Mohon tunggu...
Yulianto
Yulianto Mohon Tunggu... Penerjemah - Menulis saja

Menulis saja

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Jangan Percaya dengan Kalimat "Berbukalah dengan yang Manis"

21 Mei 2019   23:40 Diperbarui: 22 Mei 2019   00:01 232
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Berbukalah dengan yang manis

Setiap kali saya mendengar kalimat di atas, selalu terngiang sebuah lagu dari iklan produk teh yang menggunakan kalimat tersebut sebagai tagline yang sempat tayang beberapa tahun silam di televisi saat bulan Ramadan. Saking berbekasnya iklan tersebut, setiap kali saya menggumamkan kalimat di atas pasti selalu dibarengi dengan nada dari lagu iklan teh tersebut.

Berbukalah dengan yang manis memang kalimat yang sering dijadikan tagline dalam beberapa iklan produk makanan yang biasanya ditayangkan di bulan Ramadan. Saking seringnya kalimat tersebut digunakan dalam berbagai iklan, masyarakat pun akhirnya percaya bahwa menyantap makanan manis saat berbuka puasa merupakan suatu keharusan dan dianjurkan.

Bahkan ada beberapa yang menganggap bahwa kalimat tersebut berasal dari ucapan (hadits) nabi Muhammad Saw dan sebaiknya dilakukan agar mendapatkan pahala. Lantas benarkah demikian? jawabannya tidak benar.

Tak ada hadits nabi Muhammad Saw yang menyebutkan secara spesifik bahwa berbuka puasa itu harus dengan yang manis. Hanya saja, dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dari Anas bin Malik disebutkan bahwa nabi Muhammad Saw biasa berbuka dengan kurma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka beliau berbuka dengan kurma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka beliau minum dengan satu tegukan air.

Memang kurma adalah  makanan yang manis tetapi hal itu tidak berarti bahwa semua makanan manis dianjurkan untuk disantap saat berbuka puasa. Justru menurut beberapa ustaz, hanya makanan yang manisnya alami saja, seperti buah-buahan yang dianjurkan untuk dimakan saat berbuka puasa. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa berbuka puasa dengan yang manis merupakan anjuran dari nabi Muhammad sepenuhnya tidaklah benar.

Lantas bagaimana dari segi kesehatan, apakah berbuka puasa dengan yang manis adalah tindakan yang tepat dan dianjurkan untuk dilakukan? jawabannya masih tidak. Sebab tak semua makanan manis dianjurkan untuk disantap saat berbuka puasa. Dari segi kesehatan sendiri, British Nutrition Foundation memberikan rekomendasi tentang apa yang sebaiknya disantap saat berbuka puasa.

Pertama-tama, sebaiknya minumlah setidaknya dua gelas air putih (500 ml) terlebih dahulu untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Setelahnya, kita boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula untuk memulihkan energi. Tetapi, gula yang sebaiknya dikonsumsi saat berbuka puasa bukanlah gula pasir atau gula buatan lainnya. Gula yang disarankan untuk disantap adalah gula alami yang terdapat dalam sayur atau buah.

Sayangnya orang-orang di Indonesia pada umumnya lebih sering memilih untuk mengonsumsi makanan manis yang mengandung gula tambahan seperti sirup, teh dll saat berbuka puasa. Padahal mengonsumsi makanan manis dengan gula tambahan saat berbuka apalagi secara berlebihan tidaklah baik bagi kesehatan. Alasannya karena dengan mengonsumsi gula tambahan yang tidak murni maka hal itu dapat meningkatkan lonjakan kalori dalam tubuh. Terlalu banyak kalori yang ditumpuk dalam tubuh pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan berat badan selepas bulan Ramadan.

Oleh karena itu, janganlah sembarangan mengonsumsi makanan dan minuman manis saat berbuka puasa. Selain sebagai ibadah, puasa juga adalah upaya untuk lebih menyehatkan tubuh kita. Jangan sampai hanya karena sebuah kalimat anjuran yang belum pasti kebenarannya lantas merusak tujuan puasa kita yang ingin membuat tubuh menjadi lebih sehat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun