Mohon tunggu...
gurujiwa NUSANTARA
gurujiwa NUSANTARA Mohon Tunggu... Konsultan - pembawa sebaik baik kabar (gurujiwa508@gmail.com) (Instagram :@gurujiwa) (Twitter : @gurujiwa) (Facebook: @gurujiwa))

"Sebagai Pemanah Waktu kubidik jantung masa lalu dengan kegembiraan meluap dari masa depan sana. Anak panah rasa melewati kecepatan quantum cahaya mimpi" ---Gurujiwa--

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ego Tertidur 50 Tahun Di Hutan Tak Selamat

30 November 2020   00:49 Diperbarui: 30 November 2020   19:08 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kemana pohon pohon itu? (tribunnews. com)

Kukucek mataku,  kupastikan kembali angka tahan dan waktu terbangun di HP-ku,  benar adanya.  Lalu kucubit tanganku, kutampar pelan mukaku, aku merasa. Sakit,  jelas. Aku sadar dan tidak sedang bermimpi.

Karena masih mengantuk , aku mengarah ke Air Terjun Tirta Nadi,  hendak cuci muka,  aku terkejut, air terjun itu tidak ada. Hutan lebat,  pohon beringin putih raksasa pun tak ada lagi.

Lembah ngarai yang tadinya hijau sekarang gundul,  tanahnya berubah jadi pasir, ya,  semuanya hanya padang pasir disini.  Mataku terkesiap,  batinku goncang. Lalu aku harus kemana?

Tiba tiba datang angin kencang bertiup,  lalu pasir pun berhamburan, menyiram mukaku,  tubuhku,. Ampun.

Angin makin kencang , jadi badai yang membuat lembah yang tadinya hijau indah,  sekarang cokelat pasir sahara. Badai pasir yang mengerikan.  Aku lari kesana kemari,  mencari tempat berlindung.  Mataku perih,  dadaku. Sesak,  sulit bernafas,  pasir dimana mana.

Duk.
Bruk
Dalam kepanikan aku menabrak batu,  lalu tergelincir masuk ke dalam gua karst.  batuan putih,  berkapur, yang licin. Badanku terpelanting, meluncur. Tubuhku terbentur dinding batu alam yang keras,  

Buk !
Kepalaku terbentur  ujung runcing stalaktit gua.  Sakitnya tak terperi. Aku tak sempat memgaduh,  langsung hilang kesadaran. Gelap.  Pingsan...

**

00.28 WIB
30 Novembee 20....

Aku sudah tak berani lagi melihat angka tahun berapa aku terbangun lagi.  Aku pasrah juga takut sebenarnya. Bagaimana bila aku tidak terlempar lebih jauh ke masa depan,  tapi bila justru terlempar mundur ke jaman kuno?

Egoo
Egooo!
Banyak terdengar suara,  suara memanggil namaku, seolah mereka. Memanggilku sebagaimana  dewa sesembahan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun