Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tahun Martabak

26 Desember 2020   07:19 Diperbarui: 26 Desember 2020   07:23 237 61 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tahun Martabak
Ilustrasi. Foto oleh Jean-Daniel Francoeur/ Pexels. 

Rasanya sudah takpenting lagi berapa takaran gula, kacang, cokelat, meses, keju, atau juga sekeping ngilu. Seloyang martabak membuat puisi-puisi terbakar. Kata-kata telah dibajak, menjadi ambigu atau sesuatu yang lucu 

Orang-orang berbincang di gardu ronda. Membanting kartu, kopi, dan sekantong tahu Sumedang. Tertawa, entah untuk apa atau karena apa. Berdebat, siapa terpilih jadi menteri siapa pula yang berkemas pulang 

Hidup harus dibuat ngakak. Takingat caranya malu, lupa pula rasa martabak 

Sepuluh alasan bisa ditata, sepuluh lainnya bersalin rupa. Dan para pewarta lebih senang satu ranjang dengan istana. Yang penting isi lambung bisa terjaga 

Kebencian dibenci dengan rasa sangat benci. Ternyata bukan cinta saja yang buta. Tapi benci Juga tak bermata

Dan kita selalu menjadi yang bukan siapa-siapa 

***

Lebakwana, Desember 2020 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x