Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Dan Kanjuruhan Pun Berdarah

2 Oktober 2022   10:25 Diperbarui: 2 Oktober 2022   10:30 220 60 18
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan. Kompas.com/ Imron Hakiki 

Ketika mata
Ketika suara-suara
Ketika isi kepala
Berubah menjadi batu

Maka amuk mencari jalan keluar
Kemarahan pun membakar

Membela cinta yang tak jelas
Hanya soal waktu benci menjadi beringas

Darah telah tumpah
Orang-orang di rumah
menunggu cemas
Adakah salah seorang keluarga mereka masuk dalam hitamnya sejarah

O, Kanjuruhan
Malang, Malang yang malang

Ini bukan pesta yang diharapkan 

***

Lebakwana, Oktober 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan