa kali mencoba menelepon, telepon genggamnya tidak kunjung diangkat juga. Akhirnya, Cinta mengirimkan SMS kepada Milly.

-Hallo Milly, lagi ngapain minggu sore begini?-

Cinta pun lantas kembali ke restoran tempat Borne menunggu. Ia tidak berharap jawaban segera dari Milly. Apalagi, Milly seringkali lupa dimana meletakkan telepon genggamnya saat di kantor atau rumah.

Tetapi kali ini berbeda. Begitu Cinta duduk, ia merasakIan smartphone-bergetar. Cinta menyeruput minuman pesanannya sebelum membuka SMS dari Milly.

-Lagi di jalan… bentar lagi sampe rumah-

Cinta pun membalas SMS itu.

-Oh ya? Lagi sama siapa dari mana? Eh, gue kepo ya?-

Lagi-lagi tak berharap ada jawaban cepat, Cinta meletakkan smartphone-nya di atas meja, di samping piringnya. Sebenarnya ia bukan tipe gadget mania, yang seringkali tak bisa lepas dari gawai. Apalagi di saat berdua dengan kekasih seperti ini. Tetapi entah mengapa, kali ini Cinta ingin bisa melihat setiap komunikasi baru dari gawainya. Toh, ia mematikan koneksi internet. Sehingga tidak seribet itu setiap e-mail masuk atau update status socmed segera tampil.

Dari pengeras suara, terdengarlah alunan lagu dari Ariana Grande featuring Iggy Azalea yang berjudul “Problem”. Entah kenapa, meskipun musiknya bernada ceria, Cinta merasa esensi dari judul itu membuatnya gelisah. Rasanya ada masalah yang belum selesai dan mengganjal di sini. Dan seperti “mestakung” alias “semesta mendukung” -istilah dari Profesor Yohanes Surya yang berarti kebetulan yang seolah diatur alam karena begitu terkaitnya kejadian satu sama lain- Cinta melihat ada seorang pengunjung restoran itu yang memakai jaket sport. Logonya adalah banteng merah-putih. Logo klub basket kenamaan NBA, Chicago Bulls.

Aha!

Basket!

Carmen!

Seketika asosiasi itu terhubung di benak Cinta. Dan ketika smartphone-nya bergetar menandakan adanya SMS masuk, Cinta menekan layarnya dan melihat ada balasan SMS dari Milly. Dan jawaban Milly sudah bisa diduga, walau tetap membuatnya terkejut.

-Nih, lagi sama Carmen. Tadi abis makan di mal dekat Bundaran HI-

Begitu terkejutnya membaca SMS itu, sampai-sampai Cinta nyaris menjatuhkan smartphone-nya karena gemetar. Wajah Cinta pun pias memucat. Borne sempat melihat perubahan itu dan segera memegang tangan Cinta.

“Sayang… ada apa?” tanya Borne dengan penuh pengertian. Ketika mata Cinta bersirobok dengan mata Borne, ia seperti ingin menangis.

“Borne… sori… gue agak gak enak ngomongnya… Bentar… gue minum dulu ya…,” Cinta meminta izin menyeruput ice lime squash-nya. Borne pun ikut meminum ice thai milk tea-nya. Mengusap bibirnya dengan tissue, Cinta kemudian melanjutkan bicaranya.

“Borne… beneran, gue minta lu jangan marah atau bête ya karena gue ngomong ini…,” pinta Cinta.

“Ngomong apa?” Borne malah balas bertanya.

“Eits. Janji dulu. Bilang, gue janji gak akan marah… ayo!” Cinta mendesak, meminta Borne mengulangi kalimatnya.

Menghela nafas, Borne mengikuti kemauan Cinta walau benaknya bertanya-tanya ada apakah gerangan. Ia memegang tangan Cinta erat, yang dibalas oleh gadis itu dengan genggaman yang sama. Malah, Cinta seperti meremas karena kuatir.

“Borne… lu beneran suka sama gue?” tanya Cinta.

Mendapati pertanyaan itu, Borne malah tersenyum. Ia seperti lega karena ternyata cuma itu yang hendak ditanyakan Cinta.

“Ya ampun Cinta… Gue itu kan udah suka sama lu sedari kita SMA. Lu tahu itu kan?” jawab Borne mantap. Matanya menatap tulus dan dalam ke balik mata Cinta yang tengah menatapnya. Ia seperti bisa melihat bayangan dirinya sendiri di bening mata Cinta.

Sambil menggigit bibir, Cinta pun mengelus pipi Borne. Ia memaksakan seulas senyum. Borne pun balas tersenyum.

“Lu hebat Borne. Bisa ngelawan dan naklukkin diri sendiri ampe bisa kayak gini. Gak semua orang bisa… Makanya gue mau ngasih kesempatan buat lu… Setelah 12 tahun….,” ujar Cinta tanpa bermaksud meromantisir suasana yang memang sudah romantis itu. Suasana di restoran Amerika itu sebenarnya tidak romantis, karena bergaya fussion yang hip. Tetapi suasana hati kedua insan itulah yang membuatnya romantis.

Dan Borne lantas merengkuh tangan kanan Cinta yang tengah mengelus pipi kirinya, lalu mengangkat tangan kiri Cinta yang masih digenggamnya. Kedua tangan Cinta itu disatukannya, lantas diangkatnya mendekat ke bibirnya. Lantas, tangan Cinta itu diciumnya dengan lembut… sambil memejamkan mata… cukup lama hingga membuat Cinta berkaca-kaca. Ia bisa menyaksikan betapa tulusnya cinta Borne untuk dirinya. Hingga membuat Cinta nyaris tak tega lagi berkata-kata.

Keromantisan suasana itu harus terpotong oleh pelayan yang mengantarkan pesanan makanan. Yah, dunia memang tak sempurna seperti sinetron atau dongeng. Borne pun terpaksa melepaskan ciumannya di tangan Cinta. Pelayan wanita yang mengantarkan pesanan makanan pun tersenyum dan meminta maaf saat harus memotong adegan yang kalau di film drama pasti dilatari musik membuai itu.

Setelah pelayan berlalu dan semua pesanan makanan sudah diantarkan, Borne kembali meraih tangan Cinta. Tetapi karena kali ini meja sudah penuh, maka tangan kanan Borne menggenggam tangan kiri Cinta di sisi meja yang berbeda dengan pasangan tangan lainnya. Mereka saling menatap dan tersenyum. Cinta sampai bingung hendak mengatakan apa.

“Borne, boleh nggak kita makan dulu?” tanya Cinta.

“Kalau memang itu mau kamu… ayo aja… Daripada dingin kan?” sambut Borne. Ia pun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Cinta. Dan mereka berdua pun perlahan mulai menyantap makanan. Kali ini dari loudspeaker mengalun lagu romantis yang menghanyutkan suasana. Lagu yang terhitung baru karena besutan 2014 dari Ed Sheeran berjudul “Thinking Out Loud”. Membuat suasana makan malam Cinta dan Borne terasa seperti sedang berada di Venesia saja, dengan alunan musik yang membelai hati yang sedang berbunga.

*******

(Bersambung besok) --> Lanjutan Kisah: (Bagian 66)

Catatan Khusus: Karena sempat terjadi kegagalan pengunggahan beberapa kali, maka untuk memenuhi target pemuatan, mulai hari ini Minggu, 1 Februari 2015 hingga Jum’at, 6 Februari 2015 serial novel AADC akan dimuat dua kali sehari.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerita bersambung ini dimuat setiap hari di laman penulis http://kompasiana.com/bhayu

Untuk membaca kisah seluruh bagian yang lain, dapat mengklik tautan yang ada dalam daftar di:

Ada Asa Dalam Cinta (Sinopsis &Tautan Kisah Lengkap)

———————————————————————

Foto: AntonoPurnomo / Reader’s Digest Indonesia (Femina Group)

Grafis: Bhayu MH

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x