Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Akhir Perjalanan, Akhirnya

16 Oktober 2021   20:02 Diperbarui: 18 Oktober 2021   22:00 407 58 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi. Foto oleh Larisa Koshkina/ Pixabay.

Suatu saat kita akan mengerti, panjang garis yang kita lalui adalah kumpulan titik yang kita tidak tahu di mana kita akan berhenti.

Dan sering mulai dari awal. Belajar menghadapi jalan yang terjal, juga tak jarang terbentur dengan harapan-harapan yang majal.

Ada pada suatu titik kita berharap pada cahaya dalam ruang keluarga, di sebuah rumah pada suatu masa.

Belajar lagi bagaimana mengajarkan cinta kepada anak-anak kita. Mungkin menulis angka,   mengeja kata, atau menumbuhkan harap saat mereka belajar naik sepeda.

Memakaikan sepatu agar mereka melangkah tak ragu. Memakai seragam, menyandang tas sekolah,  dan di ujung sana mimpi tak selalu digapai mudah.

Saat anak-anak remaja, cinta bukan bercerita soal kawan, tapi bisa berubah menjadi lawan. Anak-anak tiba-tiba menjadi pemberontak, kita harus sering melapangkan dada menampung kata, "tak".

Tentu, mereka merasakan cinta yang lain. Cinta yang berapi. Jikalau tidak pandai menyikapi diri ia dapat membakar, melukai hati.

Beranjak dewasa, mereka menemukan titik baru, menciptakan garis yang lain. Jauh berbeda dengan jalan yang pernah kita lalui.

Mereka, tentu, ingin pula mempunyai cerita sendiri.

Anak perempuan, akan membawa kisah bersama suami dan anak-anak mereka. Yang lelaki, akan merasakan menjadi pemimpin di tanah rantau orang lain.

Kita? Kita pulang pokok, kembali berdua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan