Mohon tunggu...
Agustinus Robert Tuanubun
Agustinus Robert Tuanubun Mohon Tunggu... Administrasi - sunset

Amatir Radio member, callsign YC8VRA pada Lokal Kota Ambon Daerah Maluku

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ancaman Tsunami terhadap Pulau Ambon

21 November 2013   10:39 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:52 622 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

TSUNAMI

Tsunami umumnya menerjang pantai landai. Asalusul kejadiannya dapat dihubungkan dengan adanya tektonik/gempabumi dan letusan gunung api. Tsunami yang berhubungan dengan gempabumi dan letusan gunung api merupakan bencana alam yang kedatangannya tidak dapat diramal. Gempa-gempa dalam, umumnya tidak berpotensi langsung terhadap terjadinya tsunami. Gempa yang berpengaruh langsung menimbulkan tsunami umumnya merupakan gempa dangkal. Tsunami ditimbulkan oleh adanya deformasi (perubahan bentuk) pada dasar lautan, terutama perubahan permukaan dasar lautan dalam arah vertikal. Perubahan pada dasar lautan tersebut akan diikuti dengan perubahan permukaan lautan, yang mengakibatkan timbulnya penjalaran gelombang air laut secara serentak tersebar ke seluruh penjuru mata-angin. Kecepatan rambat penjalaran tsunami di sumbernya bisa mencapai ratusan hingga ribuan km/jam, dan berkurang pada saat menuju pantai, dimana kedalaman laut semakin dangkal. Walaupun tinggi gelombang tsunami di sumbernya kurang dari satu meter, tetapi pada saat menghempas pantai, tinggigelombang tsunami bisa mencapai lebih dari 5 meter. Hal ini disebabkan berkurangnya kecepatan merambat gelombang tsunami karena semakin dangkalnya kedalaman laut menuju pantai, tetapi tinggi gelombangnya menjadi lebih besar, karena harus sesuai dengan hukum kekekalan energi. Penelitian menunjukkan bahwa tsunami dapat timbul bila kondisi tersebut di bawah ini terpenuhi :

· Gempabumi dengan pusat di tengah lautan

· Gempabumi dengan magnitude lebih besar dari 6.0 skala Ricter

· Gempabumi dengan pusat gempa dangkal, kurang dari 33 Km

Maluku Rawan Bencana

Maluku termasuk kawasan yang memiliki kekhususan dalam kerawanan bencana gempa bumi. Maluku berada di atas 3 lempeng dunia, sehingga mengakibatkan terbentuknya tatanan geologi yang rumit. Wilayah ini sebagian merupakan bagian dari lempeng Eurasia, yang bergerak relatif ke arah tenggara berinteraksi dengan lempeng India-Australia yang bergerak relatif ke arah utara dan lempeng Pasifik yang bergerak relatif ke barat. Zona pertemuan antar 3 lempeng tersebut membentuk palung yang mempunyai kedalaman antara (4.500-7.000)meter yang dikenal sebagai zona subduksi.

Disamping itu, akibat benturan tersebut terbentuk patahan-patahan di Kepulauan Maluku, berarah barat-timur, barat laut-tenggara, utara-selatan dan barat daya-timur laut. Sesar yang berasosiasi dengan sumber gempa merupakan sesar aktif. Gempa bumi yang sumbernya di darat akibat sesar aktif, meskipun amplitudonya tidak terlalu besar sangat mungkin menimbulkan bencana, karena sumbernya dangkal dan dekat dengan pemukiman dan aktivitas penduduk.

Pada daerah pesisir, tsunami dapat memiliki berbagai bentuk ekspresi tergantung pada ukuran dan periode gelombang, variasi kedalaman dan bentuk garis pantai, kondisi pasang-surut, dan faktor-faktor lainnya. Pada beberapa kasus tsunami dapat berupa gelombang pasang naik yang terjadi sangat cepat yang langsung membanjiri daerah pesisir rendah. Pada kasus lainnya tsunami dapat datang sebagai bore – suatu dinding vertikal air  yang bersifat turbulen dengan daya rusak tinggi. Arus laut yang kuat dan tidak lazim biasanya juga menemani tsunami berskala kecil. Berdasarkan jarak sumber penyebab tsunami dan daerah yang terancam bahaya, tsunami dapat dikelompokkan menjadi dua: tsunami lokal (jarak dekat) dan tsunami distan (jarak jauh).

Sejarah Tsunami Di Maluku

Sebanyak 30 % tsunami di Indonesia terjadi di wilayah Laut Maluku dan Laut Banda ini. Aktivitas tektonik di kawasan Provinsi Maluku  termasuk sangat kompleks dan rumit karena terdapat subduksiganda dengan pola yang rumit. Oleh karena itu laut Maluku dan laut Banda termasuk zona rawan tsunami.Catatan sejarah menunjukkan tsunami juga paling banyak terjadi di Laut Maluku dan Laut Banda sebagai dampak dari interaksi lempengan Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia. Pada tahun 1629 terjadi tsunami di sekitar laut Banda dengan run up sekitar 15 meter, disusul pada tahun 1674 dengan run up80 meter, tahun 1852dengan run up8 meter kemudian tahun 1979 dengan run up10 meter. Data lain juga menunjukan bahwa pada selang tahun 1600-2000 telah terjadi 32 kali bencana tsunami di Maluku dimana 28 tsunami diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 tsunami diakibatkan oleh meletusnya gunung api di bawah laut.

Zona Patahan di Pulau Ambon

Di Pulau Ambon sendiri terdapat 10 zona garis patahan. Tiga diantaranya berada pada daerah pemukiman padat penduduk. Jalan Pattimura Ambon naik sampai ke kawasan Batumeja masuk dalam salah satu zona patahan itu. Yang lebih rawan lagi adalah daerah Poka-Rumahtiga karena dilalui tiga garis patahan. Ketiga garis patahan itu berada di Tanjung Marthapons, di belakang Poka Rumahtiga dari Waiyame melintang garis patahan sampai ke Telaga Kodok dan patahan dari Waiyame naik ke arah Utara Pulau Ambon. Dengan kondisi seperti itu membuat kawasan ini sangat rawan. Patahan-patahan ini akan aktif kalau terjadi gempa besar.

Catatan Rumphius

Lonceng-lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh. Demikian penggalan catatan naturalis Georg Everhard Rumphius tentang gempa dahsyat disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Catatan itu dibuat Rumphius pada 1675 dan jadi satu-satunya naskah yang diterbitkannya semasa hidup. Lonceng-lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh.

Petaka itu menewaskan 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram, tetapi juga menewaskan istri Rumphius dan salah satu anak perempuannya.Hila, di dekat Hitu, disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. ”Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas (benteng), mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng (Amsterdam),” tulis Rumphius.Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai. Sebanyak 1.461 orang tewas di Hila.

Sedangkan di Hitu, menurut Rumphius, air laut naik hingga setinggi 3 meter dan menyeret rumah-rumah kompeni. Sedikitnya 36 orang tewas.Dengan rinci Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu. Sedikitnya ada 11 desa yang dideskripsikan Rumphius.Desa-desa itu terentang di sepanjang pesisir utara Jazirah Leihitu, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Di Pulau Seram yang tercatat adalah tempat-tempat di daerah Huamual, seperti Tanjung Sial dan Luhu. Catatan lain juga berasal dari Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Dalam khazanah mitigasi bencana, catatan Rumphius ini merupakan warisan penting karena memberi kesaksian bahwa Nusantara memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004, Rumphius telah menuliskan tentang bencana sejenis di bagian timur Nusantara.Sayangnya, catatan rinci Rumphius itu tak banyak diketahui masyarakat Ambon dan Seram. Nama Rumphius bahkan tidak begitu dikenal.

Catatan penulis: saya sama sekali bukanlah seorang yang memiliki pengetahuan khusus tentang bencana, tsunami maupun geologi ataupun sejarah, saya hanya berusaha merangkum dari berbagai sumber yang menurut hemat saya dapat dijadikan rujukan bagi tulisan singkat saya ini. Ini saya tuangkan setelah membaca Harian Ambon Ekspres yang berjudul Ambon Terancam Tsunami Besar, kalau mau membacanya silahkan buka lewat link beriklut: http://www.ambonekspres.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=1823:ambon-terancam-tsunami-sebesar-aceh&Itemid=497. Saya sendiri telah bertemu dua kali dengan Prof Ron Haris dan beberapa temanya di pulau banda saat saya bersama rekan-rekan amatir radio (ORARI Daerah Maluku) yang tergabung dalam YB8V melaksanakan kegiatan DxPedition di Pulau Banda Naira, disaat yang samatulan sang Profesor dan teman-temanya juga tengah melakukan sosialisasi di pulau Banda Neira dan penelitian di Gunung Api Banda. Suatu pertemua yang sangat berkesan bagi saya, dimana saat yang sama semua orang di negeri ini tengah lelap tertidur tapi sang profesor dan teman-temanya tengah berpikir keras tentang keselamatan umat manusia dari ancanam tsunami.

Sumber:

http://amyaldo.blogdetik.com/2011/01/22/sejarah-gempa-bumi-dan-tsunami-di-maluku/

Analisis Kerawanan Dan Kerentanan Bencana Gempabumi Dan Sunami Untuk Perencanaan Wilayah Di Kabupaten Maluku Tenggara Aratjurnal Sains Dan Teknologi Indonesia Vol. 13, No. 2, Agustus 2011 Digilib.Bppt.Go.Id/Ejurnal/Index.Php/Jsti/Article/Download/895/844

http://ppsp.nawasis.info/dokumen/perencanaan/sanitasi/pokja/bp/kab.malukutenggarabarat/BAB%202%20BPS%20KAB.MTB%20OK.docx

http://lipsus.kompas.com/indocomtech2013/read/2012/08/15/15011394/tsunami.tertua.di.nusantara

dan berbagai sumber lainnya

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan